Way Back To You

Way Back To You
Kita Tidak Bisa Bersama



“Han, maaf aku terlambat. Jalanan macet parah kalau hujan deras seperti ini.”


Dengan tergopoh Bobby datang menemui Hanna yang sudah tiba lebih dulu di cafe yang mereka sepakati. Dia duduk di depan Hanna, setelah itu mengeluarkan sapu tangannya untuk mengeringkan rambut dan setelan jas suit yang sedikit basah karena terkena air hujan. Bobby tidak membawa payung, jadi dia langsung menerobos hujan deras karena takut Hanna mungkin sudah menunggunya cukup lama.


“It’s okay, Bob. Aku juga baru tiba kok.”


Wajah Hanna tampak gusar, itu kesan pertama yang ditangkap oleh Bobby ketika dia baru tiba. Seolah-olah Hanna sedang membawa beban yang sangat berat -walau dia tahu memang kenyataannya begitu karena kehamilannya. Tapi kali ini berbeda, Hanna cenderung tampak seperti risau dan juga gelisah.


“Apa kamu ingin membicarakan sesuatu denganku?”


Hanna tiba-tiba meminta untuk bertemu. Seharusnya ini pasti hal yang sangat penting yang tidak bisa ditunda lagi untuk dibicarakan.


“Bob, aku sudah bertemu dengan Ayah bayiku ini.”


Sudah ku duga, batin Bobby. Bobby mencoba tetap tenang walau sebenarnya jantungnya mulai berdebar. Bobby takut pada satu hal, penolakan Hanna padanya. Untuk meredam rasa gelisahnya, Bobby pun mencoba menyesap kopi yang sudah dipesan Hanna sebelum dia datang.


“Lalu?”


“Lalu...kami sepakat untuk merawat bayi ini bersama.”


Bobby menelan ludah dengan susah payah. Hal itu sudah dia antisipasi sebelumnya, namun dia masih menumbuhkan harapannya di dalam dada, berharap suatu hari Hanna berbalik dan datang menemuinya. Namun, sepertinya itu hanya pemikiran dan khayalannya semata.


“Oh ya?” Bobby sekali lagi mencoba tetap tenang.


“Mm.” Hanna menggumam.


“Dan...karena kami sudah sepakat, itu artinya...” Hanna memberanikan diri menatap kedua bola mata Bobby.


“...jawabanku masih tetap sama padamu Bob. Aku...nggak bisa bersamamu, maafkan aku.” Ucap Hanna tulus.


Bobby tertawa kecil, mencoba menutupi kekecewaannya dengan menipu dirinya sendiri dan juga Hanna lewat ekspresi wajahnya yang dibuat sumringah. Seandainya saja Hanna tahu betapa sakitnya hati Bobby saat ini.


“Kenapa kamu malah minta maaf?”


Hanna tidak menyahut. Dia terus menatap wajah Bobby dan dia tidak bisa menutupi rasa bersalahnya. Namun mau bagaimana lagi. Dia tidak mungkin memaksa diri, dan lagipula dia dan Liam sudah sepakat untuk mempertahankan bayi ini. Liam sudah setuju untuk bertanggung jawab, dan Hanna bisa memastikan ke depannya hanya akan ada Liam dalam dunianya.


“Baguslah kalau laki-laki itu mau bertanggung jawab. Aku...senang mendengarnya.”


Penipu, sungut Bobby pada dirinya sendiri. Sejak kapan dia senang jika Hanna jatuh ke tangan laki-laki lain? Sejak pertama kali menatap Hanna, dia sudah jatuh hati padanya. Dia mencoba menolak semua wanita lain yang hadir dalam hidupnya dan hanya menjadikan Hanna tujuan dari semua hal yang dia kerjakan selama ini.


Dia sempat merasa jika akan ada kemungkinan dia dan Hanna bersama, saat dia mengetahui Hanna sudah putus dengan kekasihnya. Dia langsung mencoba mendekati Hanna, namun masalah baru kembali muncul.


Apa ini adalah suatu tanda jika dia dan Hanna memang tidak bisa bersama? Tapi dia hanya menyukai Hanna seorang. Belum pernah Bobby jatuh cinta sungguhan seperti ini kecuali pada Hanna. Namun kenyataan demi kenyataan yang terjadi pada mereka berdua malah semakin membuat jarak keduanya melebar.


“Bob, aku benar-benar minta maaf. Kamu...baik-baik saja?” Bicaralah sesuatu padaku, jadi setidaknya aku mengerti apa yang sebenarnya kamu pikirkan, jangan membuatku menduga-duga.


“Apa menurutmu penolakan ini bakalan membuat diriku hancur? Nggak juga Han. Aku...sudah tahu akan seperti ini, jadi kamu nggak usah khawatir. Aku mengerti dan malah senang untukmu.” Sahut Bobby, kembali berbohong. “Baguslah jika Ayah bayimu mau bertanggung jawab.”


Siapa bilang dirinya tidak hancur? Siapa bilang kemunculan Ayah bayinya itu hal yang bagus? Hanna bisa dibilang cinta pertamanya, dan cinta pertamanya ini langsung membunuhnya begitu saja. Ternyata ungkapan orang-orang itu benar, jika cinta pertama biasanya tidak akan berhasil.


“Kamu masih mau membicarakan hal lain? Aku ada keperluan setelah ini.”


Alasan itu adalah alasan yang sama yang dikatakan Hanna ketika dia bersama Noah waktu itu. Tidak ada yang perlu, hanya saja dia tahu Bobby tidak nyaman bersamanya karena hatinya pasti sakit. Namun Hanna juga tidak punya pilihan lain. Sejak awal dia tahu kalau mereka tidak akan berhasil.


“Baiklah kalau kamu nggak punya topik lain lagi. Aku pergi dulu. Kamu...bisa pulang sendiri, kan?”


Bobby berdiri setelah Hanna menggelengkan kepalanya, menandakan jika pembicaraan mereka sudah selesai. Hujan masih turun dengan deras, petir menyambar-nyambar menciptakan cahaya terang beberapa detik. Bobby kembali menerobos derai hujan tanpa menghiraukan tubuhnya yang basah.


Maafkan aku, Bob. Tapi kamu berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku.


Bobby menatap gelas kaca berisi minuman beralkohol di tangannya. Dia tersenyum, lalu sedetik kemudian wajahnya kembali berubah muram. Ada banyak hal yang sudah direncanakan oleh Bobby, tapi apa daya, kenyataan di depannya menolak untuk sejalan dengannya. Bobby sangat menginginkan Hanna lebih dari apa pun, dan rasa cintanya pada Hanna tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Sudah terlalu banyak alkohol yang diminum Bobby, dan kepalanya mulai terasa pusing dan berat. Belum lagi tubuhnya yang mulai terasa tidak nyaman –mungkin karena dia membiarkan pakaiannya yang basah mengering di tubuhnya. Bobby menunduk di lengannya yang dia letakkan di atas meja.


Ada begitu banyak hal yang ingin dia wujudkan bersama Hanna. Tapi kenapa laki-laki itu muncul? Sudah bagus dia tidak menemui Hanna, jadi dia punya alasan untuk bisa bersama dengan Hanna tanpa adanya penolakan seperti ini.


“Sampai bertemu besok, Lona...”


Lona hanya tersenyum, melambaikan tangannya pada teman-teman kantornya yang lain. Setelah proyek yang mereka tangani berhasil, atasannya mengajak mereka makan di restoran mahal, setelah itu mereka memutuskan untuk singgah sebentar ke club malam tak jauh dari restoran.


Sebenarnya Lona tidak ingin, karena dia tidak mau terjebak dengan masalah yang mungkin akan memberatkannya seperti masalah Hanna. Namun teman-temannya terus memaksa, dan mau tidak mau, Lona pun ikut. Namun sepanjang mereka di club, Hanna tidak lagi berani meminum alkohol karena takut dia akan mabuk dan mungkin akan bertemu laki-laki yang bejat yang akan memanfaatkannya.


“Maaf, dompetmu terjatuh.”


Lona meletakkan sebuah dompet yang dia pungut dari lantai di samping pemiliknya yang mungkin sudah mabuk. Laki-laki itu hanya menunduk, namun setelah Lona bicara, dia mengangkat wajahnya dan mencoba meraba-raba dompetnya.


“Thanks.” Sahut Bobby masih dengan mata setengah terbuka.


“Bobby?” seru Lona, mengetahui pemilik dompet yang dia kembalikan adalah Bobby, atasan Hanna.


Bobby menoleh. Sejenak dia tampak berpikir –mengingat-ingat siapa Lona. Dan setelah dia ingat, dia tersenyum, namun setelah itu kembali membaringkan kepalanya.


“Kamu baik-baik saja? Kamu minum terlalu banyak.” Lona menjauhkan gelas dan sebotol minuman alkohol yang masih penuh.


“Nggak banyak..Hanya....” Bobby mengangkat jemarinya, jari jempol dan telunjuknya dia rapatkan, “..hanya segini.”


Hanya segini apanya, sungut Lona. Dia menghitung ada empat buah botol alkohol yang sudah kosong, dan ada satu yang masih berisi. Apa empat botol bisa dibilang sedikit?


“Apa kamu masih ingin di sini? Ada yang menjemputmu? Kalau nggak ada, biar ku antar sebentar soalnya aku juga mau pulang.” Ujar Lona lagi.


Bobby meracau, hingga Lona harus mendekatkan telinganya untuk bisa mendengar apa yang diucapkan Bobby. Dia tidak mendengar apa pun dengan jelas, selain nama Hanna. Apa jangan-jangan...


“Hanna menolakmu?” tebak Lona.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Bobby hanya tertawa kecil. Dia menegakkan punggungnya, mengetuk meja beberapa kali dengan jarinya, dan kemudian kembali tertawa. Benar sekali, Hanna pasti menolaknya, gumam Lona.


Melihat kondisi Bobby yang patah hati, Lona duduk di samping Bobby dengan niat menghiburnya. Dia menatap Bobby, menunggu hingga kondisi laki-laki itu sedikit membaik. Dia lumayan juga, batin Lona setelah melakukan ‘penelitian’ terhadap wajah Bobby. Kalau bukan karena Ayah bayi itu adalah Liam, aku mungkin lebih memilih Hanna untuk bersama dengan laki-laki ini. Setidaknya yang ini sudah jelas mencintai Hanna, sebaliknya, Liam hanya menjalankan tanggung jawabnya pada bayi itu, namun tidak memiliki perasaan apa pun pada Hanna.


“Ayo, aku antar pulang.”


Lona tidak bisa membiarkan Bobby semakin lama berada di club malam. Namun saat dia merangkul tubuh Bobby ketika hendak membantunya berdiri, dia menyadari hawa panas dari tubuh laki-laki itu. Dengan cepat Lona meletakkan tasnya di atas meja dan menjamah kening Bobby.


“Astaga, kamu demam tinggi.” Serunya.


Bagaimana ini?


“Bob, kita ke rumah sakit saja ya. Kamu demam tinggi.” Lona mulai gusar.


Bobby menggeleng lemah. “Bawa aku ke apartemenku saja.” Dia merogoh kantong jasnya, mencoba mencari-cari kunci mobil dan menyerahkannya pada Lona setelah dia menemukannya. Lona membimbing Bobby yang berjalan terhuyung karena pengaruh alkohol dan juga demamnya yang cukup tinggi.


Setelah menemukan mobil Bobby di antara banyaknya mobil yang ada di parkiran, Lona mendudukkannya di kursi penumpang. Akan lebih mudah mengawasi Bobby dari sana, kalau-kalau dia melakukan sesuatu dalam ketidaksadarannya. Lona segera memacu mobil Bobby menuju apartemen sesuai dengan alamat yang diberikan Bobby.


Dengan penuh hati-hati, Hanna meletakkan Bobby di atas tempat tidur dan mengangkat kakinya. Setelah itu dia membuka sepatu dan jas Bobby lalu kembali meletakkan tangannya di keningnya. Sepertinya demam Bobby belum turun, masih sama tingginya dengan suhunya ketika di club tadi.


Lona bergegas menuju dapur. Dia menggulung lengan kemejanya yang panjang, lalu memasak air untuk mengompres Bobby. Dia juga membuat air lemon untuk menghilangkan hungovernya sehingga kepalanya agak membaik besok.


Lona kembali ke kamar. Dia melonggarkan kemeja Bobby, setelah itu mengompres keningnya dan membersihkan tubuh Bobby sebisanya. Lona menarik nafas saat menatap wajah Bobby lekat-lekat karena kasihan. Tapi mau bagaimana lagi, Hanna sudah menjatuhkan pilihannya pada Liam sejak awal. Pesona laki-laki itu sulit dihilangkan oleh Hanna dan Bobby kurang beruntung soal ini.