April

April
Seminggu lagi



April mengurung dirinya sampai malam di dalam kamar tanpa mau makan dan menceritakan apapun tentang apa yang dia alami.


Nadira dan Farhan sangatlah khawatir sambil terus mondar-mandir di depan kamar Anaknya.


"Coba mama bujuk April lagi supaya mau makan," ucap Farhan khawatir.


"Sudah puluhan kali mama membujuknya pa, sedari papa belum pulang dari kerja tadi," sabut Nadira.


"Apa dia sedang ada masalah dengan Airlangga ya Ma?" ucap Farhan lagi menebak-nebak.


"Mana mungkin Pa, kemarin mereka pulang dari kota B baik-baik saja kok."


Sebuah ketokan pintu membuyarkan ketegangan di antara suami istri itu. Nadira buru-buru membuka pintu, dia mengira Luna yang pulang tapi ternyata calon mantunya lah yang datang berkunjung.


"Airlangga, ayo Nak silahkan masuk," ucap Nadira hangat.


"Kamu panjang umur Nak," Sambung Farhan.


"Ada apa Om?" ucap Airlangga bingung.


Nadira mulai menceritakan semua kejadian dari tadi pagi ketika April pulang ke rumah, membuat Airlangga semakin khawatir karena seharian April juga tidak membalas pesannya maupun mengangkat panggilan telepon darinya.


"April," ucap Airlangga lembut sambil mengetok pintu kamar April yang di kunci dari dalam kamar.


Tak disangka ketika mendengar suara Airlangga, April segera membuka pintu kamarnya, Dengan mata sembab dan bengkak April keluar menemui calon suaminya itu.


Nadira yang hendak menemui mereka segera di cegah oleh Farhan dan mengajak Nadira untuk masuk kedalam kamar saja.


"Ada apa?" ucap Airlangga sambil memberanikan diri memeluk calon istrinya itu.


Airlangga berusaha menahan Amarahnya ketika mendengarkan semua ucapan April itu, dia merasa sangat sedih atas semua kejadian dikantor yang telah menimpa calon istrinya hari ini.


"Bersiaplah seminggu lagi kita akan segera menikah, agar seseorang tidak sesuka hati memfitnah mu," ucap Airlangga yang membuat April kaget karena tak menyangka pernikahan mereka akan di laksanakan secepat itu.


"Sebelum aku pulang nanti aku akan berbicara kepada kedua orang tuamu tentang hal ini," ucap Airlangga lagi yang terlihat sangat dewasa walau lebih muda dua tahun dari April.


April mengiyakan semua ucapan Airlangga toh sudah waktunya juga dia menikah dan dia juga tak ingin Alina terus mencemburi nya dan mencurigainya yang tidak-tidak.


Farhan dan Nadira juga sangat setuju saat mendengar rencana Airlangga itu, mereka berdua juga merasa sangat senang ketika April sudah mau keluar kamar dan mau makan bersama mereka di malam itu.


Walau sebagai orang tua tentunya mereka merasa sangat sedih ketika mendengar putri mereka di perlakukan seperti itu tapi mereka mencoba menutupinya agar April tidak kembali bersedih.


"Eh, ada calon kakak ipar," ucap Luna yang baru datang ikut duduk diruang makan.


Nadira hangat bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri keduanya itu.


"Kayaknya nanti kalo kak April sudah menikah dengan kak Airlangga harus banyak-banyak menghemat supaya bisa beli mobil dan rumah sendiri," ucap Luna sambil menyendok kan nasi ke dalam piringnya.


"Luna jaga sikapmu," bentak Farhan.


Nadira merasa semakin sedih melihat kelakuan Luna, entah kenapa sikap Luna itu mengingatkannya pada sikap buruknya di masa lalu kepada April dan Dirga.


"Apa kabar mereka? semoga mereka dalam keadaan yang bahagia saat ini," batin Nadira mendoakan mantan pacar dan istrinya itu.


...****************...