April

April
Jatuh cinta



Airlangga untuk pertama kalinya mengajak April berkencan di hari Minggu, disaat mereka sama-sama libur dari rutinitas kantor mereka.


Walaupun hanya pacaran pura-pura entah mengapa April merasa sangat senang dibuatnya.


"Kau tau, kau membuatku merasakan bagaimana rasanya punya pacar di hari Minggu," ucap April malu-malu sambil menikmati jus yang dia pesan.


"Menarik sekali, untuk urusan pacaran sepertinya kau sangat polos," ledek Airlangga.


"Karena aku lebih suka bekerja, daripada membuang waktuku untuk berpacaran," jawab April.


"Apa kau tidak malu punya pacar kere seperti aku? walau hanya pura-pura."


"Untuk apa aku malu? aku juga bukan dari keluarga kaya," sahut April.


"Andai Luna memiliki sikap sepertimu, pasti aku akan merasa sangat bahagia," batin Airlangga yang belum bisa move on dari Luna.


"Eh, ga kita bertemu disini," ucap Nathan yang datang dengan menggandeng mesra Luna.


"Eh, Lo than" sahut Airlangga jeles.


Nathan langsung menginjak kaki Airlangga ketika tidak menyebutnya bos di depan Luna.


"Maksudnya Pak Bos Nathan," ulang Airlangga yang membuat Nathan senang.


"Kok Bos? kan bosnya Airlangga kan Bu Alina dan Nathan ini kan kalo nggak salah staf baru juga di kantor Bu Alina," batin April bingung.


"Eh kak April, kenalin ini Nathan. Dia CEO lho," ucap Luna dengan bangganya kepada April.


Mendengar ucapan Luna itu tentunya membuat April sangatlah bingung, namun saat dia hendak berbicara dia melihat Nathan mengedipkan matanya, membuatnya memilih untuk diam karena April sendiri juga tidak akur dengan Luna.


"kakak itu kalo cari pacar minimal harus CEO, jangan kere di pacari," ucap Luna sambil melirik sinis ke arah Airlangga.


Mendengar ucapan Luna membuat April menyunggingkan senyuman manisnya tanpa menjawab sepatah katapun.


"Beb, mending kita makan di tempat lain saja enek lihat mereka," ucap Luna sambil menggandeng mesra Nathan.


"Maafkan sikap adikku," ucap April yang belum mengetahui hubungan Airlangga dan Luna sebelumya.


"Yang dikatakan adikmu ada benarnya?" sahut Airlangga merendah.


"Dia itu memang seperti itu jangan di masukkan kedalam hati, dia saja ketipu CEO gadungan tapi tidak sadar," ucap April.


"Darimana kau bisa tau?" tanya Airlangga yang lupa bahwa April sering datang ke kantornya.


"Tentu aku tau, aku kan sering di suruh bosku ke kantor bosmu," jawab April.


Airlangga hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya walau sebenarnya tidak sedang gatal, sedangkan April hanya nyengir sambil menatap Airlangga.


Setelah kembali ke kosnya, setelah pertemuannya dengan April di cafe tadi, entah kenapa Airlangga selalu terbayang-bayang wajah April. Bahkan dia senyum-senyum sendiri mengingat pertemuannya tadi, hingga membuat sahabatnya Gani yang juga berada dalam 1 kos merasa bingung dengan tingkah Airlangga.


"Dia tidak demam," ucap Gani sambil menempelkan telapak tangganya di kening Airlangga.


"Apaan sih lo, gan?" protes Airlangga.


"Kenapa Lo senyum-senyum sendiri?" ucap Gani.


"Kepo," jawab Airlangga kesal.


"Lo lagi jatuh cinta ya?" ucap Gani lagi.


"Apa iya gue suka dengan kakaknya Luna?" batin Airlangga malah bingung sendiri.


"Gue mau mandi dulu," ucap Airlangga mengalihkan pembicaraan sambil beranjak membawa handuknya.


Walau terbiasa dengan kehidupan mewah sejak kecil, tapi Airlangga sama sekali tidak merasa kesulitan dengan kehidupan anak kos yang dia jalani selama ini, Gani hanya bisa menatap nyengir sahabatnya yang beranjak pergi ke kamar mandi.


...****************...