
Dirga melajukan mobilnya dengan kencang karena khawatir dengan kondisi Oma-nya.
"Mas, nyetirnya hati-hati ya," ucap April mengingatkan Dirga.
Namun Dirga tidak mendengarkannya karena pikirannya sudah campur aduk. Peristiwa nahas itu pun akhirnya terjadi: mobil yang dikendarai Dirga menabrak pembatas jalan dan terperosok ke dalam jurang.
Untungnya, polisi dan pengguna jalan yang melintas di jalan tersebut cepat mengevakuasi Dirga dan April.
Arya yang baru pulang dari hotel tempat acaranya ulang tahun terjebak kemacetan akibat kejadian tersebut. Arya melihat Dirga dan April di gotong ke dalam ambulance, lalu segera bergegas mengikutinya.
Setelah sampai di IGD, Arya memastikan bahwa yang dilihatnya adalah benar Dirga dan April. Setelah memastikan semuanya, dia segera mengambil tanggung jawab atas semua keperluan April dan Dirga di rumah sakit. Arya juga sudah menghubungi Oma yang ternyata berada di rumah sakit yang sama karena asmanya kambuh.
Malam itu, April langsung masuk ruang operasi karena mengalami patah tulang kaki, sedangkan Dirga masih belum sadarkan diri karena terjadi benturan keras di kepalanya.
Arya mondar-mandir di depan kamar operasi menunggu April keluar.
"Operasi Mbak April pasti berjalan lancar, Mas," ucap Bima menenangkan Arya yang terlihat sangat cemas.
"Mas Arya perhatian banget sama mbak April, kaya nunggu istrinya saja," batin Bima.
"Di mana April?" sapa Bu Arini (ibunya April) yang dihubungi oleh Oma karena April kecelakaan.
Bima mengenal ibunya April dengan baik karena ia menjadi perantara Oma untuk menyampaikan segala sesuatu perintah dari Oma, seperti membeli rumah, membangunkan usaha, dan beberapa bantuan untuk keluarga April. Ibunya April hanya mengenal Oma sebagai bosnya April dan belum mengetahui bahwa April sudah menikah dengan cucunya.
Pintu kamar operasi akhirnya terbuka setelah April dibawa menuju ruang rawat. Bu Arini, Arya, dan Bima langsung mengekor di belakang perawat.
"Masss Dirga," April mulai sadar dan berteriak histeris. Bu Arini langsung memeluk putrinya, sementara Arya merasa lega karena April sudah sarankan diri.
Hari berikutnya, Oma yang sudah sehat diperbolehkan pulang, tetapi ia tetap tinggal di rumah sakit untuk menjaga cucunya yang masih dirawat. Siang itu, Oma mendatangi ruangan dokter untuk menanyakan kondisi April dan Dirga. Di ruang rawat April, Oma membawa selembar kertas.
"Oma, Mas Dirga bagaimana?" tanya April yang masih menahan sakit.
"Dirga baik. Oma akan menjaganya. Maksud kedatangan Oma ke sini ingin menyampaikan sesuatu, disaksikan semua tentunya," ucap Oma sambil menatap seluruh orang yang berkumpul di sana (Arya, Bima, Mbok Darti, dan Bu Arini).
"April, kamu mengalami patah tulang kaki sebelah dan cidera tulang belakang. Kata dokter, kemungkinan besar kamu akan mengalami kelumpuhan. Oma tidak mau jika Dirga, cucu Oma satu-satunya, tidak memiliki masa depan, jadi Oma harap kamu bisa mengerti," ucap Oma sambil mengelus rambut April.
"Apa maksud Oma?" tanya April sambil menangis. Sementara semua orang di ruangan itu hanya bisa diam menyaksikan dan bertanya-tanya dalam hati mereka masing-masing.
"Oma membebaskan kamu dari surat perjanjian kita satu tahun lalu. Tolong jelaskan, Oma," pinta April, menarik tangan Oma.
"April, pulanglah ke ibumu. Kamu tidak perlu khawatir, semua yang Oma berikan tidak akan Oma minta kembali, semuanya sudah gatas namamu. Oma juga akan memberikan uang imbalan Rp 35 miliar kepadamu, biar asisten Oma yang mengurusnya. Lupakan Dirga. Pergilah. Oma akan memalsukan kematianmu agar Dirga bisa melupakanmu, dan Oma harap semua yang ada di sini bisa ikut bekerja sama," ucap Oma sambil beranjak pergi sambil menutup mulutnya menahan tangis karena dia sebenarnya sangat menyayangi April.
Sementara itu, Bima masih berada di dalam ruangan dan menjelaskan pada Bu Arini dan Arya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Arya hanya bisa mengusap wajahnya kasar mendengar cerita tentang April, merasa ikut tertekan, namun ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menjaga dan menyemangati April. Bu Arini menangis sejadi-jadinya tak menyangka putrinya mengorbankan dirinya untuk adiknya.
...****************...