
Dirga hampir saja mendobrak pintu kamar mandi, tiba-tiba pintu terbuka. April melangkah perlahan sambil menundukkan pandangannya, dengan memakai baju yang telah diberikan Dirga tadi.
April menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya karena malu belahan dadanya terlalu lebar. Sebenarnya April juga tidak nyaman dengan bagian bawahnya yang terlalu tinggi. Apalagi Dirga tak henti menatapnya, membuat April malah menangis sejadi jadinya karena merasa sangat malu, apalagi hubungannya dengan Dirga masih sangat canggung untuk April. Melihat istrinya menangis, Dirga langsung memeluknya.
"Kamu kenapa?" ucap Dirga.
April hanya menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dirga.
"Kalau kamu belum siap, aku akan menunggu," ucap Dirga menenangkan April.
"Lakukan, Mas," ucap April malu-malu.
Mendapatkan Lampu hijau Dirga langsung mengendong istrinya ke atas ranjang. Melakukan aksinya hingga membuat istrinya tak berhenti mendesah dengan beberapa permainan pemanasan dari Dirga. Hingga akhirnya gawang yang dijaga selama 32 tahun itu akhirnya telah berhasil jebol.
"Sakit... Mas" rintih April kesakitan.
Mendengar rintihan istrinya Dirga melakukannya secara pelan-pelan dan hati-hati tentunya dengan kasih dan cinta. sesekali dia mencium bibir istrinya di sela sela aktivitasnya. Keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Hingga cairan hangat itu menyembur membasahi rahim April.
"Ahhhh..." sebuah ******* menyudahi permainan Meraka berdua.
"Ternyata kamu masih perawan," batin Dirga kaget sekaligus kagum, karena saat berhubungan dengan Kirana pertama kali Kirana sudah tidak gadis lagi.
"Aku telah menjadi istri Dirgantara Aji Raharja seutuhnya," batin April sambil menahan perih pada bagian berharganya.
Pagi....
April membuka matanya yang berat, ternyata Dirga sudah tidak ada Disampingnya karena April bangun terlalu siang. Dia menatap ke arah nakas ternyata Dirga sudah menyiapkan sarapan untuknya beserta sepucuk surat yang menyatakan dia bekerja di ruang kerjanya dan menyuruhnya untuk sarapan.
Setelah membaca surat itu April perlahan bangkit untuk membersihkan diri, sambil berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi menahan perih dan pegal-pegal di sekujur tubuhnya.
"Surprise..." ucap Ayra sumringah sambil membawa sebuah kado besar disampingnya.
"Kamu kok tau alamat rumah kakak?" tanya Dirga penasaran.
"Aku dikasih tau bunda, Maaf ya kak aku kemarin aku nggak bisa menghadiri pernikahan kakak."
"Tidak masalah yang penting kamu sekarang sudah datang," ucap Dirga sambil mengajak Ayra untuk duduk di sofa.
Singkat cerita Ayra sebenarnya menyukai sahabat kakaknya itu dari dulu, namun hanya mampu dia pendam saja. karena dia kalah cepat dari Nadira, setelah patah hati dia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negri.
Setelah kembali dari luar negri dia kembali bersemangat karena mendengar berita perceraian Dirga dan Kirana. tapi dia harus patah hati kembali karena Dirga telah menikah dengan April. Tanpa dia tau kalau April adalah mantan pacar kakaknya Arya. Sedangkan Dirga hanya menganggapnya sebagai seorang Adik.
April berjalan menuruni tangga dengan terus merapikan rambutnya yang dia urai untuk menutupi bagian lehernya, karena semalam Arya banyak membuat tanda merah di sana.
Mendengar suara canda gurau, April yang penasaran langsung menuju ke ruang tamu. April mendapati Dirga dan Ayra yang berada di sana, dia mendekat dan bergegas untuk menyapanya.
Melihat kedatangan April, Ayra langsung berpamitan untuk pulang dan menatap April dengan tatapan tak suka, apalagi setelah mengetahui tanda merah di leher April. April yang melihat sikap Ayra kepadanya langsung merasa tidak enak hati.
"Ada apa sayang kenapa kamu tampak murung?" ucap Dirga sambil menatap istrinya yang berdiri mematung di depannya.
"Ayra sepertinya tidak menyukai Aku Mas, apakah karena Mas Arya?" sahut April.
"Ayra sepertinya belum mengetahui hubunganmu dengan Arya. Kamu jangan berpikiran aneh-aneh, itu karena kalian belum saling mengenal saja, kalo kamu sudah mengenal nya dia anaknya sangat ramah," ucap Dirga mencoba menghibur istrinya.
...****************...