
Dirga kembali memilih tidur terpisah dari Kirana, Kirana dibuat bingung dengan tingkah aneh Dirga. Sejak keluar dari rumah sakit Dirga mulai bersikap aneh dan menjauhinya. Tapi Kirana bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, karena perselingkuhannya dengan Ryan belum terungkap.
Malam itu Kirana mendatangi kamar suaminya, Kirana membawa secangkir kopi dan menghampiri suaminya yang sibuk dengan laptopnya.
"Sayang minum dulu kopinya," ucap Kirana sambil meletakkan kopi itu diatas meja.
"Tumben kamu buatin aku kopi?" ucap Dirga menatap istrinya.
"Aku mau minta izin, besok mau ke kota J untuk pemotretan," ucap Kirana.
"Aku kan sudah bilang kamu di rumah urus Prilly! bukannya kemarin kamu sudah setuju," ucap Dirga marah sambil menutup laptopnya.
"Tapi sebelum kita menikah kan, kamu sudah janji nggak bakal ngelarang aku berkarir," bantah Kirana.
Pertengkaran itu semakin menjadi karena Kirana bersikukuh tidak mau meninggalkan karirnya. Sedangkan Dirga yang punya sifat tempramental menampar Hingga mencekik Kirana.
"Kenapa kamu tidak seperti dia?" ucap Dirga melepaskan cekikannya, membuat Kirana tersungkur dilantai.
Dengan penuh amarah Dirga keluar kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Dirga pergi ke teras rumahnya sambil menghisab sebatang rokok sambil mengamati rumah di depannya berharap April keluar dan dia bisa melihatnya.
Tak begitu lama keluar Arya dari rumah April hendak pulang kerumahnya disebelah, ke dua sahabat itu saling menatap tajam.
"Semalam ini? sejauh apa hubungan mereka." batin Dirga kesal bercampur cemburu.
"Mas ponsel nya ketinggalan," ucap April keluar dari pintu rumah nya.
"Makasih sayang," ucap Arya,tanpa memperdulikan Dirga yang terus memperhatikannya dari teras rumahnya. posisi rumah April pas didepan rumah Dirga, tanpa pintu gerbang jadi Dirga bisa leluasa mengamati mantan istrinya itu.
"Sayang," batin Dirga memanas melihat April yang senyum senyum dipanggil dengan sebutan itu, tanpa memperdulikan dirinya yang ada disitu.
"Besok Mas bangunnya jangan kesiangan, aku siapin sarapan kesukaan Mas," ucap April yang tidak mengetahui Dirga ada di teras memperhatikan mereka.
"Iya sayang, apapun yang kamu masak pasti enak. Aku memang sangat beruntung," puji Arya, sambil mencium punggung tangan April.
"Mungkin memang harus begini, membuka hatiku untuk Mas Arya. Laki laki yang ada di masa masa sulit ku dan tulus menerima kondisiku," batin April sambil tersenyum melihat Arya.
Dirga membuang puntung rokoknya lalu masuk kedalam rumah dan menutup pintu, mendengar suara pintu tertutup April baru menyadari keberadaan Dirga.
"Jika aku belum ada di hatimu, maka belajarlah menerimaku. 1 hal yang perlu kamu tau, aku selalu menunggumu," ucap Arya penuh makna, sambil menempelkan tangan April ke dadanya.
Mendengar kata kata Arya, April seperti terhipnotis. April memandang wajah tampan itu begitu lama, tanpa menjawab perkataannya.
"Kenapa? apa aku salah bicara," ucap Arya kepada April yang terus menatapnya.
"Tidak, aku bingung kenapa aku gemetaran. Apa mungkin karena aku belum makan?" ucap April yang belum menyadari perasaannya untuk Arya, karena pikirannya masih terobsesi dengan Dirga.
Arya menyadari perubahan tangan April, yang tadinya hangat menjadi dingin gemetar. Melihat kondisi April, Arya mengurungkan niatnya untuk pulang dan menghantarkan April masuk kedalam rumah.
Arya membuatkan segelas susu untuk April dan memberikannya.Walau rumah April besar, April tidak memperkerjakan seorang asisten rumah tangga. Karena semua selalu di gantikan secara bergantian dengan ibunya. Tentunya April mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Karena April memang banyak menghasilkan waktu di rumah, karena semua usahanya sudah dipercayakan ke karyawannya, sesekali dia akan datang berkunjung.
"Makasih Mas," ucap April menghabiskan segelas susu yang dibuatkan Arya.
"Besok kita ke Dokter ya?" ucap Arya khawatir.
"Akhir akir ini aku memang suka seperti ini kalo aku ketemu Mas Arya, tapi aku nggak tau aku kenapa," ucap April polos, yang tak bisa menyadari perasaannya.
Arya mengerutkan keningnya dan tersenyum mendengar ucapan April. Entah apa yang dia pikirkan.
...****************...