April

April
65



Suara ponsel berdering pagi itu, membangunkan April yang masih terlelap tidur.


"Siapa yang sepagi ini meneleponku?" ucap April sambil beranjak bangun dari ranjangnya.


"Halo," ucap April mengangkat telepon itu, sebuah nomor baru telah menelponnya.


"Halo April, ini Oma," suara wanita dari sebrang sana.


"Oma, bagaimana keadaan Bintang Oma?" ucap April antusias.


"Kamu tidak usah terlalu memikirkan Bintang, kamu jaga saja kandunganmu dengan baik-baik," jawab Oma.


"Tapi aku sangat merindukan Bintang Oma, dia juga putriku," ucap April sambil menitikkan air matanya.


"Kamu percayakan semuanya kepada Oma," ucap Oma sambil mengakhiri panggilan teleponnya.


April segera menaruh ponselnya di atas nakes, dia melirik ke samping ranjang. Ternyata suaminya sudah pulang kerumah.


"Kamu kelihatan capek banget Mas," batin April memandang suaminya yang masih terlelap.


Setelah mandi April bergegas mengunjungi kamar putri kecilnya. Dia memandangi kamar yang dipenuhi boneka itu dan di dekorasi serba warna merah muda.


"Nak, ibu kangen," ucap April sambil menitikkan air matanya.


Dia berjalan ke arah lemari pakaian yang berisi baju-baju Bintang, dia mengambil sepotong baju dan langsung memeluknya.


"Cepat pulang, Nak," ucap April sambil menghapus air matanya.


"Kamu pasti merindukan Bintang," ucap Dirga menyusul masuk kedalam kamar dengan wajahnya yang muram.


"Mas kamu kenapa?" ucap April curiga.


"Aku nggak papa sayang, gigiku hanya masih sakit saja," elak Dirga yang memang menyembunyikan sesuatu.


"Mas, jujur aku sedikit curiga dengan Oma," ucap April sambil menatap suaminya.


"Curiga?" ulang Dirga.


"Kamu percayakan semua kepada Oma, buktinya mereka sudah sampai di sana kan?" ucap Dirga mencoba menenangkan istrinya.


"Sekarang kita sarapan kasian anak kita di dalam perut," ucap Dirga lagi sambil menggandeng tangan istrinya.


Dirga dan April menuju ke ruang makan semua makan sudah terhidang di atas meja.


"Mas, hari ini aku mulai memimpin secara resmi di perusahaan milik Mas Arya," ucap April di sela-sela sarapannya dengan suaminya.


"Itu sudah menjadi wasiat dari Arya, kamu harus bisa menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya," jawab Dirga.


"Masalahnya aku cuma lulusan SMA mas, apakah mungkin aku bisa menghandle perusahaan Sebasar itu," ucap April minder.


"Mas akan bantu kamu, kamu nggak usah khawatir," ucap Dirga menenangkan istrinya.


"Iya Mas, tapi aku akan mampir ke restoran dulu terlebih dahulu. Hari ini restoran sudah mulai buka kembali, dan aku harap fitnah yang telah di buat Ayra nggak akan berdampak pada pemasukkan restoran," ucap April sedikit khawatir.


"Baiklah Ibu CEO, aku akan mengantarmu ke restoran terlebih dahulu baru kita akan lanjut ke kantor," ucap Dirga sambil tersenyum.


Pagi itu sebelum berangkat ke kantor April dan Dirga mampir ke salah satu restoran milik April. April menampilkan senyum sumringahnya ternyata restorannya malah lebih ramai dari hari biasanya.


"Bu, April sepertinya hari ini kita akan tutup Lebih awal karena persedian makanan stoknya sudah menipis," ucap salah satu karyawati April.


"Kalau dalam waktu 3 hari ke depan restoran masih sangat ramai kita bisa menambahkan stok yang lebih banyak dari biasanya," jawab April.


"Baik, Bu" ucap karyawati lalu kembali bekerja.


"Kamu lihat sendiri kan? jadi kamu tidak perlu khawatir lagi," ucap Dafa kepada istrinya.


"Iya Mas, aku nggak menyangka," ucap April menghembuskan nafasnya lega.


"Lebih baik kita segera berangkat ke kantor," ajak Dirga.


April mengangguk dan mengikuti langkah suaminya.


...****************...