April

April
52



Hari pernikahan itupun akhirnya telah tiba Dirga memilih sebuah hotel berbintang lima untuk prosesi ijab qobul dan resepsi pernikahan nya.


April sudah siap dengan kebaya putihnya dan riasan ala pengantin adat Sunda. Semua orang terpana melihat kecantikan wanita 32 tahun itu, tak terkecuali Dirga yang tak berkedip memandangnya.


Prosesi ijab qobul berjalan dengan lancar, semua orang menitipkan air mata tak terkecuali (Oma, Bunda Mona, dan Pak Wisnu) yang telah menghadiri acara tersebut.


Karena pernikahan pertamanya dengan April di gelar begitu sederhana, kali ini Dirga benar-benar menggelarnya begitu meriah. Dirga juga mengundang para rekan bisnisnya.


"April," ucap Bunda Mona menemuinya setelah semua prosesi selesai.


"Bunda," April menangis dan berlari memeluknya dengan masih menggunakan baju resepsi.


"Jangan menangis, Nak," ucap Bunda Mona sambil menghapus air mata di pipi April.


"Bagaimana sekarang kabar dia, Bunda?" ucap April sambil menangis sesenggukan menanyakan Arya.


"Berbahagialah dengan Dirga, tolong jangan mengingatnya lagi, sayang," ucap bunda Mona sambil memeluk April lagi.


"Apapun yang terjadi kamu tetap menjadi anak Bunda," ucap Bunda Mona lagi sambil menangis.


Dirga dan April menghabiskan malam pengantin mereka dengan menginap di hotel tempat mereka menyelenggarakan pernikahan.


Melihat Dirga masuk ke kamar setelah selesai menemui para kerabat dekatnya, April yang lebih dulu berada di kamar langsung berpura-pura tidur miring menghadap tembok. Karena April merasa belum siap jika Dirga meminta haknya.


"Cantik, kamu sudah tidur?" ucap Dirga sambil memeluk April dari belakang.


"Kenapa malah nempel-nempel?" batin April karena merasa tidak nyaman.


Di luar dugaan, Dirga malah mendekatkan wajahnya ke leher April dan membuat tanda merah di sana.


"Berhenti!" ucap April seketika bangun dan langsung berlari ke depan cermin dan melihat lehernya sudah memerah.


"Ternyata kamu masih sepolos 5tahun lalu," batin Dirga sambil tersenyum jahat ke arah April.


"Sayang kita kan sudah menikah, berarti kamu sudah menjadi istri aku, jadi...." ucap Dirga terputus tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat perubahan di raut wajah April yang terlihat sangat ketakutan.


"Mas boleh aku tidur, aku merasa sangat lelah," ucap April dengan ekspresi memelas.


"Sini," ucap Dirga sambil menepuk ranjang empuk itu.


April perlahan mendekat dengan gemetaran Takut Dirga akan berbuat nekat. April menaiki ranjang perlahan, Dirga memeluknya dan menyelimutinya.


"Tidurlah, Aku Dirga suamimu bukan vampir, jadi aku tidak akan pernah menghisap darahmu," ucap Dirga sambil mengelus pucuk rambut istrinya yang mulai terlelap dalam tidurnya.


"Aku sudah memenuhi janjiku padamu Arya, aku akan menjaganya seperti yang kamu inginkan" batin Dirga.


Dirga tanpa henti memandangi wajah cantik istrinya yang tidur memeluk dirinya. Dia merasa sangat bahagia bisa memiliki wanita yang sangat dicintainya, hingga membuatnya kesulitan untuk tidur malam itu.


Pagi...


April mulai membuka matanya perlahan ketika mencium Aroma steak daging kesukaannya. April beranjak bangun dan menatap sekeliling. Dia mendapati suaminya sudah bangun terlebih dahulu, dan menatapnya dari sofa.


"Sayang mandilah dulu, sarapannya sudah siap," ucap Dirga.


"Maafkan aku Mas, aku bangun kesiangan," ucap April turun dari ranjang.


"Lain kali aku akan membuatmu bangun lebih siang dari ini," ucap Dirga sambil meminum tehnya.


Tak ingin Dirga terus menggoda nya, April langsung buru-buru masuk kedalam kamar mandi.


...****************...