
Di rumah bunda Mona...
"Apa yang kita takutkan sudah terjadi Dirga," ucap Bunda Mona kepada Dirga.
"Entah apa yang akan aku katakan padanya, Bun," jawab Dirga sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Jadi kamu selama ini sudah, Mas sudah tau?" ucap April menghampiri mereka, yang ternyata menguping obrolan Bunda Mona dan suaminya dari balik pintu.
"Kamu sudah Sadar, Nak?" ucap bunda Mona.
"Jawab Mas!" teriak April tanpa menjawab ucapan Bunda Mona.
Dirga tidak menjawab dan hanya menutup kedua matanya.
"Aku benci Kamu Mas, tega kamu Mas," ucap April sambil menangis sesenggukan. April merasa kecewa karena dia tidak bisa menemani Arya disaat-saat terakhir masa hidupnya. Dan ternyata Dirga malah menyembunyikan semua itu.
"April Tolong kamu jangan menyalahkan Dirga, Ini semua keinginan Arya," ucap bunda Mona mencoba menjelaskan.
"Kenapa Bunda juga harus menyembunyikan semuanya ini dari April?" ucap April kecewa.
"Maafkan Bunda Nak," ucap Bunda Mona ikut menangis.
"Kak Dirga kok disini?" ucap Ayra yang baru datang membelah ketegangan diantara mereka bertiga.
Dirga yang menahan sesak di dadanya tidak menjawab ucapan Ayra.
"Ayra pergilah ke kamar!" ucap bunda Mona
Melihat ada hal yang tidak beres Ayra menuruti perintah Bundanya dan segera masuk ke dalam kamar.
Bunda Mona lalu menghampiri April yang tertunduk lemas dan memberikan sebuah buku kecil kepada April.
"Ambilah Nak! ini Milik Arya," ucap bunda Mona.
April mulai membacanya dan tangisannya semakin menjadi. Buku itu berisi tulisan Arya seminggu sebelum kematiannya, dia menuliskan tentang perasaanya kepada April dan ketakutannya menjelang kematiannya. April yang membacanya malah kembali pingsan.
Dengan permintaan Bunda Mona, Dirga memutuskan mengajak Istri dan anaknya bermalam di rumah bunda Mona karena sudah larut malam dan kondisi April yang tidak stabil.
Dirga Menghisap rokok di teras belakang untuk menenangkan pikirannya yang runyam. April belum bisa memaafkannya, Dia lebih memilih mengunci dirinya di dalam kamar tanpa Mau berbicara dengan Dirga sedikit pun.
"Makasih ya, Ra," sahut Dirga.
"Ternyata istri kak Dirga itu, Mantan pacar kak Arya," ucap Ayra memulai pembicaraan. Ayra sudah mengetahui semuanya dari bunda Mona.
Dirga hanya menganggukkan kepalanya.
"Kak Dirga sabar ya, nggak seharusnya Kak April bersikap seperti itu. Kan Kak Dirga sekarang sudah menjadi suaminya, harusnya Kak April harus bisa menghargai Kak Dirga," ucap Ayra memanas-manasi Dirga. karena Ayra ingin merebut Dirga dari April.
"Mungkin dia masih butuh waktu," balas Dirga. Yang membuat Ayra tidak senang.
...****************...
Pagi Hari...
Setelah sarapan semua orang berkumpul karena Dirga sekeluarga hendak berpamitan, sedangkan April matanya masih berkaca-kaca dihiasi dengan Air mata. Dia menolak berbicara dengan siapapun karena dia merasa kecewa semua orang telah membohonginya.
Pagi itu Ivan datang membawa beberapa Map dan langsung menghampiri semua orang.
"Ivan tolong segera sampaikan wasiat terakhir dari Arya," ucap pak Wisnu yang sudah mengetahui maksud kedatangan Arya.
"Baik Pak, Saya selaku sekertaris Almarhum dari Pak Arya ingin menyampaikan Surat wasiat Dari beliau, Yang menyatakan bahwa semua semua aset kekayaan Pak Arya akan di wariskan kepada Mbak April," Ucap Ivan yang membuat semua Orang tercengang kecuali Pak Wisnu yang terlihat santai.
"Tidak bisa, aku adiknya aku lebih berhak menerimanya," ucap Ayra tidak terima.
"Kak Arya punya 4 perusahaan besar, belum deposito dan investasi yang dia miliki. Tidak boleh semuanya jatuh ke tangan wanita ini," batin Ayra.
"Hargai keputusan kakakmu, Semua itu hasil jirih payahnya sendiri dan April Lah selama ini yang menjadi motivasi untuk dia menjadi sukses," ucap Bunda Mona sambil memeluk April, sedangkan April terus menangis sampai matanya bengkak.
"Kalo memang itu keputusan Arya Kami hargai, Ivan tolong urus semuanya sampai semua menjadi Hak milik yang berhak menerimanya sesuai dengan isi surat wasiat itu," ucap Pak Wisnu, yang sebenarnya sudah tau sejak lama tentang surat wasiat itu. Tapi dia tidak mempermasalahkannya.
"Nggak bisa dong Yah, Dia bukan bagian dari keluarga ini," ucap Ayra sangat marah.
"Siapa yang bilang? Dia adalah Putriku," ucap bunda Mona sambil memegang dagu April dan menatapnya penuh kasih sayang.
"Kau merebut Kak Dirga dariku, Harta Kak Arya, sekarang kau juga merebut Ayah dan Bundaku," batin Ayra yang semakin tidak menyukai April.
...****************...