April

April
27



Setelah beberapa hari, akhirnya April diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dirga membawanya pulang ke rumah orang tuanya, tentunya atas permohonan Bunda Mona. Masih banyak urusan bisnis yang harus diselesaikan Arya di kota itu, sehingga mereka masih membutuhkan beberapa hari lagi di kota tersebut. Sebenarnya, April sudah sangat merindukan Bintang. Entah kenapa, setiap kali melihat bayi tersebut, hati April selalu terasa damai.


Sore itu, Bunda Mona mengajak April ke mall. Saat sampai di depan mall, Bunda Mona membantu April turun pelan-pelan dari mobil dengan cara memapahnya. April yang biasanya digendong oleh Arya untuk naik-turun mobil merasa sangat kesulitan. Dirga yang kebetulan berada di sana langsung membantu.


"Bolehkah saya membantu?" ucap Dirga.


"Tentu boleh," ucap Bunda Mona sambil berusaha memapah April menuju kursi rodanya.


Dirga kemudian menggendong April menuju kursi rodanya. Saat Dirga menggendong April, April menoleh dan menatap orang yang membantunya. April baru menyadari bahwa orang yang membantunya adalah seseorang yang telah dia rindukan selama ini.


"Mas Dirga," batin April. Jantung April berdetak kencang, nafasnya tidak beraturan. Perasaan yang sama seperti empat tahun yang lalu.


"Mata ini, wajah ini," batin Dirga yang merasa seperti sudah mengenalnya lama, sambil menatap wanita yang digendongnya.


Dirga kemudian menurunkan April di kursi rodanya. April terus menatapnya, begitupun Dirga.


"Terima kasih ya, Mas Dirga," ucap Bunda Mona yang mengenal Dirga sebagai teman kuliah anaknya yang dulu sering datang main ke rumah.


"Kok ibu tahu nama saya?" tanya Dirga heran, karena amnesia membuatnya melupakan segalanya termasuk dirinya sendiri.


"Masak kamu lupa sama Bunda. Bunda ini bundanya Arya," jelas Bunda Mona.


"Arya," batin Dirga. Seperti nama yang tidak asing bagi Dirga, tapi Dirga tidak bisa mengingatnya.


"Ada apa dengan Mas Dirga? Dia seolah-olah tidak mengenaliku. Apa karena Kirana? Apa karena aku cacat? Jadi dia pura-pura lupa, untuk menghindari aku. Di rumah sakit dia juga dia tidak mengenali Mas Arya. Kamu sudah banyak berubah, Mas," batin April, yang terus bertanya-tanya di dalam hatinya.


...****************...


Arya menjadi idaman para gadis-gadis, bahkan banyak yang terang-terangan mengejar-ngejar Arya, tapi dia tidak pernah tertarik pada satu pun. Itulah yang menjadi alasan Bunda Mona sangat senang dan menerima April, karena di usianya yang sudah memasuki kepala tiga, baru ini Arya memperkenalkan seorang wanita yang dicintainya.


"Hai, Jeng. Apa kabar?" ucap Jeng Andin dan temannya kepada Bunda Mona yang mendorong kursi roda April.


"Baik Jeng, nggak nyangka kita bertemu di sini," ucap Bunda Mona sambil saling cipika-cipiki dengan teman-temannya.


"Siapa ini, Jeng? Keponakannya kah?" tanya Jeng Andin sambil menatap ke arah April.


"Dia calon menantuku, pacar Arya," ucap Bunda Mona menjelaskan.


"Apa? Coba dulu Arya nikahnya sama Aurel (anaknya), ternyata Arya kelasnya gadis cacat ya," ucap Jeng Andin sambil menatap April sinis.


"Apa maksud Jeng Andin? Menghina calon mantan ku?" ucap Bunda Mona mulai marah.


"Maksudku begini ya, Jeng. Calon mantu ini kan pakai kursi roda. Gimana mau ngurus suaminya, ngurus diri sendiri aja susah, jauh sama Aurel," ucap Jeng Andin lagi yang membuat Bunda Mona semakin marah.


"Iya memang kelasnya jauh, Aurel cantik dan berpendidikan. Tapi sayang, pemalas tidak mau kerja, dan hanya menghabiskan uang orang tuanya untuk berfoya-foya. Sedangkan calon mantuku ini menghasilkan ratusan juta dalam waktu sebulan. Jadi kalau dia menikah dengan putraku, dia tidak akan merepotkan putraku," ucap Bunda Mona sinis sambil berlalu, mendorong kursi roda April.


...****************...