April

April
61



Pagi itu Oma telah sampai di kota B untuk mengunjungi rumah cucunya, Oma sengaja tidak memberi tahu Dirga maupun April karena memang sudah berencana memberikan kejutan kepada mereka. Mendengar kehamilan April tentunya membuat Oma sangat senang.


"Oma, kapan datang?" ucap Dirga kaget melihat Oma sudah menunggunya di meja makan.


"Apa Oma harus izin dulu kalau mau mengunjungi rumahmu?" celetuk Oma.


"Bukan begitu maksud Dirga, setidaknya Dirga bisa menyiapkan penyambutan untuk Oma," Jawab Dirga.


"Dimana Istrimu?" ucap Oma sambil menatap ke kamar atas.


"Masih bersiap diatas, Oma," sahut Dirga.


Tak selang beberapa lama April datang bergabung dengan mereka, sama terkejutnya dengan Dirga, April langsung menyambut Oma dengan mencium tangannya.


"April Oma bawakan banyak baju-baju hamil untuk kamu," ucap Oma sumringah.


Benar Saja secara bergantian Mbok Darti di bantu Bima membawa banyak paper bag dari Mobil Oma ke kamar April.


"Terimakasih sebelumnya Oma, tapi sepertinya terlalu banyak untuk April gunakan," ucap April sambil menatap Mbok Darti yang masih mondar-mandir membawa paper bag.


"Lho, kamu kan mengandung keturunan Raharja jadi Oma mau yang terbaik untuk kamu," jelas Oma.


Oma lalu menghidangkan Nasi ke piring April serta tumis sayur dan pepes ikan ke piring April. Melihat perhatian Oma membuat April menatap Suaminya.


"Kamu harus makan yang banyak biar cicit Oma sehat," ucap Oma sambil tersenyum.


Sebenarnya April merasa Mual saat memakan makanan itu, Tapi demi Oma dia berusaha untuk menelan makanan itu.


Sementara ditempat lain Ayra berhasil menemukan keberadaan Kirana, Model cantik itu kini karirnya telah redup. Kirana hanya tinggal disebuah rumah susun kumuh sangat bertolak belakang dengan kehidupannya yang dulu.


"Andai saja dulu aku tidak terbujuk rayuan pria itu, pasti sekarang aku masih menjadi ratu," ucap Kirana sambil menatap layar ponselnya.


Hingga ketokan pintu rumahnya membuyarkan lamunannya. Kirana mengintipnya dahulu dari balik jendela. Takut teman-temanya yang datang. Dia masih menyembunyikan kondisinya kini dari orang-orang tertentu karena merasa dia sangat Malu, terutama jika diketahui oleh teman-teman sosialitanya.


Setelah dirasa Aman dia lalu membuka pintu rumahnya, seorang kurir paket memberikannya sebuah paket dari orang yang tidak dia kenal. Dengan buru-buru dia membukanya. Matanya terbelalak mendapati sebuah surat tes DNA di dalamnya.


"Ternyata Dirga selama ini membohongiku, aku akan menggunakan statusku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan," ucap Kirana tersenyum jahat.


...****************...


Oma yang sudah mengetahui bahwa Bintang adalah cicit kandungnya yang telah hilang merasa sangat senang, dia terus bermain dan menjaga Bintang sampai Wina merasa menjadi patung berdiri karena tidak melakukan apa-apa.


"Semoga kebagian ini selalu menyertai keluargaku," ucap April sambil tersenyum ke arah mereka.


"Ibu..." celoteh gadis kecil itu membuyarkan lamunan April.


"Iya sayang, Bintang senang ya main dengan Oma buyut?" ucap April sambil mendekatinya.


"April terimakasih kamu sudah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak Dirga," ucap Oma sambil menitikkan Air mata teringat kesalahannya di masa lalu.


"Oma tidak perlu berbicara seperti itu, Bintang adalah putriku jadi sudah sepantasnya aku menjaga dan menyayanginya," ucap April sambil mengelus pundak Oma.


"Dirga tidak salah mencintai wanita sepertimu, bahkan setelah dia kehilangan ingatannya," ucap sambil mengusap air matanya.


Sedangkan Wina hanya bisa menatap haru mendengar percakapan nenek menantu dan cucu menantu itu berbicara dari hati ke hati.


...****************...