Way Back To You

Way Back To You
Kecolongan



“Ini hanya perasaanku saja atau Kak Hanna sekarang sedang menjalankan pola hidup sehat?” tanya Gita setelah Hanna selesai membuat jus untuk dirinya sendiri.


Suasana pagi hari di kantor belum terlalu sibuk. Hanna, Gita dan beberapa rekan satu kerjanya di bagian keuangan biasa menghabiskan waktu di dalam ruang istirahat khusus yang ada di ruangan mereka. Ruangan itu dilengkapi satu buah meja panjang dilengkapi beberapa sofa tunggal, satu buah kulkas dan wastafel untuk mencuci peralatan makan mereka. Di sebelah wastafel terdapat kompor listrik yang memungkinkan staff memasak, dengan catatan makanan yang dimasak tidak menimbulkan aroma mencolok dan menyengat.


Hanna tersenyum, dia mengangguk pelan. “Dokter melarangku meminum kopi karena maag, jadi untuk sementara waktu aku menggantinya dengan jus.” Hanna memasukkan jus yang baru dia buat ke dalam kulkas supaya nanti siang jusnya segar ketika dia meminumnya.


Dia tidak sepenuhnya berbohong. Dokter memang melarangnya minum kopi karena maag di lambungnya, juga karena dia sedang mengandung. Ngomong-ngomong soal mengandung, seisi kantor belum mengetahui kehamilan Hanna. Dia masih bisa menyembunyikan perutnya di balik pakaian kerja oversize yang sengaja dipakainya.


Suatu kali Gita juga pernah memprotesnya. Dia bilang gaya Hanna berbusana agak aneh, berbeda dari biasanya. Namun Hanna berkelit jika dia sedang bosan pada gaya lamanya karena dianggap membawa sial pada hubungannya. Tentu saja Gita akan percaya. Gadis belia yang polos itu hanya manggut-manggut saat Hanna mengatakan alasannya. Entah bagaimana cara Hanna memberitahu rekan-rekannya kalau dia hamil. Hanna malu, karena semua orang tahu dia belum menikah. Perihal putusnya dia dari Jhon saja sempat menjadi buah bibir, apalagi kehamilannya ini.


“Tapi Kakak agak sedikit gemuk loh akhir-akhir ini.” Gita membuntuti Hanna hingga ke ruangannya. “Enak saja. Ini karena aku menggunakan pakaian yang kebesaran, kesannya malah jadi tambah gemuk. Jangan body shaming deh.” Dia kembali berkelit.


“Nggak loh, serius. Tapi mungkin karena pakaiannya sih.” Gita kembali manggut-manggut. Hanna hanya tersenyum. Gita sangat polos dan sedikit plin plan, cukup mudah mengelabuinya. “Oh iya kak Han..” Hanna langsung mengangkat jam tangannya memutus usaha Gita untuk bergosip. Angka sudah menunjukkan pukul sembilan tepat, itu artinya mereka harus mulai bekerja. Gita merengut, lalu meninggalkan Hanna sendiri di ruangannya.


Hanna menyukai Gita dan laki-laki yang duduk di sebelah Gita, Leo. Mereka berdua masih muda, namun sangat diandalkan oleh Hanna. Kinerja mereka dibandingkan sosok yang katanya berpengalaman puluhan tahun di dalam curriculum vitae nyatanya harus kalah oleh kemampuan keduanya. Seharusnya perusahaan mulai berbenah, belum tentu para sarjana yang baru lulus kalah dari yang sudah puluhan tahun berkecimpung. Satu-satunya kekurangan mereka berdua adalah, mereka suka bergosip.


Lembaran kertas yang bertumpuk sudah menunggu di meja kerja Hanna. Dia menarik nafas, dan mulai fokus bekerja. Sebenarnya Liam meminta Hanna untuk tidak bekerja demi keamanannya, tapi Hanna sudah cuti tiga hari. Bobby memang mengizinkannya mengambil cuti sebanyak mungkin, namun Hanna tetap harus bertanggung jawab pada pekerjaannya. Lagipula dia bosan di rumah, Liam juga tidak tinggal setiap hari di sana. Jadi daripada dia jenuh, akhirnya Hanna kembali masuk kerja seperti biasa.


“Kak Han, waktunya istirahat.” Leo mengetuk pintu ruangan Hanna.


Hanna meregangkan tubuhnya, melihat jam tangannya yang memang sudah menunjukkan angka dua belas. Tidak terasa karena Hanna ngebut mengerjakan semua pekerjaan yang sudah menumpuk selama dia cuti. Sebenarnya Hanna tidak ingin istirahat seperti yang biasa dia lakukan, namun dia kasihan pada bayinya.


“Wuahh, Kak Hanna bawa bekal sendiri.” Seru Gita heboh.


Liam yang menyiapkan bekal untuk Hanna. Setelah dia membukanya, Gita dan yang lainnya semakin heboh. Cara Liam menata bekal Hanna sangat cantik dan menggugah selera. Bahkan dia menjadi tidak rela memakannya karena bekalnya terlalu cantik dan indah untuk dirusak. Empat sehat lima sempurna, isi bekal Hanna sesuai dengan slogan itu.


“Kak Han..” Leo susah payah menelan fastfood yang dipesannya secara online. “Kakak membuatku merasa bersalah memakan makanan ini.” sungutnya.


Hanna tertawa kecil. Dia mengeluarkan susunan bekalnya dan menyajikannya di atas meja. “Kalian bisa mencicipinya.” Hanna ingin semua orang tahu masakan Liam sangat enak.


Sewaktu mereka semua berebut bekal makan siang Hanna, dia berdiri mengeluarkan jus yang dimasukkannya tadi pagi. “Eh, jangan rebutan dan sisakan untukku.” Hanna mengingatkan mereka.


Suasana ruang istirahat mereka memang seperti itu setiap hari. Walau departemen keuangan selalu punya tantangan dan terkenal berat, ketika istirahat semua orang akan melepaskan beban kerjanya untuk sementara waktu. Tim mereka juga cukup kompak dan terkenal di antara departemen lain.


Kening Hanna mengerut setelah dia menyesap jus yang baru seteguk diminumnya. Dia mencium bau jusnya, aromanya sedikit aneh tapi.. Dia kembali minum seteguk lagi untuk memastikan apakah rasanya memang berbeda dengan jus yang sering diminumnya.


“Kenapa Kak?” tanya Leo saat Hanna berdiri sambil mencium aroma jus nya berkali-kali. Semua mata langsung tertuju pada Hanna. Hanna berbalik menuju kulkas, dia membuka dan menemukan hanya ada beberapa botol soft drink, ice cream dan juga beberapa buah segar miliknya.


“Apa ada yang menukar jus ku?” tanya Hanna.


Tiba-tiba Hanna merasa perutnya sakit. Hanna meringis, lalu terjatuh ke lantai dan masih membekap perutnya yang kram, ngilu dan sakit seperti tertusuk jarum. Ini bukan maag. Ini karena..Jus nya. Ada sesuatu dalam jus Hanna.


“Panggil ambulans.” Seru Hanna. Keringat mulai membasahi wajahnya, tubuhnya semakin lemah dan dia berteriak menahan sakitnya. “Kak, kenapa?” Gita menangis memegang punggung Hanna.


Hanna tidak sanggup menjawab Gita. Suasana ruang istirahat seketika riuh dan mengundang perhatian dari departemen lain tak terkecuali Bobby yang hendak makan di luar. Dia mengernyit, lalu masuk ke dalam departemen keuangan. “Ada apa?” tanya Bobby heran.


“Kak Hanna pingsan.”


Bobby langsung berlari, mendapati Hanna sudah tergeletak di lantai, meringkuk sambil memegang perutnya.


“Han, apa yang terjadi? Hanna bangun.”


Bobby menepuk wajah Hanna, namun Hanna tidak merespons. “Apa yang terjadi?” Bobby panik.


“Kak Hanna baru minum jus nya dan nggak berapa lama malah jatuh Pak.” Isak Gita.


Bobby berdiri, mencium bau jus Hanna. Dia mengenal bau ini, ini adalah bau obat yang sama yang hendak diberikan perawat waktu itu. Sial. Hanna dalam bahaya. Tak mau menunggu Bobby langsung menggendong Hanna. “Gita, bawa jus nya dan ikut aku ke rumah sakit.”


Gita yang gemetaran hanya mengangguk. Dia setengah berlari di belakang mengikuti Bobby yang sedang menggendong Hanna. Han, jangan menyerah. Bertahanlah! Liam junior, kamu juga harus bertahan.


Setelah menempuh perjalanan selama sekitar sepuluh menit, mereka tiba di rumah sakit dan Hanna langsung dilarikan ke UGD. Jantung Bobby berdetak tak karuan, dia melonggarkan dasinya lalu berjalan mondar mandir.


“Pak, jus nya mau diapain?”


Bobby bahkan lupa jika dia mengajak Gita turut serta. Dengan tangan gemetar, Bobby menerima jus yang membuat Hanna pingsan. “Gita, kamu kembali ke kantor sekarang. Kamu atur semuanya sementara Hanna di sini.” Gita mengangguk, walau berat hati meninggalkan Hanna. “Tolong kabari departemen kami kondisi Kak Hanna ya Pak.”


“Baik.” Bobby mengangguk.


Dia mengambil nafas sebentar, kemudian memutuskan untuk memberitahu Liam dan Lona. Bobby gemetar karena takut, dan juga marah. Jus Hanna bisa dibubuhkan obat di dalam perusahaannya yang dikenal memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Bagaimana dia akan menjelaskannya pada Liam? Kenapa Hanna bisa mengalaminya di kantor? Liam mengizinkan Hanna bekerja karena dia pasti yakin dengan keamanan Hanna di dalam perusahaannya. Tapi kenapa malah kecolongan?


“Bob, Hanna kenapa? Apa yang terjadi?”


Liam tiba setelah Bobby menunggu selama tujuh menit. Kebetulan lokasi syuting Liam hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah sakit. Bobby bisa merasakan ketegangan dan ketakutan Liam walau dia membungkus tubuhnya dalam jaket tebal dan celana kargo hitam, juga masker dan topi.


“Maafkan aku Liam, tapi seseorang memasukkan obat ke dalam jusnya di kantor.”