April

April
Masa lalu



Pagi itu Nadira berbelanja sayuran di pasar seperti biasanya, Wajahnya terlihat begitu berseri-seri mengingat acara lamaran April semalam.


Dengan senyum yang merekah dia memilih-milih sayuran di pasar itu, hingga ada suatu kejadian yang membuat senyumnya seketika sirna.


"Copet," teriaknya ketika tasnya di tarik paksa oleh seseorang.


Nadira dan beberapa orang mencoba mengejar copet itu yang tentunya berlari dengan sangat kencang. Hingga seseorang menghajar copet itu hingga babak belur.


Aji yang menderita penyakit ginjal tak disangka masih sangat fasih dalam melakukan gerakan karate yang dia dalami saat masih muda.


Copet itu akhirnya lari terbirit-birit dan meninggalkan tas Nadira yang telah di copetnya tadi.


Aji segera mengambil tas itu, tak disangka pemilik tas itu langsung berlari menghampirinya.


"Itu Tas saya Tuan," ucap Nadira.


Aji seketika menoleh kearah Nadira dan begitu kagetnya dia menatap wajah itu, wajah yang selalu menghantui kehidupannya karena rasa bersalahnya.


"Kau..." ucap Nadira terbata saat menatap Aji kaget.


"Nadira," batin Aji sambil memegangi perutnya karena penyakitnya kembali kambuh.


Mau tidak mau Nadira mengantarkannya ke rumah sakit terdekat bersama sopir pribadi Aji.


Nadira merasa lega karena Aji segera mendapatkan penganan dan perawatan, sejenak dia melupakan kenangan buruknya di masa lalu ketika Aji nekat memaksa Nadira hingga membuatnya hamil April.


"Terimakasih kau sudah mau mengantarku ke rumah sakit," ucap Aji yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.


Aji senang bisa membantu dan bertemu dengan Nadira walau belum seminggu dia harus masuk rumah sakit dua kali.


"Bagaimana kabarmu?" ucap Aji lagi sambil menatap Nadira yang hanya diam mematung tanpa kata.


"Aku baik," ucap Nadira dengan suara bergetar.


"Kenapa kau dulu pergi begitu saja? aku mencari mu kemana-mana," ucap Aji lagi.


"Sepertinya itu tidak perlu dibahas lagi, saya harus segera pulang," ucap Nadira hendak ingin segera berlalu kepada mantan teman kuliahnya itu.


"Apakah kau tau mau memaafkan ku?" ucap Aji yang membuat langkah Nadira terhenti.


Aji makin merasa bersalah kepada Nadira atas yang dia perbuat di masa lalu, dia hanya bisa mengusap wajahnya kasar menatap kepergian Nadira.


"Mama kemana aja, kok baru pulang?" ucap Luna yang mendapati Nadira pulang dengan muka masam.


Tanpa menjawab pertanyaan Luna Nadira langsung buru-buru menaruh barang belanjaannya dan mengurung diri di kamarnya.


"Ada apa dengan mama?" batin Luna sangat bingung karena tak biasannya Nadira bersikap seperti itu.


Sementara Farhan yang baru saja pulang juga dibuat bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba diam seribu bahasa padahal mereka sedang tidak punya masalah.


"Ada apa dengan mamamu?" ucap Farhan bingung.


"Luna juga tidak tau, pa," jelas Luna.


"Apa papa berantem sama mama?" ucap Luna menyelidik.


"Kapan Papa berantem dengan mamamu, apakah kau pernah melihatnya?" tanya Farhan balik.


Farhan sangat khawatir dengan perubahan sikap istrinya hingga dia berhasil membujuk dan membuat Nadira menceritakan semuanya sambil menangis mengingat kenangan buruknya di masa lalu.


Farhan hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena seseorang dari masa lalu istrinya telah kembali datang.


"Kamu tenang, kalian sudah punya kehidupan sendiri-sendiri sekarang," ucap Farhan mencoba menenangkan istrinya.


"Aku hanya takut dia akan mengambil April dariku," ucap Nadira sambil menangis.


"Kita yang merawat April dari kecil tidak akan ada yang bisa mengambil April dari kita," ucap Farhan lagi.


Setelah membagi semua ceritanya dengan Farhan membuat Nadira sedikit tenang, tak disangka seseorang sedang menguping dari balik pintu.


"Ternyata kak April bukan anak papa," batin Luna.


"Menarik berarti aku bisa semakin semena-mena dengan nya," ucap Luna sambil tersenyum jahat dan berlalu dari depan pintu kamar orang tuanya.


...****************...