
Di Rumah Oma...
Dirga sibuk mengendong bayi nya yang sedang menangis, karena pengasuh bayinya sedang izin untuk cuti sehari.
Bukannya mengurus bayinya Kirana malah keluar rumah dengan alasan pekerjaan.
"Oma tidak habis pikir istrimu Kirana seperti itu kelakuannya, tidak mau menyusui anaknya alasannya takut asetnya kendor dan sekarang baby sister libur entah malah kelayapan kemana?" keluh Oma sambil memberikan botol susu pada Dirga.
Dirga mengendong anaknya dan memberikannya susu, sambil terus mengingat wanita yang dia gendong kemarin. Dia merasa sudah mengenal lama wanita itu.
"Oma, apa aku pernah mengenal seorang wanita yang bernama Aprilia?" tanya Dirga pada Oma.
"Kamu ini ngomong apa? Aprilia kan nama anakmu," ucap Oma menghindar.
Melihat Dirga yang repot mengurus bayinya digunakan Oma untuk meminta tanda tangan Dirga. Dirga sampai izin cuti karena ingin mengurus anaknya.
"Ini ada beberapa berkas penting,asisten kamu menunggu di depan. Oma sudah periksa semua berkas, kamu tinggal tanda tangan saja," ucap Oma, Oma menyelipkan berkas perceraian diantara berkas berkas kantor, Agar Dirga tidak curiga.
Oma mengantikan mengendong Prilly (nama panggilan anak Dirga). Dirga menandatangi surat surat itu tanpa membacanya terlebih dahulu. karena Prilly tidak henti menangis.
Oma berhasil mendapatkan tanda tangan Dirga, Oma segera menghubungi Arya dan akan menyerahkan surat itu ke pengacaranya.
"April, andai kecelakaan itu tidak terjadi," ucap Oma sambil memandangi surat itu.
Sebenarnya Oma sudah sangat menyayangi April, tapi dia hanya ingin yang terbaik untuk Dirga.
...***************...
Setelah bertemu klien nya,Arya mengajak April untuk jalan jalan ke taman kota.
"April, udah donk ngambeknya," Arya terus berusaha mendapatkan maaf dari April.
"Kamu jangan pernah berharap aku tidak disentuh lelaki manapun selain kamu, bagaimana pun aku sudah pernah menikah," ucap April kepada Arya yang berlutut dihadapannya.
sebenarnya April juga sangat merasa bersalah pada Arya, karena memang belum bisa melupakan Dirga.
Di tempat yang sama Dirga mengajak Prilly, berjalan jalan menggunakan stroller. Sedangkan Arya pergi untuk membeli es krim untuk April. April menunggu di taman, sambil memperhatikan bayi di stroller yang di tinggal ayahnya sibuk menelpon membelakanginya. Bayi itu tak henti menangis. April mendekatinya dan mengendong, menenangkan bayi itu sampai anteng dan tidak menangis lagi.
Dirga yang selesai menelpon, melihat wanita yang di tolongnya kemarin. memangku putrinya diatas kursi rodanya.
Dirga yang pura pura batuk dan membuat April menoleh ke arahnya.
"Maafkan aku, tapi bayimu menangis terus," ucap April kepada ayah bayi itu, yang tak menyangka adalah Dirga.
"Tidak apa justru aku berterima kasih," balas Dirga.
"Boleh saya tau nama bayi ini?" ucap April sambil memandang Prilly penuh kasih sayang.
"Aprilia," ucap Dirga.
Hati April bergetar dia bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Dirga, kenapa dia tidak mengenalinya dan sekarang putrinya bernama sama dengannya.
"Kenapa kamu memberikan nama itu?" tanya April lagi.
"Apa tidak boleh? aku suka nama itu," balas Dirga. yang membuat April semakin merasa ada yang aneh dengan Dirga.
April mengembalikan Prilly kedalam stroller dan berpamitan pergi, takut Arya kembali dan melihatnya.
"Tunggu boleh kah saya tau nama anda?" ucap Dirga menghentikan April.
"Aprilia," ucap April menoleh dan segera beranjak pergi.
"Nama yang sama, sebenarnya siapa dia?" batin Dirga bertanya dalam hatinya.
Kepala Dirga mendadak sakit lagi,untung ada Bima yang segera menolongnya. Dirga berhasil mengigat wajah April yang tersenyum kepadanya.
...****************...