April

April
Mahar



"Aku harap Mama sudah tidak apa-apa," ucap April menghawatirkan keadaan Nadira sambil memberesi kontrakan yang akan dia tempati bersama Airlangga.


Pagi harinya setelah acara pernikahan mereka semalam, April dan Airlangga memutuskan untuk mengontrak karena mereka sudah menikah. Mereka memilih kontrakan tiga kamar yang berisi kamar tidur, ruang tamu, dapur serta kamar mandi karena harganya lebih terjangkau.


Karena mengurusi Nadira yang jatuh pingsan April sampai Lupa menanyakan perihal mahar yang diberikan kepadanya dan lupa menghabiskan malam pertamanya dengan suaminya.


"Mama akan baik-baik saja," ucap Airlangga yang mulai memanggil Mama ke mertuanya.


Dengan telaten Airlangga membantu membersihkan kontrakan dan menata barang-barang hingga bersih dan rapi.


Waktu Makan siang telah tiba setelah selesai beberes Airlangga mengajak April untuk makan di luar karena April yang sibuk beberes kontrakan belum menyempatkan diri untuk memasak makanan.


"Untung dia melupakan soal mahar itu," batin Airlangga sambil menatap ke arah istrinya yang sedang lahapnya menikmati sajian makanan di warung makan padang itu.


"Darimana kau mendapatkan uang untuk memberikanku mahar sebanyak itu?" ucap April yang telah selesai makan.


"Baru saja aku merasa Aman," ucap Airlangga sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Kau tidak berhutang kan? karena termakan omongan Luna," tanya April lagi.


"Tentu tidak," ucap Airlangga mencoba menenangkan April yang ekspresi wajahnya mulai berubah.


"Itu warisan dari nenekku," ucap Airlangga mencari Alasan.


"Sebanyak itu?" ucap April heran karena mengingat tempat tinggal orang tua Airlangga di kota B yang dia kunjungi waktu itu.


"Iya nenek ku dulu juragan tanah dan aku cucu satu-satunya makanya aku lah yang mewarisi semuanya," ucap Airlangga berbohong.


"Seharusnya itu kau gunakan untuk kehidupanmu bukan malah kau berikan kepadaku," Sahut April.


"Baiklah aku terima mahar itu, kita akan menggunakannya untuk keperluan berdua nanti," jawab April yang membuat Airlangga terkesan, dia merasa sangat beruntung karena mendapatkan istri yang tidak memandangnya dari segi harta benda yang dia miliki.


Sedangkan Nathan yang juga berada di warung Padang yang sama, mengacak-acak rambutnya frustasi karena Luna terus mengajaknya untuk bertemu sedangkan uang gajinya sudah habis di pertengahan bulan untuk membayar cicilan rumah KPR serta untuk rental mobil untuk menemui Luna dan mentraktirnya makan ditempat yang elit.


"Lho itukan Nathan," ucap April sambil menoleh ke belakang kursi suaminya duduk karena mereka duduk saling berhadapan.


"Iya, kenapa dia terlihat sedih," ucap Airlangga yang ikut menoleh kebelakang karena duduk membelakangi Nathan.


"Tan," panggil Airlangga yang membuat Nathan mendatangi meja pengantin baru itu.


Nathan mulai menceritakan semua keluh kesahnya kepada sahabatnya, dia merasa sudah tidak kuat menjalani kepura-puraan ini lagi.


"Lebih baik kamu segera jujur Tan, orang yang benar-bena tulus akan menerima kamu apa adanya," ucap Airlangga mencoba menasehati Nathan tanpa menceritakan masa lalunya yang tidak mengenakan bersama Luna.


"Aku takut kehilangan dia ga, aku belum siap," ucap Nathan dengan wajah memelas.


"Yang dikatakan suamiku itu benar," ucap April yang membuat Airlangga berbunga-bunga karena mendengar panggilan itu dari mulut April.


"Apa kamu bilang tadi?" ucap Airlangga menggoda istrinya.


"Apa?" sahut April jadi salah tingkah.


"Ah sudahlah aku pusing, malah kalian romantis-romantisan," ucap Nathan frustrasi sambil meninggalkan rumah makan Padang itu.


Sedangkan Airlangga terus memaksa istrinya untuk mengucapkan kata yang ingin di dengarnya itu lagi, tanpa menghiraukan kepergian Nathan yang sedang terperangkap dalam permainannya sendiri.


...****************...