
April sangat merasa bahagia karena setalah 5 tahun kakinya cacat kini kembali berfungsi dengan baik. Pagi itu April bergegas mengantarkan sarapan untuk Dirga kerumahnya.Tak disangka sesampainya di sana April bertemu Nadira yang datang untuk menjemput Prilly.
"April kenapa kamu disini?" sapa Nadira.
"A-aku..." ucap April terbata karena kepergok Nadira.
"Ada Apa ini?" tanya Dirga serius.
"Dia temanku, selama ini dia membantuku mencari keberadaan mu. Dia bilang dia tidak bisa menemukan alamatmu, tapi kenapa dia sekarang malah ada disini?" ucap Nadira menjelaskan kepada Dirga yang dikiranya masih Amnesia.
"Dia tetangga baru disini, baru hari ini aku bertemu dengan nya." ucap Dirga berbohong sambil melirik kearah April seperti meminta penjelasan.
"Maaf ya April aku telah berburuk sangka padamu," ucap Nadira mendekatinya dan memegang tangannya.
April hanya menganggukkan kepalanya, dan memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini, karena pasti Dirga pasti meminta penjelasan dari nya.
Dirga menggendong Prilly dan menciuminya sebenarnya sangat berat dia melepaskan Prilly karena dia sangat menyayangi Prilly. Tapi dia tidak mungkin memisahkan anak dari Ibu kandungnya.
"Nadira sebelumnya maafkan aku, tapi setelah ini aku akan memproses perbuatan Ibumu sesuai hukum yang berlaku," ucap Dirga sambil menyerahkan Prilly.
"Sepertinya itu tidak perlu, Ibu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Ibuku mengalami stroke beberapa bulan yang lalu," jelas Nadira.
"Baiklah kalau memang itu yang terjadi, Aku harap kamu bisa menjaga Prilly dengan baik," sambung Dirga.
"Aku dan Prilly permisi dulu, terimakasih karena selama ini kamu sudah merawat putriku dengan baik. semoga kamu juga cepat bisa bertemu dengan putrimu," ucap Nadira berpamitan.
"April, aku duluan ya?" sambung Nadira kepada April.
"Kamu hati-hati, Nad" sahut Prilly.
Melihat Nadira keluar membuat April bergegas mengikutinya dia ingin kabur dari Dirga karena dia berutang penjelasan kepada Dirga. Saat April membalikkan badannya karena ingin pulang, Dirga yang terduduk di sofa menariknya hingga April jatuh dan terduduk pangkuannya.
"A-aku mau mandiin bintang Mas," ucap April gugup.
"Bisa kamu jelaskan dulu maksud perkataan Nadira tadi?" ucap Dirga yang membuat April menutup kedua matanya.
"Aku akan menjelaskannya ketika nanti kita sudah menikah," ucap April dengan suara bergetar.
"Bersiaplah Minggu depan kita akan menikah," jelas Dirga.
"Secepat itukah?" tanya April heran.
"Lebih cepat lebih baik," jelas Dirga.
"Tapi..." ucap April terputus karena Dirga menempelkan jari manisnya di bibirnya. Dirga menatapnya dalam dan hendak mencium bibir ranum yang sangat dirindukannya itu.
"Permisi tuan," ucap Wina. Yang membuat April seketika bangun dari pangkuan Dirga.
"Kamu sudah mau berangkat Win?" ucap Dirga sedikit kesal.
"Maaf Pak Dirga saya mengganggu saya kira tadi Pak Dirga cuma sendirian," ucap Wina sambil mengigit bibir bawahnya.
"Kamu mau kemana win?" tanya April sambil menatap Wina yang menggendong tas besar.
"Saya mau berpamitan pulang, Karena Prilly sudah tidak ada disini. Jadikan sudah tidak ada yang bisa saya emong lagi Bu, kan nggak mungkin saya mau ngemong Pak Dirga," canda Wina. Yang membuat Dirga membulatkan matanya dan membuat April menutup mulutnya karena menahan tawa.
"Ya, sudah kamu Hati-hati ya Win. Ini ada sedikit dari saya karena kamu juga sering ikut jagain Bintang" ucap April sambil mendekati Wina dan memberikan beberapa lembar uang keras merah.
"Terimakasih ya Bu April," ucap Wina lalu beranjak pergi.
...****************...