April

April
APRIL



Matahari perlahan terbangun dan samar-samar cahaya nya mulai terpancar, sedikit demi sedikit menghapus titik-titik embun di dedauan dan sedikit menghangatkan tubuh dari udara dingin, namun aroma hujan yang menyentuh tanah masih tercium oleh indra manusia walau samar-samar.


Gadis itu melirik kearah jam dinding nya, terlihat lah mata nya yang sembap karena menangis sepanjang malam, lalu kembali ia benamkan wajah nya di tumpukan bantal empuk nya untuk menyembunyikan teriakan dan isakan tangis nya. Ia menggenggam rambut nya dengan erat dan sedikit menarik dengan kasar, "AARRGGHHH" teriak nya.


APRIL ANINDIRA nama gadis itu, ia lahir didalam keluarga yang sangat berkecukupan bisa dibilang kaya raya, dengan sikap yang dingin dan jutek terhadap semua orang.


Yang mana ADELIA KIRANA dan ABIAN ABRAHAM sebagai orang tua menginginkan anak tunggal nya itu untuk menikah dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang sepantaran dengan keluarga mereka.


April sangat tidak menyukai pola pikir orang tua nya, dimana masih saja mempunyai sistem perjodohan di era modern seperti sekarang.


Mereka sudah berjanji dengan seseorang, yang tidak lain orang itu adalah partner bisnis ayah April. Sudah jauh jauh hari mereka merencanakan untuk menjodohkan April dengan anak partner nya tersebut.


DAVIN KENZO JULIAN adalah anak dari partner bisnis ayah April, yang tentu saja juga berasal dari keluarga yang sangat kaya raya.


Davin sudah menjadi direktur muda di salah satu perusahaan ayahnya, dan perusahaan itu sangat berhasil ditangan Davin. Tentu saja wanita manapun pasti akan mau jika di jodohkan dengan Davin.


Namun lain hal nya dengan April, April yang masih berkuliah tentu saja tidak setuju dengan perjodohan ini, lebih tepatnya ia memang tidak mau di jodoh-jodohkan.


***


Hari yang cerah, namun tidak dengan keadaan rumah itu, "brakk" April membanting pintu dengan keras, dan duduk di tepi kasur nya, "mungkin ini akan mengubah hidup gue dan membuat gue akan menyesali ini seumur hidup" ujarnya, memikirkan jika ia menuruti kemauan orang tua nya.


"April... April..." ujar Ibunya dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar April.


"Apalagi! Sudah ku bilang aku tidak mau, bagaimana bisa aku menikah dengan pria itu, sedangkan aku tidak menyukai pria itu, bahkan tidak pernah mengenal nya sama sekali" jelas April berteriak.


***


Dilain sisi...


Davin menghentak gelas yang ia genggam di meja makan, mungkin jika sedikit lebih keras lagi, gelas itu akan pecah, ayahnya yang terkejut mendengar itu dengan cepat menatap Davin.


"Aku tidak bisa menikah dengan perempuan yang aku saja tidak pernah bertemua dengan nya, bagaimana bisa aku mencintai nya, kalaupun dipaksakan mungkin hanya berjalan beberapa bulan, lalu kami cerai" jelas Davin.


"Kalau begitu kita makan malam dengan nya hari ini, bagaimana?"


Davin menghela napas berat, melihat ayah nya yang juga tidak paham dengan ketidakmauan nya itu, "terserah" ujarnya sambil beranjak pergi.


Sekilas ia mendengar ayahnya berbicara dengan seseorang ditelpon, yang ia duga adalah orang tua perempuan itu.


***


Direstoran...


"Kenalan dulu" suruh ayah Davin.


Davin mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan April, namun beberapa detik April mendiamkan, lalu menyambut tangan itu, dengan senyum keterpaksaan nya .


Lalu terlihat Davin dan April yang hanya berdiam dengan wajah datar mereka masing-masing.


April memutar bolah matanya mendengar itu, ia mengelus lehernya, tanda ia sudah tidak nyaman berada disana, lalu ia tersenyum kecil namun dibuat-buat.


Dan Davin juga begitu.


"Aku mau ke toilet sebentar" ucap April, lalu dengan cepat pergi dari situ.


Sesampainya ditoilet, ia berbicara sambil bejalan bolak balik, "gue udah gak tahan mau pergi, tapi gimana ya" gerutu nya sambik menggigig kecil jari nya. Beberapa menit ia disana, dan waktunya kembali ke meja itu, pikirnya.


April keluar dari toilet sambil memfokuskan pandangan pada layar ponsel nya, tiba-tiba ia menabrak seorang laki-laki bertubuh atletis dan lebih tinggi darinya, "e-eh...maaf" ujarnya, lalu mendongakkan kepala nya melihat siapa laki-laki didepannya itu.


"Lo!..." ujarnya terkejut melihat laki-laki itu ternyata Davin.


Davin membuang wajahnya dari pandangan April, "Lo lagi, lo lagi" ujarnya menyeringai.


"Gue tarik kata-kata maaf tadi! Gak sudi minta maaf sama lo" ujar April lalu meneruskan langkahnya, sedikit menyenggol badan Evano.


"Huhff... Perempuan seperti itu tidak cocok dengan ku, kalau memang pernikahan ini benar-benar terjadi, mungkin akan bertahan hanya beberapa hari" gumam Davin, dan menuju toilet.


"Eh April balik, tapi sekarang Davin yang ketoilet" ujar Abraham ayah April.


"Benar-benar jodoh" sambung ayah Davin.


"Jodoh jodoh, jodoh dari mana sih...perkara toilet doang udah dibilang jodoh" ucap nya dalam hati.


Tidak lama Davin datang, "nah ini dia" ujar ayah Davin, Davin melirik wajah April yang benar-benar merengut, menandakan tidak suka dengan nya.


"Wajah nya membuatku malas berlama-lama disini" ucap Davin dalam hati, "apalagi kalau serumah, bisa-bisa aku tidak mau pulang."


April melihat Davin yang melirik kearahnya, "apaan sih liat liat ke gue, berharap gue bakal suka gitu sama dia" ujar April dalam hati, lalu memutar bola matanya.


Makanan datang, April dengan cepat mengambil makanannya, dan menyantap nya tanpa berkata apapun, ia ingin cepat-cepat pergi. Setelah selesai, namun yang lain belum, "ini kesempatan" gumamnya. Ia berdiri, "mau ke..." belum sempat ibunya selesai bicara, "Aku pergi duluan ya...dadah" potongnya lalu pergi dengan cepat dari sana.


Ibunya tidak enak dengan ayah Davin, "maafkan April, dia memang suka begitu kalau ada urusan mendadak" ungkap nya.


"Tidak apa, April sangat cantik ya" celetuk ayah Davin, sambil menyenggol tangan Davin, "pasti Davin langsung suka" sambungnya.


Davin hanya terkekeh mendengar itu, ia sama sekali tidak menyukai April.


-BERSAMBUNG-


Bagaimana bisa suatu hubungan akan berjalan mulus, kalau ada perasaan yang bercabang didalam nya, mungkinkah akhirnya akan benar benar bersatu.


Jangan lupa vote dan komen nya ya sayang ku🄰 semoga kalian selalu menyukai cerita iniā£ļø