April

April
Dompet



"Airlangga Raharja," ucap April membaca KTP yang terselip dalam dompet itu.


"Jadi namanya Airlangga, Tapi nama belakang Kami kok bisa sama ya?" ucapnya lagi sambil membolak-balik KTP yang dipegangnya.


"Ternyata dia lebih muda dua tahun dariku," ucap April lagi sambil memasukkan KTP itu kembali.


April segera bergegas bersiap untuk berangkat bekerja. Dia memoleskan lipstik warna pink kalem favoritnya ke bibir ranumnya dan tak lupa juga mengaplikasikan bedak serta blush on ke wajahnya yang tentunya menambah cantik penampilannya.


Dengan langkah tergesa-gesa April mendatangi warung makan tempat pertama kali dia bertemu dengan Airlangga, dia berharap bisa bertemu dengan Airlangga di sana.


"Lo nggak usah cemberut terus ga, kan gue udah traktir lo," ucap sahabatnya Nathan.


"Makasih ya tan, nanti kalo udah gajian gue bakal ganti," sahut Airlangga.


"Nggak usah Lo pikirin sama kaya siapa aja," ucap Natan lagi sambil menepuk punggung Airlangga, walaupun sombong tapi Nathan memiliki hati yang baik.


"Iya ga," timpal Gani yang juga ikut sarapan.


"Tapi gue sedang memerlukan bantuan Lo berdua sebenarnya," ucap Nathan kepada kedua sahabatnya.


"Apa?" sahut Airlangga dan Gani secara bersamaan.


"Gue lagi pendekatan sama cewek," ucap Nathan malu-malu.


"Terus apa hubungannya dengan kami berdua?" tanya Gani bingung.


"Gue mau bertemu sama dia besok, dan tugas kalian berdua adalah mendukung pertemuan kami menjadi lebih sempurna."


Airlangga dan Gani hanya saling tatap satu lain memikirkan apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Nathan.


Setelah selesai menyantap sarapan, mereka bertiga membubarkan diri dan beranjak untuk berangkat bekerja ke kantor.


"Tunggu," ucap April menghentikan langkah Airlangga yang hendak menyusul kedua temannya.


"Ada apa kamu mencari ku?" tanya Airlangga sambil menatap ke arah April.


"Ini milikmu, kamu menjatuhkannya di depan rumahku kemarin," jawab April sambil memberikan dompet itu kepada Airlangga.


"Terimakasih," ucap Airlangga singkat sambil beranjak meninggalkan April yang masih berdiri mematung.


"Dingin sekali bocah ini, padahal aku sampai tidak menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu hanya untuk mengembalikan dompet miliknya" batin April sedikit kesal karena melihat sikap Airlangga yang datar.


Dengan wajahnya yang masih kesal April memasuki ruangan bosnya, ternyata Axel sudah menunggu kedatangannya.


"Maafkan saya bos," jawab April sambil menunduk.


"Hukumanmu," ucap Axel sambil memberikan bucket mawar merah kepada April.


"Bunga?" tanya April bingung sambil menerima bucket bunga itu.


"Antarkan bunga itu kepada Alina!" jelas Axel.


"Harus ketemu Bu Alina lagi, pasti mukanya akan jutek abis," batin April protes, karena pacar bosnya itu memang tidak menyukainya.


"Baik bos, saya permisi," ucap April dengan wajah pasrahnya.


Dengan langkah gontai April meninggalkan kantor bosnya, dan beranjak menuju ke kantor Alina yang bersebelahan. Karena jarak yang terlalu dekat April memilih untuk berjalan kaki sambil membawa bucket itu.


Sialnya saat sampai dilobi April terpleset dan tak sengaja bucket bunga itu terlepas dari itu tangganya hingga membuatnya rusak, beberapa kuntum berceceran bahkan patah karena tidak sengaja terinjak seseorang yang tak lain adalah Airlangga.


"Habislah aku," ucap April sambil menepuk jidatnya.


"Ada apa ini?" ucap Alina tiba-tiba datang sambil menatap tajam ke arah April.


April yang kebingungan memilih diam seribu bahasa, dia kebingungan hendak berkata apa? karena pasti masalah ini akan tetap sampai ke telinga Axel walaupun dia sudah membela diri.


"Ini salah saya Bu, saya tidak sengaja menabraknya," ucap Airlangga sambil mengulurkan tangannya membantu April berdiri.


"Kenapa bocah ini malah berbohong untuk membelaku," batin April kagum.


"Tolong lain kali kamu jangan membuat keributan di kantor saya," ucap Alina menatap tajam ke arah April, sambil berlalu tanpa memperhatikan bucket bunga yang tercecer dilantai.


"Kenapa kamu berbohong, ini semua kecerobohan," ucap April setelah Alina pergi.


"Mending sekarang kamu segera membeli bucket yang serupa," ucap Airlangga sambil memungut bucket bunga itu.


"Tapi," ucap April lagi sambil memandang jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku akan mengantarmu tidak jauh sini ada sebuah toko bunga," ucap Airlangga sambil menggandeng tangan April.


Tiba-tiba April merasa sangat kagum kepada sikap laki-laki yang usiannya lebih muda dua tahun darinya itu, April yang selama ini sulit jatuh cinta kepada lawan jenisnya tiba-tiba hatinya merasa tersentuh dengan laki-laki tampan itu, entah beberapa laki-laki yang telah di tolaknya dan dia lebih memilih menjadi jomblo walaupun umurnya sudah 25 tahun.


...****************...