
April mulai menjalankan rencana nya, "mah...kita ketemu sama Davin dah papah nya ya malam ini" ujarnya, memegangi tangan ibunya.
Adel sedikit bingung dengan sikap anaknya, yang sangat berubah, tapi ia juga senang karena April sepertinya mulai membuka hati untuk Davin, "oke sayang" ujar Adel tersenyum sumringah.
***
"Pah...kita malam ini ketemuan lagi sama April dan orang tuanya" ujar Davin.
"Kamu serius?" tanya ayahnya penasaran.
"Ya" jawab Davin dengan sangat gembira, dan ayah nya mengiakan.
Davin menelpon April untuk memberitahu bahwa ayahnya setuju bertemu April dan orangtua nya.
"Hallo... Malam ini jadikan? Ayah ku udah setuju" jelas Davin.
"Iya ibu ku juga" jawab April.
Jam sudah menunjukan pukul 18.00.
Davin dan ayah nya on the way ke restoran tempat mereka janjian.
Tidak lama setelah mereka datang, April dan orangtua nya juga datang, mereka duduk di satu meja yang sama.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, April memberi kode pada Davin agar ia berbicara, namun Davin menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mau, melihat itu April memutar bola matanya, dan mendengus kesal, ia berusaha untuk tenang.
"Mah...Pah...Om...Davin" ujar April, lalu mata mereka tertuju pada April.
"Sebenernya April mau minta maaf, April benar-benar tidak bisa menerima perjodohan ini, April sudah ada pilihan sendiri" jelasnya. Ibu dan ayah nya terkejut mendengar pernyataan April, karena April tidak pernah mengenalkan seseorang pada mereka sebelumnya, sekaligus mereka menahan malu dengan ayah Davin.
"Ehmm... Saya juga mau minta maaf sebelumnya... Saya sudah mempunyai kekasih" ujar Davin gugup.
Ayahnya menoleh padanya, "Daviin..." Ketus ayahnya, "kamu membuat ayah malu dihadapan orangtua April.!!" tegas ayahnya.
Davin sedikit menutup matanya mendengar bentakan dari ayahnya, "Tapi cinta tidak bisa dipaksa pah!" terangnya.
April semakin gugup melihat Davin dan ayahnya yang beradu mulut, "sudah om...kami memang tidak saling cinta" ungkap April.
Namun April tetap menolak.
"Pokoknya perjodohan kalian tetap berlanjut!" sahut ayah April. Membuat Davin dan April tercengang, karena rencana mereka sia-sia.
"Minggu depan kalian menikah" tambah Ayah Davin. Membuat mata mereka berdua semakin terbelalak.
Lalu suasana tenang, April dan Davin saling diam, hanya orangtua mereka yang membahas tentang pernikahan mereka.
Kali ini Davin pamit lebih dulu, "aku ada urusan, aku duluan ya pah, om, tante" ujarnya tanpa pamit April.
April pergi menyusul Davin. Ia melihat Davin yang sudah hampir masuk mobil, dengan cepat ia lari, dan menarik baju Davin dari belakang. "Hei..." tegurnya.
"Apalagi? Pernikahan kita akan tetap berlangsung" ketus Davin kesal, dan masuk kemobil nya, tapi lagi-lagi ditarik oleh April.
Davin merapikan bajunya yang hampir berantakan karena ditarik oleh April.
"rencana lo yang bikin kaya gini!!" ujar April menyalahkan Davin.
"Tapi kan kita sudah menyetujui nya dari awal, berarti bukan salah ku lagi" jelas Davin, memasuki mobilnya lalu pergi meninggalkan April.
April kembali kedalam restoran itu dan kembali duduk dengan tenangnya.
"Kemana dia pergi?" tanya ayah Davin pada April, April menggelengkan kepalanya dengan wajahnya yang tegang karena takut ayah Davin akan marah.
"Ehm... April kan masih kuliah... Apa tidak diundur aja pernikahannya" ucap April pelan.
"Bisa sambil kuliah" sahut ayah Davin, April sedikit kesal dengan ayah Davin saat itu, ibu dan ayahnya juga menyetujui ucapan Ayah Davin.
***
Mereka pulang kerumah, April menyetir mobilnya dengan kencang karena kesal, "April, bisa bawa mobil biasa aja gak" tegur ibunya.
Ayahnya terkekeh melihat April seperti itu, sepanjang jalan wajahnya hanya merengut.