April

April
Dua juta



Setelah sampai di toko bunga April langsung mencari bunga yang serupa dengan bucket bunga yang rusak tadi, Airlangga juga ikut membantu untuk memilih-milih bunga di toko itu. Dia merasa bersalah karena telah menginjak bucket itu walaupun sebenarnya tidak di sengaja.


"Itu bagus Mas, cocok buat pacarnya," ucap penjual bunga itu sambil menunjuk ke arah April.


April pun jadi tersipu malu mendengar ucapan penjual bunga itu, April hanya membalas dengan senyuman ucap penjual itu. Sedangkan Airlangga tidak menggubrisnya karena sibuk mencocokkan bunga yang di dia pegang dengan bucket yang rusak tadi.


Saat melihat nota pembayaran pembelian bunga itu, April langsung membulatkan matanya ketika melihat nominal Angka yang tertulis di kertas yang di pegangnya.


"Dua juta," batinnya kaget.


Airlangga yang melihat ekspresi wajah April langsung menyahut kertas kecil yang dipegang oleh April dan segera mengeluarkan sebuah kartu ATM dari dompetnya. Walaupun dia belum menerima gaji pertamanya, Airlangga punya cukup tabungan untuk membayar bucket bunga itu, tentunya bukan hasil dari pemberian orang tuanya yang kaya raya melainkan dari hasil jirih payahnya kerja paruh waktu saat masih kuliah dulu.


"Aku telah menghabiskan uangnya," batin April yang merasa tidak enak.


Dengan hati-hati April membawa bunga itu berlalu dari toko bunga itu dan sesekali mengajak Airlangga yang berjalan disampingnya.


"Satu Minggu lagi aku gajian, aku akan akan mengganti uangmu Minggu depan," ucap April mengajak Airlangga berbicara.


"Itu tidak perlu," sahut Airlangga sambil mengenakan helmnya.


Melihat April yang membawa bucket bunga besar itu, Airlangga langsung berinisiatif menggenakan helem untuk April, melihat wajah Airlangga yang begitu dekat dengannya membuat April merasa deg-degan dan gemetar. Tanpa banyak berbicara Airlangga segera melajukan motor bututnya untuk kembali ke ke kantor Alina.


"Kenapa aku? apa karena aku tidak sempat sarapan jadi gemetaran?," batinnya yang tak mampu mengartikan perasaannya.


Dengan langkah tergesa-gesa April menuju keruangan Alina untuk mengantar bucket bunga yang di bawahnya, tak disangka bosnya Axel juga berada di dalam ruangan Alina. Sedangkan Alina terus memandangnya dengan tatapan tajam karena tidak suka dengan April.


"Maafkan saya bos, tadi saya ada sedikit kendala," Jawab April ketakutan karena khawatir bosnya akan marah jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Tidak apa," ucap Axel yang sebenarnya sudah melihat bucket bunganya yang rusak berada di tempat sampah sebelum memasuki ruangan Alina.


Mendengar ucapan Axel itu membuat April terperanjat kaget karena biasanya Axel akan marah jika dia terlambat mengerjakan pekerjaannya.


"Terus saja bela dia," protes Alina yang terlihat marah.


"Kamu boleh kembali ke kantor duluan," ucap Axel kepada April.


"Baik bos," sahut April cepat dan segera meninggalkan kantor Alina.


April segera kembali ke kantor Axel dan langsung mengerjakan pekerjaannya di sana, tapi dia kehilangan konsentrasinya dalam bekerja karena terus terbayang-bayang dengan Airlangga. perbuatan Airlangga tadi tentunya membuat dia sangat kagum.


"Dua juta itu bukan uang yang sedikit, Apalagi kalau di lihat dia juga kekurangan," ucapnya.


"Aku harus menggantinya nanti nanti saat gajian," ucap April lagi.


Bukan karena tidak punya tabungan, tapi April hanya akan mengambil sedikit gajinya untuk keperluannya bekerja dan sebagainya besar dia berikan kepada ibunya untuk biaya keperluan sehari-hari keluarganya.


...****************...