April

April
Dirga



Hari ini Dirga datang dari kota B untuk meninjau bisnisnya di kota J, sekaligus meeting di kantor milik Alina. Yang tak lain tempat di mana putranya bekerja.


Sampai dihalaman pandangannya tak luput dari Airlangga yang sedang cekcok dengan seorang wanita yang tak lain adalah Luna yang memintanya untuk diam dan tak mengatakan semuanya kepada Nathan. Kebohongan Nathan makin menjadi dengan berbohong kepada Luna kantor milik bosnya adalah miliknya.


"Aku tidak memilihmu karena kamu kere, aku selalu bermimpi mendapatkan pria kaya, apa kau pikir kau bisa membahagiakan aku dengan motor butut mu itu?" ucap Luna dengan sombongnya, dia tak sadar siapa yang dia Katai itu.


"Sebaiknya kamu menjauhi kakakku, aku tau kau memacari kakakku hanya untuk balas dendam kepadaku?" tuduh Luna.


"Itu bukan hakmu, sekarang kau boleh pergi dari sini aku tidak akan mengatakan semua yang telah aku lihat kemarin kepada Nathan," sahut Airlangga kesal dengan wanita yang pernah disukainya ternyata mulutnya tajam.


"Aku akan menyuruh Nathan untuk memecatnya berani sekali dia hanya memanggil nama pada bosnya," batin Luna.


"Airlangga," ucap Dirga mengagetkan mereka berdua.


Airlangga terkejut melihat kedatangan ayahnya tanpa memberi tahunya terlebih dahulu, dia takut bahwa penyamarannya akan terbongkar terutama di depan Luna dan teman-temannya.


"Bapak Dirga Aji Raharja, pemilik PT Raharja grup, mari saya antar ke ruangan meeting," ucap Airlangga mengalihkan pembicaraan takut Luna akan curiga.


Dengan berjalan perlahan Airlangga mengantar Dirga masuk kedalam kantor, Ayah dan anak itupun diam seribu bahasa. Dirga terus memikirkan apa yang di dengarnya didepan kantor tadi.


"Apa putraku sudah memiliki seorang kekasih?" batin Dafa sambil menatap ke arah Airlangga saat sampai didepan ruangan meeting.


Bersamaan dengan itu datang Axel dan juga April yang juga akan mengikuti meeting tersebut, entah kenapa pandangannya tak bisa lepas menatap garis cantik berambut panjang di depannya. Pikiran Dirga melayang mengingatkan dia kepada Prilly bayi kecil yang pernah dia rawat dulu.


"Andai Nadira tidak memutuskan komunikasi dengan kami pasti Prilly sudah sebesar dia," batin Dirga sedih.


Meeting berjalan lancar, Dirga mengajak Airlangga ke cafe sebelum berpamitan untuk mengunjungi makam Oma dan Bintang sebelum kembali ke kota B.


Disebuah cafe anak dan ayah itu mengobral layaknya teman seumuran.


"Ibumu sangat merindukanmu," ucap Dirga sambil menyeruput kopinya.


"Katakan pada ibu, aku akan memberikan menantu yang bernama sama dengan namanya," ucap Airlangga spontan, dia juga bingung kenapa kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Tapi dua menyadari hanya April lah yang mampu menerima keadaanya dalam keadaanya yang tanpa harta.


"Benarkah?" ucap Dirga tersenyum sambil meletakkan cangkir kopinya.


"Bukan ayah, tapi perempuan yang ikut rapat tadi," jelas Airlangga.


"Namanya April juga?"


"Iya Ayah,"


"Gadis yang mengingatkanku kepada Prilly, namanya juga serupa," batin Dirga.


"Maafkan aku April, bukan maksudku menjadikanmu alat balas dendam untuk menunjukkan kepada Luna, sebenarnya siapa yang telah dia hina," batin Airlangga, entah kenapa berfikir seperti itu.


"Kamu akan menyesal telah menghinaku," batinnya lagi.


"Ayah sepertinya harus segera bergegas pergi, kalo ada apa-apa hubungi Ayah," ucap Dirga sambil menatap jam melingkar di tangannya.


Dirga memeluk putranya dan menepuk pundak Airlangga sebelum berlalu. Tak selang kemudian April datang dan mengagetkan Airlangga.


"Kamu ngapain disini?" ucap wanita cantik itu.


"Aku...aku..." ucap Airlangga terbata memikirkan alasan yang tepat, dia tak mau penyamarannya terbongkar sekarang.


"Masak Iya dia makan di cafe semahal ini?" batin April sambil menatap piring-piring di meja tempat Airlangga makan.


"Tadi pak Dirga meminta aku menamainya makan siang, kamu ngapain disini?" jawab Airlangga.


"Bosku dan bosmu nanti malam akan mengadakan diner romantis disini, aku di suruh mengurusnya tanpa perduli aku sudah makan siang apa belum," ucap April lemas.


"Kebetulan aku belum memakan, makanan yang di pesankan Pak Dirga tadi, kalau kamu mau ayo kita makan bersama," ucap Airlangga sambil menunjuk piringnya yang masih utuh dengan makanan.


Dengan malu-malu April menyetujui ucapan Airlangga, karena tanggal tua uangnya sayang untuk makan siang di cafe mahal itu. Dengan di selingi canda tawa mereka makan sepiring berdua bak Romeo dan Juliet.


...****************...