April

April
42



Arya sudah mendapatkan perawatan dan harus dirawat inap karena harus mendapatkan penanganan lanjutan dari dokter. Dirga memutuskan tetap di rumah sakit untuk menemani Arya karena dia juga merasa bersalah.


"Mas, kamu harus makan yang banyak biar cepat sembuh," ucap April sambil menyuapi Arya dengan telaten.


"Aku merasa mual dengan makanan ini," ucap Arya lemah.


"Baiklah, aku akan keluar sebentar untuk membelikan beberapa makanan untukmu," ucap April yang hanya di balas anggukan oleh Arya. Sedangkan Dirga terus berusaha mengendalikan dirinya dari rasa cemburu.


Tak selang beberapa lama dokter Datang memeriksa keadaan Arya. Ditemani Dirga, Arya mendengarkan penjelasan dari Dokter yang menanganinya. Bak di sambar petir di siang hari Arya di nyatakan menderita Leukimia.


"Aku telah kalah, Dir," ucap Arya setelah Dokter keluar dari kamar rawatnya.


"Demi April kamu harus sembuh," Jawab Dirga mencoba menguatkan Arya.


"Kamu dengar kan penjelasan Dokter tadi, hidupku tidak akan lama lagi," ucap Arya lemah.


"Tolong kamu jangan berbicara seperti itu." ucap Dirga merasa sedih. Biar bagaimanapun dulu mereka bersahabat dekat.


"Tolong rahasiakan semua ini dari April, biarlah aku berpamitan dengan caraku sendiri," ucap Arya lagi sambil menatap kearah Dirga.


Belum Dirga menjawab, pintu terbuka April datang membawa beberapa kantong makanan. Dirga dan Arya berpura pura seperti tidak terjadi apa-apa. Arya juga meminta Dokter untuk merahasiakan penyakitnya dari siapapun terutama April.


...****************...


Arya yang sudah di perbolehkan pulang kondisinya makin hari makin melemah, tubuhnya makin kurus. Tapi dia selalu berusaha Terlihat baik-baik saja di depan April. Hingga April Tak menyadarinya. April juga mengurungkan niatnya untuk pindah rumah atas permintaan Arya. Hubungan Dirga dan Arya pun juga semakin membaik, bahkan Dirga lah yang selalu mendampingi Arya untuk kontrol rutin di rumah sakit.


"Dir... maukah kamu mengabulkan 1 permintaanku?" ucap Arya pada Dirga yang sedang fokus menyetir mobil setelah mengantar Arya dari rumah sakit untuk kontrol.


"Katakanlah," jawab Dirga.


" Tolong jaga April, saat aku tiada nanti," ucap Arya lemah.


"Berjanjilah..." ucap Arya lagi.


Dirga hanya menganggukkan kepalanya Agar pikiran Arya lebih tenang, dalam hati Dirga dia masih sangat menginginkan April tapi bukan cara seperti ini, dia harus kehilangan sahabatnya.


Sesampainya dirumah Arya, ternyata Bu Arini sudah menunggu kedatangan mereka.


"Kalian sekarang kok sering pergi berdua?" ucap Bu Arini curiga.


"kami ada urusan bisnis, Bu"ucap Arya sambil duduk di sofa bersama Dirga.


"Ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu, Arya" ucap Bu Arini menatap Arya serius.


Dirga yang hendak pergi dicegah oleh Arya, dia ingin Dirga menemaninya. Akhirnya Bu Arini mulai membicarakan maksud kedatangannya.


"Arya, kamu kan sudah berjanji mau melamar April lalu kapan?" ucap Bu Arini memberanikan diri.


"Arya tidak bisa menikahi April, Bu," ucap Arya lirih.


"Tapi kenapa, Nak? Apa kamu cuma mau mempermainkan April?" ucap Bu Arini sedih.


Arya menyerahkan sebuah surat dari pihak rumah sakit yang menyatakan dia menderita Leukimia.


"Tolong Ibu, rahasiakan semua ini dari April," ucap Arya sambil menatap kosong ke arah Bu Arini.


"Maafkan Ibu Nak, Ibu sudah berprasangka buruk padamu," ucap Bu Arini menangis.


Selama ini Bu Arini sudah mengganggap Arya seperti anaknya sendiri. Dia merasa terpukul dengan apa yang dialami Arya. Dengan permintaan Arya, Bu Arini menyetujui menyembunyikan semua ini dari April.


...****************...