Way Back To You

Way Back To You
Aku Merelakan Dia



“Terimakasih sudah mengantarku pulang.”


Hanna berdiri di depan pintu rumahnya. Kakinya lelah, tubuhnya ingin segera berendam dalam tub berisi air hangat yang bisa membuatnya rileks. Demi mengembalikan mood Hanna, Liam mengajak Hanna menghabiskan sepanjang siang di dalam perpustakaan. Untung saja Liam mengerti bagaimana caranya membuat Hanna kembali semangat. Namun semua itu justru membuat Hanna sedikit kelelahan karena dia juga mulai terpengaruh oleh hormon kehamilannya.


“Kamu nggak mengundangku masuk ke dalam?” Liam menyandarkan tubuhnya di mobil, menatap Hanna dengan tatapan nakal dan kerlingan jahil.


“Aku mau langsung istirahat.” Tolak Hanna tegas.


“Yahh...” Liam mendekati Hanna. “Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu berdua denganmu.” Dengan lembut Liam menggosok hidungnya di wajah Hanna hingga membuat wajah Hanna memerah dan menimbulkan sensasi hangat di dalam dirinya.


“Jangan bercanda kamu.” Hanna mendorong Liam, berusaha mengumpulkan kembali logikanya yang tiba-tiba hilang. "Jangan lupa tentang identitasmu, bisa saja ada orang yang membuntutimu dan mengambil fotomu diam-diam."


Liam tertawa nakal, namun dia setuju dengan kekhawatiran Hanna. Dia menatap Hanna dalam-dalam, menangkup kedua sisi wajah Hanna dengan penuh kelembutan. Sorot mata Liam sangat teduh. Dari sana Hanna bisa menangkap betapa Liam sangat menginginkannya.


“Aku masih ingin berada di sini, belum juga pukul lima sore tapi kamu sudah mengusirku. Namun kalau kamu benar-benar ingin istirahat, aku nggak bisa memaksa. Selamat istirahat, Han.”


Hanna mengangguk lembut, lalu tersenyum. Untuk pertama kali dia tersenyum di depan Liam dengan sangat hangat karena dia tahu, dia harus belajar menerima Liam sebagai pasangannya seumur hidup. Hanna perlu meluruskan kesalahpahaman di antara mereka, mengembalikan kepercayaannya secara penuh pada Liam.


Dari menangkup wajah Hanna, lalu perlahan membelai wajahnya. Liam tidak bisa menguasai dirinya. Apalagi dengan gestur Hanna yang seperti sudah mengizinkannya dan tidak menolak sama sekali, Liam sangat menginginkan Hanna saat ini juga. Namun suasana romantis yang mereka bangun itu harus terganggu dengan kedatangan sebuah mobil sedan yang berhenti di depan rumah Hanna. Keduanya menoleh –menunggu siapa yang datang. Namun sebenarnya hanya dengan melihat jenis mobil dan nomor platnya, Liam sudah bisa menduga siapa yang datang.


“Bobby?” Kening Liam mengerut, tetap saja dia terkejut mengetahui jika itu adalah Bobby. Kenapa dia ada di sini, di rumah Hanna? Jika ini urusan pekerjaan, bukankah kedatangannya agak sedikit berlebihan? Urusan apa dia ke rumah Hanna?


Dia melepas tangannya dari wajah Hanna, dan menatap sepupunya yang sudah berdiri di depannya –kedua tangan Bobby terlihat saling mengepal. Mereka diam cukup lama, namun dari cara Bobby menatap Hanna, dia segera tahu, wanita yang Bobby cintai adalah....Hanna.


Liam terkesiap, takjub dan juga kaget. Bagaimana bisa mereka mengejar wanita yang sama? Selama ini, mereka berdua saling bertukar cerita tentang wanita yang membuat kehidupan mereka berubah tanpa tahu siapa wanita itu. Ternyata, wanita itu adalah Hanna.


*


“Jujur saja, kamu sudah tahu mereka sepupu?”


Lona dan Hanna duduk berdua, menikmati senja bersama di pinggir pantai. Tak jauh dari tempat mereka duduk, Liam dan Bobby terlihat berjalan menyusuri garis pantai bersama-sama. Hanna menarik nafas, lalu mengangguk perlahan.


“Hanna...” pekik Lona.


“Kenapa kamu diam saja padahal kamu sudah tahu mereka sepupu?”


“Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu..” gumam Hanna, merasa bersalah.


“..saat Liam mengatakan jika Bobby itu sepupunya, aku nyaris memberitahunya jika Bobby menyukaiku. Tapi setelah ku pikir-pikir, aku urung mengatakannya karena aku takut mereka berselisih. Aku nggak menyangka jika waktu ini akan tiba dengan sangat cepat.”


“Aku benar-benar shock.” Ujar Lona.


Hanna mengangguk setuju. Dia juga cukup shock saat pertama mengetahuinya, dan sekarang dia takut dan khawatir. Dia mengarahkan pandangannya pada Bobby dan Liam yang sudah menjauh dari tempat mereka duduk. Hanna khawatir, bagaimana kalau mereka bertengkar karena tersulut emosi?


“Aku nggak pernah menyangka, jika wanita yang selalu kamu ceritakan adalah Hanna.”


Liam membuka pembicaraan di antara keduanya. Suara deburan ombak yang bertabrakan dengan karang menimbulkan suara nyaring namun membuat diri mereka tenteram. Sebenarnya Bobby tidak ingin ke pantai, namun menurut Liam, sekalipun mereka bicara serius, suasana pantai bisa membantu menentramkan pikiran mereka.


Cahaya matahari senja yang keemasan perlahan menghilang digantikan malam. Lampu-lampu hias di sepanjang garis pantai mulai menyala. Tak jauh dari mereka, ada sekumpulan anak-anak remaja -mungkin masih SMA, sedang menyalakan api unggun dan bermain gitar. Suasananya benar-benar sangat tenteram.


“Aku juga nggak pernah menyangka, jika Hanna mengandung bayimu.” Sahut Bobby datar.


“Itu...memang seharusnya nggak terjadi..” Liam mendesah.


“..tapi sejak aku melihat Hanna pertama kalinya di club malam, aku nggak bisa mengalihkan pandanganku. Dia benar-benar menarik perhatianku.”


Memang. Bobby juga setuju jika Hanna bisa membuat orang-orang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Dia juga mengalaminya, jadi Liam sama sekali tidak salah. Hanna benar-benar memiliki auranya sendiri.


“Aku minta maaf..” Liam menatap Bobby.


“..aku tahu kamu sangat mencintai Hanna. Tapi sekarang kondisi Hanna berbeda, dia sedang mengandung anakku dan aku..nggak bisa merelakannya padamu. Hanna selamanya akan menjadi milikku.”


Itu adalah kalimat penegasan, menyatakan jika Liam tidak akan bermain-main dengan masa depannya lagi. Dia tidak akan memberikan kesempatan pada siapa pun untuk merebut Hanna darinya, sekalipun itu Bobby.


“Jangan khawatir, aku nggak berniat merebutnya darimu.”


Liam mengernyit, tidak menduga Bobby akan mengatakan hal itu padanya. Dia kira Bobby dan dia akan berdebat habis-habisan, membahas siapa yang layak berada di samping Hanna. Liam sangat tahu jika Bobby mencintai Hanna begitu dalam, tapi kenapa dia merelakannya begitu saja?


“Hanna sudah menolakku sejak awal. Sebenarnya, dia sudah menegaskan jika aku dan dia nggak akan bisa bersama. Aku saja yang ngotot, masih berharap Hanna akan menyukaiku.” Bobby menghela nafasnya dalam.


Ikhlas itu sangat tidak menyenangkan. Bobby bahkan merasa jika dadanya tersekat, tidak bisa bernafas dengan baik. Namun dia harus melakukannya, tidak ada penawaran lain untuk hal ini. Mengetahui Liam adalah orang yang dipilih Hanna, harga dirinya memang sedikit tergores, namun dia juga merasa tenang sekarang. Liam bisa diandalkan, Bobby tahu itu.


“Aku berharap kamu nggak menyakiti Hanna...” Bobby menoleh.


Dia dan Liam berdiri berhadap-hadapan, dengan posisi yang nyaris sama -kedua tangan berada di dalam kantung celana.


“...jika kamu menyakitinya atau dia menitikkan air matanya setetes saja, maka aku adalah orang pertama yang datang mencarimu.”