
Dirga membaringkan April di sofa dan Mengoleskan minyak Angin untuk menyadarkan April. Ibu Arini yang melihat sepucuk surat di genggaman tangan April bergegas mengambilnya. Ibu Arini tak henti menangis setelah membaca surat itu, Hatinya merasa sangat sedih. Dirga lalu meminta surat itu dan mulai membacanya.
"Begini caramu berpamitan kawan, kau melukainya dengan kebohonganmu," batin Dirga sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Beberapa saat kemudian April mulai sadar dan menangis histeris. Dirga mencoba terus menenangkannya sedangkan Bu Arini tidak mampu berkata kata.
"April, tenanglah," ucap Arya berusaha terus menenangkan April.
"Laki laki itu pembohong, dia membuatku merasa dicintai selama bertahun tahun tapi sekarang dia menghancurkan aku dalam hitungan menit," ucap April sambil terisak menangis.
"Kamu harus kuat demi Bintang, dia sangat membutuhkan kamu," ucap Dirga lagi.
"Apa wanita cacat memang pantas diperlakukan seperti ini?" ucap April sambil menghapus air matanya.
"Tidak, Nak. justru karena Arya sangat mencintaimu," batin Ibu Arini sambil menahan air matanya agar tidak di lihat April.
Mendengar tangisan Bintang April yang tadinya menangis langsung menghapus Air matanya, dan menggendong Bintang. Setelah April tenang Dirga berpamitan untuk pergi ke kantor.
...****************...
Seminggu berlalu April masih mengurung dirinya di dalam kamar, dia mulai melihat ponsel nya dan mengecek sosial media milik Arya. April melihat unggahan terakhir Arya seminggu Yang lalu, menampilkan foto dirinya dengan Arya di pantai menggunakan baju couple hitam. April merasa bingung karena laman sosial milik Arya juga terakhir aktif seminggu yang lalu.
Suara ketokan pintu terdengar, April membuka pintu kamarnya melihat ibunya berdandan rapi dengan pakaian serba hitam.
"Ibu mau ngelayat kemana?" tanya April kaget karena tetangga komplek tidak ada yang meninggal begitupula saudara dan kenalannya.
"Teman Nak Dirga ada yang meninggal, Ibu mau ikut ngelayat ke kota J,"
"Sejak kapan Ibu kenal temanya Mas Dirga?" tanya April bingung.
"Ibu nggak enak sama Nak Dirga, dia selama ini sudah baik sama kita," jelas Ibu.
"Ibu, Ayo kita segera berangkat," ucap Dirga menghampiri Bu Arini.
"Iya, Nak" balas Bu Arini.
April yang merasa Aneh melihat Ibunya dan Dirga yang pergi terburu buru, hanya menjawab dengan anggukan kepala.
April kembali ke kamarnya, tiba-tiba bingkai Foto Arya yang tergantung di dinding kamarnya jatuh dan pecah, April berjongkok dan memunguti pecahan kaca itu.
"Kamu dimana Mas? aku berharap ini hanya permainan mu untuk mengujiku, kembalilah aku sangat merindukan mu," Ucap April sambil memandangi foto Arya.
...****************...
5 Hari kemudian April memutuskan pergi ke kantor Arya, Dibantu Adiknya Deril April membawa barang barang yang telah Arya berikan padannya untuk dikembalikan. Saat di lobi April bertemu dengan Nadira yang bekerja di kantor Arya.
"April," ucap Nadira menyapa.
"Nad, Gimana kamu kerasan kerja disini?" jawab April basa-basi.
"Iya aku kerasan kok, kamu pasti mau cari Arya kan?" tanya Nadira.
"Iya, Mas Arya ada kan?" Tanya April.
"Arya sudah seminggu lebih tidak ke kantor, sementara kantor dipimpin pak Wisnu (Ayah Arya)," jelas Nadira.
"Sampai seperti ini kamu menjauhi aku, Mas," batin April tak berasa air matanya menetes.
"Kamu sudah menemukan keberadaan Dirga ?" Tanya Nadira.
"Mas Dirga tinggal...." ucap Deril terputus karena kakinya dipukul kruk oleh April.
"Belum Nad, Nanti kalau ada kabar aku hubungi kamu," sela April. Karena memberi tau keberadaan Dirga, sama saja akan membuatnya kehilangan Bintang.
"Kalau kamu mau nemuin Pak Wisnu kebetulan beliau sedang mengunjungi kantor ini," jelas Nadira.
"Iya Nad, Aku temui Ayah Wisnu dulu," ucap April sambil berlalu.
...****************...