
“Kamu sendiri yang membeli rumah ini?”
Narendra masih berjalan di ruang basement, memeriksa satu per satu fasilitas yang tersedia di sana setelah memeriksa lantai atas juga. Liam mengangguk. Dia mengeluarkan satu botol wine dari lemari penyimpanan dan meletakkan dua buah gelas di atas meja.
“Hanna tidak terlalu suka keramaian, dan rumah ini jauh dari kebisingan. Saat Hanna mengatakan dia menyukai sesuatu yang sepi, aku pikir ini rumah masa depan yang paling tepat untuk kategorinya.” Sahut Liam.
“Tapi bagaimana denganmu?” Narendra menerima segelas wine dari Liam. “Kamu sudah terbiasa hidup dalam dunia yang bising dan ramai. Apa kamu tidak terpengaruh dengan pilihan Hanna?”
“Menurutku malah bagus. Aku bisa sekalian rileks dan bersantai di sini, menikmati kesendirian yang jauh dari bunyi klik kamera dan cahaya flash yang nyaris membutakan mata.”
Nerendra merenung. Dia menatap Liam kemudian. “Ku pikir puteriku tidak seberharga itu bagimu.”
Liam tersenyum. Bagaimana mungkin Hanna tidak berharga dan penting? Jika tidak bertemu Hanna, entah jadi apa kehidupan Liam saat ini. Bisa jadi dia masih keluar masuk hotel setelah bermandikan keringat dan nafsu. Atau dia sedang mabuk-mabukan di meja belakang club malam bersama wanita-wanita seksi yang ujung-ujungnya juga akan melibatkan nafsunya. Karena Hanna lah dia bisa menjadi Liam yang sekarang walau dia mengakui dirinya masih jauh dari kata sempurna untuk Hanna.
“Aku justru berpikir aku yang tidak seberharga ini buat Hanna.” Gumam Liam.
“Kamu tahu, setiap anak perempuan adalah berlian di keluarganya, khususnya bagi Ayahnya. Hanna sangat berharga bagi kami karena dia sosok yang paling sering menguatkan kami. Dia tidak banyak bicara, tidak terlalu suka mengekspresikan dirinya dan mengutarakan masalahnya demi menjaga perasaan kami. Dia mandiri, sejak kecil selalu mengandalkan dirinya untuk menjadi lebih baik. Dia... sangat berharga bagi kami.” Narendra menatap Liam sungguh-sungguh. “Dan kehidupanmu yang bergelimang harta ini sedikit membuat kami ragu, benarkah kamu bisa mencintai Hanna apa adanya?”
Narendra lalu menarik nafas panjang.
“Aku pribadi sebagai Ayah sangat mencintai Hanna. Aku bahkan tidak rela dia terluka sedikitpun. Saat penyekapan waktu itu, aku nyaris mengambil penerbangan kembali ke sini, namun Hanna langsung menghubungiku dan meminta agar aku tidak muncul dulu sebelum masalahnya benar-benar selesai. Kamu tahu, Hanna tidak akan pernah menyusahkanku. Dia selalu punya cara untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.”
Liam bisa melihat kedua bola mata Narendra berkaca-kaca. Saat itu dia paham sekali tentang perasaan seorang Ayah pada puterinya yang berharga yang sebentar lagi akan dilepasnya.
“Jadi..” Narendra bergeser, menghadapkan tubuhnya pada Liam. “..jika kamu tidak sungguh-sungguh pada Hanna, aku akan memberimu waktu seharian untuk berpikir ulang. Aku tidak mau Hanna tersakiti dengan ...” Narendra menunjuk diri Liam. “..apa yang ada padamu ini.”
“Tidak Ayah!” seru Liam tegas. Dia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan menukar Hanna lagi dengan siapa pun, juga tidak akan mengembalikan Hanna pada kalian. Izinkan kami membentuk masa depan kami sendiri dan percayalah padaku, aku tidak akan mengecewakan Hanna.”
“Ayah? Kamu baru saja memanggilku Ayah?” gumam Narendra sedikit terkesiap.
“Ayah keberatan jika ku panggil Ayah?”
“Tidak juga. Hanya.. sedikit kurang terbiasa.” Sahut Narendra. “Jadi keputusan kalian sudah bulat? Yakin kamu akan bertahan dengan Hanna tanpa menyakitinya?”
“Percayalah padaku, Yah.”
Narendra menyesap wine dari gelasnya, tak lama terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sebenarnya aku bisa melihat jika Hanna bahagia bersama mu, terlepas dari kesalahan yang kalian perbuat sebelumnya.”
Saat Narendra melihat Liam sedikit bingung, dia kembali berucap, “Bayinya. Seharusnya kalian tidak melakukannya sebelum pernikahan berlangsung.”
“Tapi jika kami tidak melakukan kesalahan itu, mungkin kami tidak akan bertemu. Maksudku bukan berarti membenarkan tindakan kami, tapi jujur, aku bahagia melakukannya bersama Hanna. Bertemu dia adalah anugerah Yah.”
“Takdir ya?” gumam Narendra. “Baiklah. Aku tidak akan bicara lebih banyak lagi padamu. Aku percaya padamu Liam..” Narendra menepuk pundak Liam. “..dan yang paling utama, aku percaya pada pilihan puteriku.”
“Tapi ada satu hal yang ingin ku ceritakan pada Ayah.” Sahut Liam.
“Tentang masa lalu mu?” Narendra menebak.
Liam melongo. Apa itu artinya Hanna sudah memberitahu mereka?
“Hanna sudah menceritakan semuanya dan menurut kami, kamu tidak ada hubungannya dengan para penjahat itu. Bukankah kamu sekarang menjadi seorang Liam berkat usahamu sendiri? Kamu baik-baik saja sekarang. Kamu dewasa, bertanggung jawab, baik, sukses... Seujung kuku pun kamu tidak terikat pada mereka.” Tandas Narendra.
“Tapi...”
“Terikat dengan masa lalu itu tidak bagus Nak.” Narendra menepuk pundak Liam. “Jangan mau diperalat oleh keadaan. Pikirkan saja Hanna dan bayi kalian, pikirkan tentang semua hari-hari yang akan kalian lalui bersama. Masa lalu itu tidak punya hak untuk merusak kebahagiaanmu setelah kamu berjuang mati-matian untuk mencapainya. Hari-harimu terlalu berharga untuk hal-hal seperti itu Liam.”
Liam tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Tadinya dia mengira berhadapan dengan orang tua Hanna akan sedikit menyulitkan. Namun siapa yang menyangka jika dirinya akan dicintai dan dipedulikan oleh orang tuanya, bahkan langsung diterima? Liam merasa sangat berharga, dia menyadari kehidupannya mendadak terlalu indah untuk dirusak oleh semua kenyataan pahit itu.
Liam tertawa kecil. “Baiklah Yah. Lebih baik kita naik.”
*
“Apa saja yang kalian bicarakan?”
Hanna menggandeng lengan Liam saat berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di tengah kota setelah Liam berbicara dengan panjang lebar bersama calon mertuanya sepanjang pagi. Liam mengerling. Walau memakai masker untuk menutupi wajahnya, Hanna tahu dari sudut matanya jika dia terlihat sedang tersenyum.
“Sudah ku bilang ini urusan para lelaki.” Sahut Liam.
Hanna berdecak. Dia mengapi tangan Liam seraya melihat-lihat.
“Untuk apa kita ke sini?”
“Mencari cincin.”
“Cincin?”
“Bukankah kita berencana menikah Han? Cincin bukan sesuatu yang seharusnya membuat reaksimu terkejut seperti itu.”
“Bukan terkejut..” Hanna tertawa. “Aku hanya sedikit.. kaget?”
“Sama saja.” Liam mendengus.
Dia menaik tangan Hanna memasuki salah satu toko perhiasan besar di dalam pusat perbelanjaan. Seketika sisi wanita Hanna mulai terusik saat melihat batuan-batuan berharga itu dipajang di etalase, memantulkan cahaya putih bersinar yang membuat mata takjub.
“Aku akan ke sana.” Hanna menunjuk ke salah satu etalase yang terletak di paling ujung.
Liam menahan tangannya. “Aku tahu apa yang kamu lakukan. Tapi kita akan menikah Han, dan aku tidak peduli berapa pun harga cincinnya, jika kamu menyukainya, aku akan membelinya. Jadi, jangan melihat di bagian yang paling murah.”
“Kita tidak perlu membuang-buang uang Liam. Tidak perlu berlebihan soal cincin.”
“Kamu sangat konservatif.” Sungut Liam. “Aku akan memberimu semuanya Han, semua yang bisa ku berikan padamu, termasuk berlian yang paling mahal sekalipun.”
Waktu Hanna akan membuka mulutnya untuk menyahut, Liam menarik tangannya kembali ke etalase yang memajang berlian-berlian dengan batu tunggal berukuran raksasa dan sangat mahal. Liam melihat-lihat sebentar, lalu menunjuk pada satu buah cincin yang memiliki berlian berbentuk bulat sebesar empat karat. Hanna langsung menggeleng cepat, namun Liam tetap bersikeras membelinya.
“Percaya padaku, orang-orang akan berusaha membunuhku demi berlian ini.” sungut Hanna waktu mereka keluar dari toko perhiasaan, namun jauh dalam hatinya, Hanna sendiri tahu jika dia sangat bahagia.
“Tidak akan, Han. Aku akan menjagamu selama dua puluh empat jam.” Seloroh Liam.
Kenyataan jika Hanna lebih menyukai cincin yang lebih murah, atau fakta bahwa dia tidak pernah menuntut Liam membelikannya barang-barang mewah dan branded, membuat Liam semakin senang memanjakan Hanna dengan kemewahan yang dia punya. Melihat Hanna tersenyum malu-malu dan merona saat pelayan toko menyemangatinya untuk mencoba cincin tadi, membuat Liam tidak berpikir dua kali untuk membelinya.
Saat perjalanan pulang, Hanna terus menatap batu berlian yang tersemat di tangan kirinya seolah-olah dia berpikir jika benda itu akan menghilang jika tidak diawasi. “Seharusnya kita tidak membeli cincin seharga satu unit rumah Liam. Kita masih punya pengeluaran yang lebih besar lagi selanjutnya.” Hanna mengusap perutnya.
“Tenang saja.” Liam tertawa, mengelus rambut Hanna sembari berkonsentrasi menyetir. “Aku tidak sembarangan mengeluarkan uang Han. Kamu memang pantas mendapatkannya, dan kalau kamu khawatir tentang keuanganku, kamu salah besar. Memangnya menurutmu kemana semua hasil kerja kerasku selama ini?”
“Mmm, foya-foya mungkin?” tebak Hanna.
“Aku hanya menyukai wanita, tapi itu dulu. Berfoya-foya bukan gayaku.”
“Jadi aku akan menjadi Nyonya Andreas sebentar lagi yang langsung kecipratan harta hasil kerja kerasmu selama ini?”
“Kamu beruntung sekali.” Liam tertawa.
Wajah Hanna merona saat Liam menertawakannya. Rasanya dia benar-benar bahagia dan terbang. Liam sangat pandai memujinya, dan pujian Liam bukanlah pujian yang berlebihan. Dan demi apa pun, Hanna sangat menyukai Liam.