April

April
SIKAP DAVIN



Tuhan bisa membolak-balikkan hati seseorang.


Dengan mudah nya.


~~~


"INGAT!!! GUE TIDAK AKAN PERNAH MENCINTAI LO!!!" tegas April.


"Kamu semakin terlihat cantik kalau marah ya" ujar Davin dengan senyuman tipis nya.


"Cuihhh" ujar April.


"Ayolah...aku akan mencintaimu, kalau kamu juga mau menuruti apa mau ku" jelas Davin.


"TIDAK!!! AKU TIDAK PERDULI LO CINTA ATAU GAK SAMA GUE, YANG PASTI SEKARANG GUE BENAR-BENAR TERSIKSA DENGAN KEHIDUPAN INI" jelas April benar-benar tersulut emosi.


Hari-hari mereka selalu di hiasi dengan peraduan mulut, tidak pernah rumah itu tenang sehari saja.


***


Hari ini April menjalankan tugas nya sebagai istri, yaitu memasak kan Davin, hanya memasak kan.


"Pagi sayang" ujar Davin memeluk April dari belakang dengan manja nya.


"Menjauh sekarang? Atau mau pisau ini?" ucap April dengan jengkel nya.


"Sama suami kok gitu" ujar Davin yang semakin memper-erat pelukan nya pada April.


"Gue gak pernah anggap lo suami ya!" tegas April sambil melepas tangan Davin dari tubuh nya.


Davin mencium pipi April dengan tiba-tiba. Lalu ia duduk di meja makan,  April yang terkejut, buru-buru ia menyapu pipi nya dengan tangan nya, "gak sudi banget gue ishhh" gerutu nya.


"Ambil sendiri" ujar April yang berlalu, ia kembali ke kamar untuk tidur. Karena sudah izin kuliah selama seminggu.


Dengan sendiri nya dikamar, sesekali terpikir tentang pernikahan nya dengan Davin, ia benar-benar tidak mencintai Davin, tapi Davin...Davin bersikap sangat manis dengan nya, apa mungkin ia akan mencintai Davin nanti nya... Atau Davin yang akan berubah sikap karena selalu dibalas dingin oleh nya.


Tubuh mungil nya didekap dari belakang, ia mencoba menjauhkan tangan itu, air mata nya hampir saja menetes, mengingat perlakukan Davin yang begitu manis dengan nya, tapi hati nya tetap saja tidak bisa mencintai Davin.


"Makan sana lo" ketus April.


"Sama kamu" jawan Davin dengan manja.


"Yasudah aku juga mengantuk" ujar Davin membenamkan wajahnya di belakang badan Alina.


"Gue udah cape-cape masakin lo pagi-pagi" ketus nya.


"Iya..iya...ini aku makan deh" ujar Davin lalu beranjak pergi ke dapur lagi.


Hati nya benar-benar gundah, ingin sekali ia membalas sikap Davin dengan romantis.


"Astaga kenapa gue kaya gini...apa mungkin gue udah suka sama Davin" gumamnya.


"Tapi gue membenci pernikahan ini" tambahnya. Ia menghela napas berat, sudah tidak tahu dengan dirinya sendiri.


Perut nya mulai berbunyi, tapi ia enggan untuk pergi kedapur dan melihat Davin lagi, ia akan luluh dengan sikap Davin jika terus-terusan seperti itu.


"Ayo makaaann..." teriak Davin sambil berjalan ke kamar, dan membawakan April makanan.


Ia bermaksud untuk menyuapi April, namun untuk berbalik saja April tidak mau.


"Aku tidak lapar" ketus April. Yang tidak lama di iringi suara keroncongan dari perut nya.


"Itu tidak lapar?" ujar Davin terkekeh, karena samar-samar mendengar suara perur April.


April menutup wajah nya yang memerah dengan bantal karena menahan malu nya.


"Ayolah lihat kesini" pinta Davin.


April menggeleng, "menjauh dari gue sekarang!" bentak nya.


"Tapi aku mau nyuapin kamu" ujar Davin lemah lembut.


"Udah gue bilang gue gak lapar!, Gue bisa makan sendiri" tegas April.


Davin kembali ke dapur untuk menaruh kembali makanan itu.


Ia kembali memeluk April, "aku sayang sama kamu" bisik nya.


April pura-pura tertidur.