April

April
67



Pagi itu dengan setelan jas berwarna serupa Dirga diantar April sampai depan pintu gerbang, Dirga hendak pergi beberapa hari untuk meninjau bisnisnya di kota J.


"Kamu baik-baik di rumah sayang, kalau ada apa-apa segera kabari aku," ucap Dirga sambil mencium kening istrinya.


"Kamu hati-hati dijalan Mas, nggak usah terlalu mikirin aku, lagian di rumah kan ada Ibu dan mbok Darti yang menemani," ucap April.


Dirga lalu duduk berjongkok di depan April, mengelus-elus perut April serta menciumnya.


"Ayah berangkat dulu ya, Nak" pamitnya.


April terus menatap kepergian mobil yang membawa suaminya sampai hilang dari pandangan matanya.


"April, ponsel suamimu tertinggal," ucap Bu Arini yang berlari dari dalam rumah menghampiri April yang masih di depan pintu gerbang.


"Mas Dirga sudah terlanjur berangkat, buk," ucap April menatap ke arah ponsel yang di pegang ibunya.


Hingga suara ponsel Dirga berbunyi mengagetkan mereka berdua.


"Biar April angkat Bu, siapa tau saja itu penting."


Ibu Arini langsung memberikan ponsel itu kepada April tanpa melihat ke layar ponsel siapa yang menghubungi menantunya.


"Dirga, kamu sudah sampai dimana? Oma masih mengunjungi makam Bintang, kalo kamu sudah di kota J kamu langsung saja kesini," ucap wanita Paru baya di sebrang sana.


Bak disambar petir April menjatuhkan ponsel Dirga, hatinya hancur bahwa untuk kedua kalinya orang-orang di sekelilingnya telah membohonginya. Untuk kedua kalinya April Harus merelakan orang-orang yang dia sayang pergi untuk selamanya tanpa mengantarkan mereka ke peristirahatan terakhir.


"Nggak mungkin, Bintang...." jerit April histeris.


"Nak kamu kenapa?" ucap Bu Arini mencoba menenangkan April.


"Apa ibu tau semua ini?" ucap April menatap Ibunya.


Tau yang April maksud Bu Arini hanya diam tak bisa menjawab satu patah kata pun.


"Ibu kok tega sih Bu?" ucap April sambil menangis.


"Maafkan ibu, tapi semua demi kebaikanmu," ucap Bu Arini sambil menangis.


"Arg..." April merintih kesakitan sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Kamu kenapa?" ucap Bu Arini panik.


"Perut April sakit sekali Bu," ucap April sambil menahan sakit.


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan," ucap Bu Arini panik.


Setelah sampai di rumah sakit April langsung dibawa ke ruang bersalin, karena ternyata April akan melahirkan. Di luar dugaan April melahirkan lebih cepat 2 Minggu dari tanggal perkiraan melahirkan.


"Mbok kemana kita harus menghubungi Dirga? ponselnya saja ketinggalan," ucap Bu Arini kepada Mbok Darti yang menunggu di depan ruang bersalin.


"Bu saya coba hubungi Bu Nadin dulu, siapa tau bisa tersampaikan ke Tuan Dirga," ucap Mbok Darti sambil menggambil ponselnya dari dalam tasnya.


"Gimana Mbok?" ucap Bu Arini kepada Mbok Darti yang berkali-kali menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Nggak diangkat, Buk," jawab Mbok Darti.


Sedangkan di dalam ruangan bersalin April terus merintih menahan sakit, tak berasa bulir bening menetes membasahi pipinya.


"Kamu kenapa nggak temenin aku Mas," batin April sambil mengatur nafasnya.


Dibantu para medis April mulai mengejan menjalani proses kelahiran, sedangkan Dirga berlari menyusuri lorong rumah sakit mencari ruang persalinan istrinya.


"Buk, April bagaimana?" ucap Dirga mendapati mertuanya mondar-mandir di depan ruang persalinan.


"April masih di tangani di dalam, Ibu bersyukurlah kamu mengetahui keberadaan kami," sahut Bu Arini.


Suara Tangisan bayi membuat mereka bertiga yang sedang menunggu mengarahkan pandangan ke arah pintu dimana April di tangani.


"Cucuku sudah lahir," ucap Bu Arini senang.


Begitupula Mbok Darti yang ikut girang karena senang, Dirga segera di panggil oleh perawat memasuki ruang bersalin untuk mengazani bayinya yang baru lahir. Dirga mulai me lantunan suara merdunya di telinga anaknya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" ucap Dirga menemui istrinya yang sudah di pindahkan ke kamar rawat setelah selesai mengadzani anaknya.


April yang masih merasa kecewa dengan suaminya karena telah menyembunyikan kematian Bintang, hanya diam tak menjawab dan lebih memilih memalingkan wajahnya.


"Hey sayang ada apa denganmu? apa kau marah karena aku tadi tidak ada?" ucap Dirga yang belum mengetahui penyebab kemarahan April.


"Aku ingin sendiri Mas, keluarlah!" ucap April.


"Tapi kenapa?" ucap Dirga bingung.


"Nak Dirga lebih baik kita keluar dulu, biar Mbok Darti yang berada disini," bujuk Bu Arini.


Dirga menurut dan mengikuti mertuanya keluar dari ruangan April dirawat. Mendengar penjelasan mertuanya Dirga hanya bisa mengusap wajahnya kasar. April telah mengetahui kematian Bintang yang sengaja di tutup-tutupi selama 9 bulan demi menjaga April yang sedang hamil.


...****************...