
Hari ini April kuliah dengan mengenakan hoodie dan celana levis, mood nya benar-benar hancur berantakan karena pernikahan nya dengan Davin.
"Mau kemana?" tanya Davin saat melihat April merapikan rambutnya.
"Kuliah lah" sahut April dengan ketusnya, tanpa melirik sedikit pun pada Davin.
"Kenapa gak libur dulu? Apa kamu tidak kelelahan?" tanya Davin.
"Lebih lelah lagi kalau aku terus-terusan berada dirumah ini bersama mu" jelas April.
Ia buru-buru keluar dari kamar itu, dan tidak sengaja menyenggol meja dan diatasnya ada ponsel Davin.
"Upps... Maaf..." ujar April, lalu tertawa dan mengibaskan rambutnya.
Davin bukan nya marah, ia malah terkekeh, sembari mengambil ponselnya yang terjatuh, "lihat aja, kamu akan balik" gumamnya sambil melihat April yang akan keluar.
Benar saja, selang beberapa detik April kembali menghampiri Davin, "Aku lupa" ujar April sembari memutar bola mata nya.
Ia lupa kalau mobil nya tidak ada di sini, terpaksa ia harus meminta Davin mengantarkan nya.
"Anterin" ujar April dengan jutek nya, wajah nya memandang ke arah lain.
"Gak" jawab Davin, ia kembali kekasur dan berbaring telungkup.
"Ayolahhh..." ujar April lalu melempar bantal ke arah Davin.
Davin bangun dan berdiri dihadapan April, jarak mereka sangat dekat, "aku tidak akan mengantarmu, karena seharusnya kamu hari ini juga libur" terang Davin.
"Tuan...aku tegaskan lagi, aku menikah dengan mu hanya karena terpaksa, jadi jangan memaksa ku untuk bersama mu" jelas April.
Davin memegang bahu April, dan langsung memutar tubuh April, lalu mendorong nya ke ranjang.
"HEIII...LEPASKAN!!!, MENJAUH!!" ujar April karena badan nya sudah ditindih oleh Davin.
"Aku mengubah pikiran ku, sekarang aku nafsu dengan mu, dan aku harap kamu pun juga begitu" bisik Davin.
"LO SUDAH GILA HAH?!! MENJAUH!!! GUE GAK NAFSU SAMA LO DAVIN!!! JUGA TIDAK CINTA!!" teriak April tepat ditelinga Davin.
Davin menutup sebelah telinga nya itu, karena tidak tahan dengan pekikan April.
April berusaha mendorong tubuh Davin, namun gagal, sudah pasti karena tubuh Davin jauh lebih besar dari tubuh nya yang kecil mungil itu.
Davin tersenyum nakal, "kamu tidak akan bisa lepas dari ku sayang" ujar Davin sembari mengelus wajah April.
April berusaha menepis tangan Davin, namun kali ini kedua tangan nya dipegang erat oleh Davin, dan di letakkan Davin di atas kepala April sendiri.
Ia mencoba mencium bibir April, namun April selalu memaling-malingkan wajah nya, yang membuat ciuman dari Davin gagal mendarat di bibir mungil nya.
Davin berdehem, "sekarang apa mau mu? Wanita ku?" ucap nya dengan nakal, membuat tubuh Alina terdiam, seakan darah nya berdesir saat mendengar suara Davin seperti itu.
Hampir saja ia mengeluarkan suara, namun ia juga segera sadar bahwa dia tidak menyukai Davin.
"MENJAUHH!!!" teriak April lagi.
"Kali ini aku tidak akan melepas mu, aku sudah terlanjur napsu saat melihat mu selesai mandi tadi" jelas Davin.
April membelalakkan mata nya, ia baru sadar bahwa Davin melihat nya yang hanya memakai handuk sehabis mandi, ia mengira Davin masih tidur saar itu, ternyata ia salah, sekarang, ia mungkin akan di terkam oleh Davin.