Way Back To You

Way Back To You
Terowongan Bawah Tanah



“Bagaimana Hanna?” tanya Narendra setelah Eliana keluar dari kamar Hanna.


Wanita paruh baya itu menghela nafas dalam, dia menggeleng pertanda Hanna tidak baik-baik saja. Dia duduk di samping suaminya, menatap lekat telapak tangan yang dia gunakan untuk menampar Hanna.


“Aku nggak menyangka akan menampar puteriku sendiri, di usianya yang sudah dewasa seperti ini.” gumam Eliana. “Seharusnya aku bertanya padanya apa yang terjadi, kenapa dia bisa hamil dan bukannya langsung menghakiminya. Aku benar-benar bukan Ibu yang bijak.”


“Sudahlah..” Narendra meraih tangan Eliana. “Kamu hanya shock, kita semua shock. Tapi jangan pernah melakukannya lagi pada Hanna. Kita kenal anak kita, dia wanita terhormat. Pasti ada alasan di balik ini semua.”


Eliana menghela nafas. Lona menyajikan dua gelas teh chamomile untuk orang tua Hanna, dan duduk di depan mereka. “Maafkan aku Om, Tante. Aku pikir, aku juga turut berperan dalam hal kehamilan Hanna ini.” Dia menunduk.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Eliana.


Dengan sedikit gugup, Lona menceritakan semuanya kembali pada keduanya. “Intinya, aku yang mengajaknya karena dia terlihat sedih dan stres setelah putus dari Jhon.” Dia mengakhiri ceritanya.


Eliana dan Narendra bungkam. Kecewa? Sudah pasti. Mereka menitipkan Hanna pada Lona, mempercayakan anak perempuan mereka padanya. Tapi semuanya sudah terjadi. Mau marah pada Lona juga tidak ada gunanya, tidak akan mengubah apa pun.


“Berapa bulan sekarang kehamilannya?” tanya Eliana setelah dia diam cukup lama.


“Jalan empat bulan Tante. Besok seharusnya jadwal USG nya.” Lona akhirnya bisa bernafas lega. Dia pikir paling tidak mereka berdua akan mengusirnya dari rumah Hanna, namun alih-alih memarahinya, mereka bahkan tidak mengatakan apa pun.


“Kalian benar-benar nggak tahu siapa Ayah bayinya?”


Siapa bilang mereka tidak tahu? Laki-laki bajingan yang mengantarkan vitamin tadilah orangnya. Namun bukannya bertanggung jawab, dia malah meracau soal hal-hal yang tidak jelas. Tes DNA? Dia pikir anak dalam kandungan Hanna itu apa?


“Maaf Tante..”


Hanya itu yang bisa diucapkan Lona. Dia tidak akan mengatakan apa-apa, tidak akan mengungkap kebenaran tentang laki-laki brengsek itu. Mungkin sudah takdir Hanna tidak bisa bersama dia, karena sejujurnya laki-laki seperti itu tidak ada harganya bagi Hanna –dan juga Lona. Jika suatu saat Hanna butuh sosok laki-laki untuk mendampinginya, mereka bisa mencarinya. Hanna pasti bisa mendapat laki-laki yang baik untuk hidupnya.


“Sudahlah..” Narendra menghela nafas. “Sekarang yang harus kita bicarakan bukanlah bagaimana caranya Hanna hamil atau Ayahnya siapa, tapi bagaimana selanjutnya. Apa yang harus kita lakukan pada anak kita?”


“Nggak ada yang bisa kita lakukan.” Eliana menatap Narendra. “Semua ini harus kita kembalikan pada anak kita, Hanna. Dia punya pemikirannya sendiri, keputusannya sendiri. Hanna sudah dewasa, dia melakukan hal ini karena dia tahu resikonya apa dan dia sudah siap menerimanya. Sebagai orang tua, kita hanya bisa memberi support dan tidak menyulitkannya.”


“Kamu benar.” Narendra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Kita tunggu Hanna merasa lebih baik, lalu kita bicarakan ini dengannya.”


*


Liam menghapus tetesan air mata yang masih jatuh melewati wajahnya. Tatapannya kosong menghadap ombak di garis pantai yang berdebur lembut. Cuaca sedang mendung dan tidak terlalu panas, namun sepanjang garis pantai hanya dialah satu-satunya orang yang duduk di sana.


Dari kejauhan Bobby menatap Liam, enggan untuk meninggalkannya seorang diri. Walau Liam yang memintanya meninggalkannya, dia tetap tidak bisa beranjak. Liam sangat menderita sekarang dan dia dipenuhi rasa bersalah terhadap Hanna. Namun mereka sudah mengambil langkah ini, tidak ada jalan untuk kembali lagi selain menyelesaikan semuanya.


Bobby memeriksa mobilnya, melihat apakah ada alkohol di dalam karena biasanya dia meninggalkan beberapa di dalam. Setelah beberapa lama –bahkan dia nyaris menyerah, dia melihat sebuah bungkusan di bawah kursi penumpang. “Mudah-mudahan isinya alkohol.” Gumamnya.


Benar saja. Ada tiga kaleng kecil alkohol, dan Bobby tersenyum. “Baiklah, ayo kita buat Liam sedikit tenang.”


Liam menengadah –dengan air mata yang masih tersisa di wajahnya saat sebuah kantong plastik putih jatuh di sampingnya. “Aku hanya menemukan ini..” Bobby duduk di sampingnya.


“Kamu mau mengajakku minum di siang bolong begini?” sungut Liam.


“Kenapa nggak? Lumayanlah, untuk mengusir suntuk.”


Suasana tepi pantai kembali lengang. Sesekali terdengar suara deburan ombak yang lembut, lalu bunyi burung bangau yang bersahut-sahutan. Liam menghela nafas panjang, membuka kaleng alkohol dan menenggaknya. Rasanya aneh meminum alkohol di siang bolong begini, namun memang cukup lumayan untuk menghapuskan sedikit rasa sedihnya.


“Kita bertemu di Restoran Silver Bowl seperti biasa, pukul lima sore."


“Baiklah. Kami ke sana sekarang.”


“Noah?” tebak Bobby.


Liam mengangguk. “Mungkin dia menemukan sesuatu yang penting.” Mudah-mudahan saja Noah menemukan sesuatu untuk mengungkap siapa dalang di balik semua teror yang diterima Hanna. Mereka sudah melakukan banyak sekali rencana, diam-diam menyatu dengan musuh, berpura-pura..Semoga saja dia memiliki kabar baik.


Restoran Silver Bowl cukup padat walau jarum pendek jam masih di angka lima. Liam dan Bobby melenggang masuk dengan menggunakan masker setelah beberapa orang utusan Liam memastikan keadaan di sana aman. Di ruangan privat yang sudah mereka sepakati, Noah sudah menunggu dengan satu buah map cokelat.


“Aku pikir kalian nggak datang, aku hampir saja mau pulang.” Noah merengut.


“Macet. Kamu meminta bertemu di jam pulang kantor, resikonya tentu saja kemacetan di mana-mana.” Sahut Bobby santai.


“Kamu menemukan sesuatu?”


Noah menyerahkan map cokelat ke depan Liam. “Jhon bertemu Veronica tadi malam..” dia menyilangkan tangannya di dada sementara Liam dan Bobby memeriksa foto-foto itu. “Tapi sebelum itu dia kembali mengunjungi rumah di daerah kumuh waktu itu.”


“Aku rasa rumah itu memang dihuni seseorang.” Gumam Liam.


“Benar. Orang-orang yang kamu minta memata-matai rumah itu juga mengatakan jika ada seseorang yang membuka pintu. Tapi saat mereka memeriksa rumah itu dengan mencoba mengintip ke dalam, keadaan rumah tenang dan sangat gelap. Mereka sudah berjam-jam di sekitar rumah itu untuk memantau, benar-benar tidak ada pergerakan.”


“Orang-orang mu sudah hampir dua minggu mengawasi rumah itu dan laporan mereka masih sama, nggak ada orang yang keluar dari sana. Veronica juga tidak membawa apa pun ketika datang. Tapi bagaimana caranya bertahan di dalam rumah?” Bobby ikut melipat tangannya.


Liam menggigit ibu jarinya. Dia tampak berpikir keras. “Apa jangan-jangan dia punya jalan lain menuju rumahnya?” Liam menatap keduanya bergantian.


“Misalnya?”


“Jalur bawah tanah.”


Liam sangat menyukai bangunan yang memiliki ruang bawah tanah. Saking terobsesinya dia dengan semua hal yang bisa dilakukan di bawah tanah, dia bahkan pernah terpikir untuk membuat sebuah terowongan bawah tanah sebagai jalan rahasia. Sederhana sebenarnya. Dia hanya berniat bisa keluar masuk rumahnya dengan tenang tanpa diketahui oleh para paparazzi. Tapi bisa saja kan ide nya ini sudah lebih dulu diimplikasikan oleh orang lain?


“Masuk akal..” gumam Bobby. “Itu artinya dia bisa muncul di mana saja, iya bukan?”


“Rumah itu terletak di paling ujung, paling dekat dengan hutan kecil. Apa mungkin...” Noah membelalakkan matanya.


“Tepat.” Seru Liam. “Dia pasti keluar masuk dari dalam hutan.”


“Wahh, aku merasa kalau ini agak serius.” Bobby berdecak kagum. “Seperti drama di televisi, kamu tau?”


“Siapa pun dia, seharusnya dia yang mengendalikan Veronica.” Ujar Liam. “Sejak foto USG itu tersebar, aku tahu pelakunya selama ini bukanlah Veronica. Sama sepertiku, dia dan Bradley kemungkinan selama ini hanya pion juga. Sebodoh-bodohnya Veronica, dia tidak akan melakukan tindakan sembrono seperti itu.”


Penyebaran foto USG itu adalah celah kecil untuk mengungkap kebenaran tentang siapa dalang dari semua hal yang dialami Hanna. Pelaku nya mungkin berpikir itu bisa melemahkan mereka, namun dia tidak akan menyangka jika tindakan itulah yang membuka pintu kebenarannya. Celah kecil itulah yang kini dimanfaatkan Liam, dibantu oleh Bobby dan Noah.


“Aku akan menempatkan orang-orang kita berjaga di sekitar hutan kecil itu.” ujar Noah.


Liam dan Bobby mengangguk setuju. “Baiklah. Noah, aku percayakan ini semua padamu. Aku akan mengurus yang lain.”