
"April sudah memiliki pacar dan aku harap sesegera mungkin mereka menikah, apa ini sudah waktunya kita memberi tau hal sebenarnya?" ucap Farhan kepada Nadira saat mereka berbincang di dalam kamar mereka.
"Perasaanya pasti akan hancur ketika mengetahui yang sebenarnya," ucap Nadira sambil menangis mengingat masa kelamnya, ketika laki-laki tak bertanggung jawab itu telah merenggut paksa kesuciannya.
"Tapi April sudah dewasa dia berhak tau semuanya, walau di dalam benakku, aku juga sangat takut kehilangannya," ucap Farhan terlihat sedih.
"Apa yang di maksud Papah dan Mamah?" batin April yang ternyata sudah pulang dan sedang menguping pembicaraan papah dan mamah nya dari balik pintu kamar.
"Walau dia bukan anak kandungku, aku menyayanginya seperti menyayangi Luna," ucap Farhan yang memporak-porandakan hati April.
"Apa maksud ucapan Papah?" batin April bak disambar petir di siang bolong.
Bulir-bulir bening seketika membasahi pipi April, hatinya terasa hancur mencoba menerima kenyataan pahit ini. Orang yang selama ini dia anggap papa kandungnya ternyata hanya orang lain yang menganggapnya sebagai anak.
Tubuh April tiba-tiba melemah tak sengaja dia menyenggol pas bunga di samping pintu hingga jatuh dan pecah kelantai, membuat Farhan dan Nadira langsung menghambur keluar kamar dan mendapati April bersimpuh di lantai.
"April, apakah dia telah mendengar semuanya?" batin Nadira sambil menutup mulutnya.
"Nak, kamu kenapa?" ucap Farhan sambil membantu April berdiri.
"Apa benar yang April dengar tadi?" ucapnya sambil menangis sejadi-jadinya.
"Kita duduk dulu," ucap Farhan sambil mencoba menenangkan April.
Dengan menahan nafasnya Farhan mulai menceritakan semuanya kepada April, April merasa sangat sedih mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa dia hanyalah anak haram dari pria yang tidak bertanggung jawab.
"Tolong setelah mengetahui semua itu tidak akan mempengaruhi hubungan kita, Nak. Papa sangat menyayangimu," ucap Farhan sambil menatap April.
"Kau adalah putriku sama seperti Luna," ucap Farhan sambil mengelus pucuk rambut April.
"Terimakasih Pah, karena selama ini sudah menyayangi April seperti anak kandung papah sendiri" sahut April dengan suara parau nya.
Farhan dan Nadira memeluk erat April untuk menguatkannya, mereka berharap setelah semua terungkap tidak akan mempengaruhi hubungan mereka yang selama ini rukun.
"Ada apa ini?" ucap Luna yang baru pulang melihat anggota keluarganya berkumpul.
"Tidak ada apa-apa, darimana saja kamu?" jelas Farhan yang tak ingin Luna mengetahui semuanya.
"Luna habis bertemu pacar Luna, Pah," ucap Luna sambil tersenyum sumringah.
"Mah, sebentar lagi Mamah akan punya menantu CEO," ucap Luna lagi sambil yang mendekati Nadira dan begitu bangganya menceritakan tentang Nathan.
"Mau CEO, Mau Karyawan Papa dan Mama akan mendukung selama kalian cocok satu sama lain," sahut Nadira bijak karena dia tak ingin melukai hati April yang punya pacar berstatus karyawan.
"Mamah itu harusnya bangga donk sama Luna karena bisa mendapatkan CEO," ucap Luna dengan sombongnya sambil menatap sinis kearah April.
"Rasanya Luna tidak akan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya, biar lebih baik dia mengetahui semuanya sendiri tentang Nathan," batin April.
Luna terus melakukan aksinya didepan kedua orang tuanya, membangga-banggakan Nathan dan terus menjelekan Airlangga. Namun Farhan dan Nadira yang yang bijak sama sekali tidak terpengaruh ucapan Luna sedikit pun.
...****************...