April

April
59



Perhatian Dirga mampu meluluhkan hati April, hubungan mereka semakin hari semakin membaik. April yang tengah hamil muda sangat manja kepada sang suaminya apalagi ditambah kondisinya yang masih sering muntah dan mual.


"Kamu makan dulu ya," ucap Dirga yang hendak menyuapkan sesendok nasi ke mulut istrinya.


Namun hanya dijawab April dengan gelengan kepala, lalu beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana.


"Kamu mau makan?" ucap Dirga yang terlihat sangat khawatir setelah melihat wajah April yang pucat keluar dari kamar mandi.


"Aku ingin makan Nasi gudeg yang dibeli langsung dari kota Y," ucap April sambil duduk diatas ranjangnya.


Mendengar ucapan Istrinya itu membuat Dirga menepuk jidatnya itu berarti dia harus mengatur penerbangan pulang dan pergi ke kota tersebut dalam 1 hari agar Gudegnya tidak basi.


"Baiklah, Mas akan menuruti keinginanmu tapi kamu sekarang harus makan dulu ya," ucap Dirga dengan sabar mencoba menyuapkan sesendok nasi kepada istrinya.


"Aku tidak mau mas," jawab April.


"Baiklah aku akan segera kembali membawa makanan itu untukmu," ucap Dirga sambil berlalu keluar kamarnya.


Sedangkan langsung tersenyum nyengir setelah suaminya keluar dari kamar.


"Aku mulai menyayangimu, kita akan mulai semuanya dari awal lagi," Batin April yang sudah mulai membuka untuk Dirga kembali.


"Non, minumlah dulu," ucap Mbok Darti masuk membawa segelas susu membuyarkan lamunan April.


"Mbok Apa Mas Dirga sudah sampai rumah?" ucap April sampai menerima segelas susu itu.


"Tuan kan baru berangkat 30 menit yang lalu, Non," ucap Mbok Darti sambil mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan aneh dari majikannya itu, karena jarak kota B ke Y tentunya akan membutuhkan waktu berjam-jam.


"Tapi kenapa Mas Dirga tidak menjawab pesanku?" ucap April sedih.


"Mungkin Karena Tuan terburu-buru Non," ucap mbok Darti mencoba menenangkan majikannya itu.


"Mungkin benih-benih cinta sudah mulai tumbuh," batin Mbok Darti sambil berlalu meninggalkan kamar majikannya.


"Cepat pulang Mas entah kenapa aku sangat merindukanmu," batin April.


Matahari sudah berada di ufuk bayar, April terus berdiri di balkon untuk menunggu kedatangan suaminya. Berkali kali dia mencoba mengirim pesan kepada suaminya tapi tidak ada jawaban.


"Mas kok Kamu belum datang juga sih?" ucap April sambil mondar mandir di balkon dan terus menatap ke ujung jalan mengamati mobil suaminya yang tak kunjung datang.


April yang merasa tubuhnya lemah memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. April langsung berlari ketika mendengar kedatangan mobil suaminya.


"Berhenti," ucap Dirga yang melihat istrinya berlari menuruni anak tangga.


April langsung berdiri mematung melihat ekspresi kemarahan Dirga, menebak-nebak apa yang sebenarnya telah terjadi.


Dirga menaiki tangga dan menghampirinya. Diluar dugaan dia mengendong istrinya menuruni tangga. Melihat keromantisan majikannya itu Mbok Darti dan Wina hanya saling tatap dan cengar-cengir.


"Kamu jangan Lari-lari, kamu kan lagi hamil apalagi di tangga," ucap Dirga sambil memandang istrinya.


"Tapi aku ingin segera melihat..." ucapan April terpotong hampir keceplosan kalau dia ingin melihat suaminya, April yang masih merasa canggung masih malu malu untuk mengungkapkan perasaanya.


"Melihat Apa?" Tanya Dirga penasaran.


"Tentunya ingin segera melihat Tuan, Non April seharian gelisah menunggu Tuan pulang," sambung Mbok Darti.


"Benarkah itu?" tanya Dirga dengan tatapan menggoda.


"A-aku ingin melihat Gudegnya," sangkal April malu-malu.


"Apa Istriku yang juragan kuliner ini tidak pernah melihat Gudeg sebelumya?" Goda Dirga karena istrinya adalah pemilik beberapa restoran mustahil jika tidak pernah melihat Gudeg.


"Baiklah Ayo kita makan," jawab Dirga.


Dirga membeli Gudeg dalam jumlah yang banyak karena tidak ingin tanggung kepergiannya ke kota J hanya untuk membeli Gudeg, tak lupa Dia membaginya dengan para Asistennya dan tentunya dikirimkan juga ke rumah Ibu mertuanya.


"Tidak sia-sia aku membatalkan meeting ku hanya untuk membeli gudeg ini ke kota Y," ucap Dirga kepada istrinya yang melihat istrinya sangat lahab menikmati makanan itu, karena setelah di nyatakan Hamil April sangat kesulitan untuk makan, karena mual muntah yang dialaminya saat melihat makanan.


April hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Setelah mereka berdua selesai menyantap hidangan itu, Dirga berjongkok di samping istrinya duduk. mengelus perut istrinya serta menempelkan wajahnya di perut istrinya.


"Nak, tolong minta sesuatu jangan jauh-jauh ya, Nak. Kasian Ayah," ucap Dirga.


"Kok kamu gitu, Mas,?" raut wajah April berubah masam setelah mendengar ucapan suaminya. Dan beranjak menuju ke kamarnya.


"Lho sayang, Mas cuma bercanda," ucap Dirga sambil menghembuskan nafasnya Kasar melihat istrinya yang ngambek.


"Apa Tuan Dirga tidak tahu kalo wanita hamil itu memang sensitif perasaanya," celetuk Mbok Darti, karena saat kehamilan Kirana, Dirga sangat jarang di rumah karena sibuk bekerja.


"Baiklah aku akan mencoba meminta Maaf," ucap Dirga sambil beranjak menuju kamarnya.


Benar saja saat sampai Didepan pintu kamar April yang ngambek telah mengunci kamarnya.


"Sayang, bukalah pintunya," tapi tidak ada jawaban.


"Sayang maafin aku, aku cuma bercanda," ucap Dirga lagi sambil mengetuk pintu kamarnya.


Dirga mengacak-acak rambutnya frustasi dan malam itu dia lebih memilih menemani Bintang Tidur.


"Lihatlah Bintang, Ibumu itu begitu sangat manja," ucap Dirga sambil menemani Bintang bermain karena kebetulan Bintang belum tidur.


"Ayah..." celoteh gadis kecil itu sambil mengulurkan sebuah mainan kepada Dirga.


"Maafkan aku, belum bisa jujur kalo sebenarnya Bintang adalah anak kandungmu," batin April yang Sedari ternyata mengintip mereka dari balik pintu.


"Ibu..." ucap Bintang sambil menunjuk kearah April. ternyata Bintang menyadari kehadiran April.


Dirga langsung menoleh kearah pintu, dan April perlahan masuk mendekati mereka.


"Bintang karena Ayahmu jam tidurmu berantakan," ucap April.


"Bintang Ibumu membuat Ayah bingung dengan sikapnya," balas Dirga menyindir.


"Jangan mulai ya Mas," ucap April jengkel.


"Ya sudah Mas minta maaf," ucap Dirga sambil menjewer kedua telinganya sendiri.


Melihat itu bintang tertawa keras dengan khas suaranya yang cempreng, sedangkan April menutup mulutnya untuk menahan tawanya.


"Mas, dimaafin kan?" ucap Dirga memastikan.


April hanya mengangguk tanda mengiyakan ucapan suaminya. Suasana berubah menjadi canda gurau.


Hingga tidak terasa waktu sudah larut malam, Dirga mengayun Bintang untuk menidurkannya, sedangkan April merasa sangat senang menatap keduanya.


"Aku harus segera mencari waktu yang tepat untuk segera mengatakannya, rasanya tidak adil jika aku menyembunyikan kebenaran tentang Bintang," batin April.


Tak begitu lama akhirnya Bintang tertidur Dirga menurunkannya lalu menyelimuti Putri kecilnya itu.


Saat Dirga menoleh ternyata Istrinya juga sudah tertidur diatas sofa, Dia memandangi wajah cantik itu dan menggendongnya menuju kamarnya.


...****************...