
Davin mencoba mengalah dengan perasaannya saat ini, ia mencoba untuk membuka hati pada April, karena memang ia laki-laki yang lembut.
Jauh berbeda dengan April yang sangat keras kepala, keputusannya tidak bisa digoyahkan sedikitpun.
Tapi kali ini... Ia benar-benar harus terpaksa menjalani pernikahan ini, ia juga tidak ingin membuat kedua orangtuanya malu dengan mempertahankan egonya.
Dengan seserahan yang sangat mahal, dan pernikahan mereka benar-benar mewah, April sangat cantik dengan gaun putihnya, duduk dipelaminan bagai seorang putri yang sedang duduk di singgasana nya.
Walau wajah nya tidak mencerminkan kebahagiaan hari itu.
Davin pun terlihat gagah dan tampan, membuat wanita yang pernah mendekatinya menjadi sangat patah hati.
Berbeda dengan April yang wajahnya biasa saja. Evano justru tersenyum kala itu, walau memang terpaksa.
"Dengar ya...lo jangan bahagia dulu, kita memang suami istri, tapi hanya diatas kertas" bisik April.
"Kamu kira aku senyum gini aku bahagia?, Aku juga terpaksa" jelas Davin.
"Satu lagi...jangan coba-coba meenyentuh aku" terang April.
"Mana bisa aku menyentuhmu, aku saja tidak nafsu dengan mu, bahkan tidak cinta" jelas Davin berbisik.
Mereka mencoba tersenyum ramah pada orang-orang.
Semua orang mendoakan mereka bahagia dipernikahan itu. April hanya memutar bola matanya, "dengan pernikahan ini aja udah gak bahagia, apalagi nantinya" batin April.
"Lama banget...kapan selesainya sih" ketus April karena sudah tidak kuat dengan pura-pura tersenyum.
Davin melihat jam tangannya, "sebentar lagi" ujarnya.
"Huhhf" April menghembus napas dengan kasar.
Tamu sudah mulai sedikit, tanda resepsi itu akan segera berakhir, dan April tidak lagi duduk berdua dengan Davin.
***
Malam hari...
Keluarga mereka berkumpul di rumah Davin, yang memang sudah ia beli sejak 1 tahun lalu.
"Malam pertama nih pengantin baru" goda ayah Davin. Davin terkekeh mendengar itu.
"Kalian tidak mau kekamar?" tanya ayah Davin.
"Aku cape banget, mau istirahat sekarang aja" ujar April, dan pergi kekamar yang memang untuk dia dan Davin.
Ia terkejut saat membuka pintu kamar itu, helaian kelopak bunga mawar bertabur diranjang putih itu membentuk seperti hati.
"Siapa yang bikin ginian? gumamnya, "Davin?, kayanya gak mungkin juga, terus siapa ya" gumamnya bertanya-tanya.
Ia mencoba untuk tidak memperdulikan mawar-mawar itu, ia tetap merebahkan badannya di ranjang itu.
Tidak lama kemudian, Davin masuk, dan ingin merebahkan badan nya disamping April.
"Eh...mau ngapain" tanya April saar melihat Davin akan berbaring.
"Mau istirahat lah" jawab Davin.
"Awas aja lo macam-macam sama gue" tegas April.
"Kan udah aku jelasin tadi" sahut Davin.
Mereka tidur saling membelakangi.
April buru-buru membalikkan badannya menghadap Davin yang juga membelakanginya, " siapa yang naburin mawar ini?" tanya April.
"Aku" jawab Davin tanpa membalikkan badannya.
"Untuk apa" tanya April lagi.
"Ya biar ayah senang aja liatnya juga, biar dikira kita memang cinta" jelasnya.
"Berlebihan" ketus April lalu kembali membalikkan badannya dan kembali membelakangi Davin.
Sepanjang malam itu, ia berdoa terus-menerus, berharap Davin tidak akan menyentuhnya sama sekali.
Davin pun juga terlihat ogah-ogahan untuk menyentuh April.