April

April
54



April langsung mencoba memasak di dapur rumah barunya, Dirga mendisainya dengan sangat mewah dan luas karena dia tau istrinya sangat suka memasak. April memasak pecel lele untuk menu makan siang dan beberapa menu lainya. Sedangkan Mbok Darti disuruhnya merapikan bajunya ke lemari, karena baju-bajunya baru saja sampai setelah dikirim Ibunya dari rumah lamanya.


Dirga mengamati istri cantiknya yang sedang sibuk memasak dari kejauhan, Saat melihatnya Dirga merasa gemas dan segera mendekatinya.


"Arg... sakit," rintih April karena tangannya tidak sengaja terkena pisau hingga berdarah.


"Kamu kenapa, Sayang?" ucap Dirga cemas.


Melihat tangan istrinya terluka Dirga langsung meniupnya dan memberikan obat merah serta membalutnya. Perhatian Dirga itu membuat hati April mulai tersentuh.


"Mbok..." teriak Dirga setelah selesai mengobati istrinya.


"Iya, Tuan" sahut Mbok Darti mendekat.


"Kalau April masak tolong dibantuin!" ucap Dirga marah.


"Maafkan saya, Tuan," jawab Mbok Darti.


"Pokoknya saya nggak mau lihat lagi kejadian seperti ini terulang," ucap Dirga masih dipenuhi amarah.


"Mas, Ini cuma luka kecil. Lagian aku yang suruh Mbok Darti merapikan bajuku diatas, kamu jangan nyalahin dia Mas," ucap April mencoba menjelaskan ke suaminya.


"Ya sudah Mbok, tolong kamu lanjutkan siapin makanan, sana!" ucap Dirga sambil menatap ke arah Mbok Darti.


"Baik, Tuan," ucap Mbok Darti sambil beranjak ke dapur.


Bukannya sedih karena di Marahi majikannya, Mbok Darti malah senyum-senyum kegirangan. Dia sangat bahagia melihat Dirga yang sangat perhatian kepada istrinya, Apalagi melihat tanda merah di leher April. Bukan tanpa Alasan Mbok Darti lah yang menjadi saksi lika-liku kisah mereka di awal pertemuan.


...****************...


April yang sedang duduk di depan cermin menatap dirinya sendiri sambil menyisir rambutnya, dengan perasaan gugup dia melirik ke arah jam dinding yang terpajang di dekat pintu.


Jantungnya mulai berdebar kencang saat mengingat ucapan Dirga tadi pagi.


Baru saja ingin beranjak pintu tiba-tiba terbuka membuat April tersentak kaget.


"Non..." ucap Mbok Darti sambil menenteng sebuah paper bag.


"Iya, Mbok," sahut April, melihat Mbok Darti yang datang membuat April sedikit bernafas lega.


"Saya di suruh Tuan untuk mengantar kan paper bag ini," jelas Mbok Darti sambil memberikan Paper bag itu.


"Apa ini Mbok?" ucap April.


"Saya tidak tau Non, tapi kata Tuan, Non April disuruh menunggu. Tuan masih sibuk di ruang kerjanya."


"Iya Mbok, terimakasih."


"Saya permisi dulu ya, Non," ucap Mbok Darti sambil berlalu.


April yang penasaran segera membuka paper bag itu yang didalamnya ternyata masih ada box.


"Sepatu? atau Tas?" batin April.


April lalu membukanya lalu menemukan sebuah surat di atasnya, Yang meminta April untuk memakai baju dalam box itu. Dengan semakin penasaran April segera memeriksa baju itu. Dengan wajah memerah April melemparkan Baju itu.


"Mas Dirga iseng banget sih," Batin April kesal usai melihat satu set pakaian Dinas yang biasa di pakai oleh para istri itu.


Dirga memasuki kamarnya dan menatap ke sekeliling kamar, dia tidak menemukan istrinya dimana-mana. Padahal dia sudah penasaran ingin melihat istrinya memakai baju yang dia berikan tadi. Melihat pintu kamar mandi terkunci Dirga langsung mencoba mengetok pintu dan mencoba memanggil istrinya.


"Sayang apa kamu di dalam?" ucap Dirga


"April," ucap Dirga lagi tapi tidak ada jawaban membuat Dirga semakin khawatir.


...****************...