
“Untuk apa kamu mengajakku ke sini?”
Hanna pikir Liam akan langsung mengantarnya pulang, tapi ternyata Liam membawanya ke suatu tempat. Mereka berhenti di sebuah bangunan yang cukup besar dan luas dengan halaman yang tak kalah luasnya. Halaman itu ditumbuhi oleh bunga-bunga yang tertata dengan rapi sesuai jenisnya. Mawar, begonia, hidrangea, marrygold, krisan,dan masih banyak lagi, masing-masing punya banyak jenis dan hampir semuanya sedang mekar. Saat Hanna melangkah, dia juga bisa mencium wangi bunga melati yang ternyata sedang mekar juga, tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Aku baru membelinya dan aku menyesuaikannya dengan kepribadianmu. Apa kamu suka?”
Ada rasa haru dalam dada Hanna, namun dia juga cukup terkejut. Dia tidak bisa menerima pemberian sebesar ini dari Liam. Hanya dengan melihat luas bangunan ini Hanna bisa memperkirakan harganya karena pekerjaannya juga berkaitan dengan analisa keuangan. Ini terlalu mahal, dan Hanna tidak mampu menerimanya.
“Untuk apa kamu membelinya?” Hanna menoleh.
Keduanya berdiri berhadap-hadapan dengan ekspresi wajah yang berbeda. Hanna sangat serius, namun Liam terlihat sumringah, seolah-olah dia memang sedang memamerkan pada Hanna langkah-langkah yang diambilnya sebagai bentuk keseriusannya.
“Bukankah sudah ku bilang kita harus tinggal bersama? Aku pikir rumahmu..maaf..cukup sempit walaupun kesannya sangat nyaman. Jika hanya tinggal berdua mungkin bagus, tapi sebentar lagi anak kita lahir jadi kita butuh space yang lebih luas. Dan...”
“Apa aku mengatakan setuju?”
Wajah Liam mendadak berubah. Dia menatap Hanna yang ternyata sama sekali tidak terlihat senang seperti dalam bayangannya ketika membeli unit ini. Apa ada yang salah?
“Apa maksudmu?” sahut Liam. “Setuju atau nggak, kita memang harus tinggal bersama. Bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan bayi itu? Atau, apa yang kamu pikirkan sebenarnya dengan kata ‘tanggung jawab’?" Liam membuat tanda kutip dengan jarinya.
“Hanna...” Liam mendekati Hanna, lalu menggenggam tangannya untuk meyakinkan Hanna.
“...aku tahu kamu keberatan dengan profesiku...”
“Nggak juga.” Potong Hanna cepat. Memangnya aku siapa? Kenapa aku harus keberatan dengan profesimu? Itu jalanmu, tidak ada hubungannya denganku.
“Biarkan aku menyelesaikannya dulu.” Bujuk Liam, masih menggenggam tangan Hanna yang tiba-tiba saja disadarinya sangat mungil.
“Kamu suka ketenangan, sementara pekerjaanku jauh dari kata tenang. Aku paham kenapa kamu keberatan seperti itu, karena kamu pasti tahu aku seperti diawasi oleh kamera selama dua puluh empat jam. Namun aku juga nggak bisa melarikan diri dari semua resiko itu karena pekerjaan ini adalah impianku. Aku nggak memintamu untuk memaklumiku dan duniaku, tapi, izinkan aku tinggal bersamamu sehingga aku bisa menjaga dan merawatmu juga bayi kita.”
Sorot mata Liam sangat teduh, dan juga memohon. Dan itu semua adalah kelemahan Hanna. Dia tidak akan sanggup berhadapan dengan Liam yang memohon dengan cara seperti ini –apalagi sembari menggenggam tangannya.
“Awalnya aku menganggap ini semua adalah kesalahan, tapi semakin aku mengenalmu, aku pikir malah ini semua adalah awal petualanganku bersamamu. Jadi...”
Liam menarik tubuh Hanna hingga Hanna nyaris memeluknya. Kedua tangan Liam melingkar di pinggang Hanna yang ramping dan menatap langsung ke kedua bola mata Hanna.
Kedua tangan Hanna yang dia letakkan di dada Liam untuk menahan tubuhnya agar tidak bersentuhan dengan Liam langsung, perlahan mulai lunglai saat mendengar kata-kata Liam yang berusaha meyakinkannya, membujuknya, memberinya kepastian -dan juga manis. Hanna menyerah. Mungkin Lona benar, ini adalah awal yang baik untuk kehidupannya. Dan mungkin jika mereka tinggal bersama, kemungkinan perasaan mereka akan bertumbuh menjadi rasa saling suka dan cinta bisa menjadi kenyataan.
“Kamu diam, itu artinya kamu setuju.” bisik Liam di telinga Hanna, nyaris membuat Hanna menjerit.
Hanna paling tidak bisa menahan dirinya jika Liam mulai memperlakukannya dengan cara yang berbeda, seperti berbisik, mengendus tubuhnya, dan masih banyak hal lain yang sering kali membangkitkan ingatannya tentang apa yang sudah mereka lewati bersama.
“Kamu mau melihat-lihat rumah kita?”
Tentu saja Hanna mau. Dia mengangguk, lalu dengan tangan yang masih digenggam oleh Liam, dia mengikuti Liam memasuki rumah yang akan menjadi tempat tinggal masa depan mereka. Hanya dengan memikirkan kata masa depan sanggup membuat hati Hanna melonjak, bahkan membuatnya ingin berteriak karena bahagia.
Hanna pikir tipe rumah yang akan dipilih Liam adalah tipe-tipe rumah dengan gaya arsitektur Kontemporer sesuai dengan kehidupan Liam. Namun siapa yang menyangka jika bangunan ini bergaya rumah pertanian? Hampir seluruh dinding bangunan menggunakan kayu dengan kusen yang tebal dan lantai yang juga terbuat dari kayu. Belum lagi penataan lampu yang dibuat seminimalis mungkin, sederhana tapi mewah.
Hanna sempat berhenti ketika mereka melintasi ruang olah raga, di mana Liam sudah menyiapkan beberapa alat olah raga di dalam.
“Aku tahu kamu suka olah raga.” Ujar Liam –bangga pada analisanya. Hanna mengangguk setuju, dia memang menyukai olah raga tapi ini sepertinya sedikit berlebihan. Dia bisa berolah raga di halaman atau lapangan di dekat sini kalau ada.
“Aku sudah menyiapkan kamar anak kita di sini.” Liam menunjukkan sebuah ruangan yang cukup luas, namun masih kosong. “Aku pikir kamu yang berhak menentukan apa saja yang harus dibeli, jadi aku sengaja mengosongkannya.”
Hanna bangga. Liam ternyata sudah sangat mempersiapkan semuanya dan menghargai pendapatnya. Dia tidak memaksakan kehendaknya, sesuka hati membeli perlengkapan bayi mereka –walau kenyataannya itu semua menggunakan uang pribadi Liam. Hanna merasa kali ini Liam sudah benar-benar sangat siap menjadi seorang Ayah.
Akhirnya Hanna bisa bernafas lega saat keduanya sudah tiba di belakang bangunan dengan pagar pembatas setinggi satu meter yang terbuat dari kayu yang tebal dengan dinding kaca yang luas, membuatnya bisa melihat pemandangan di luar rumah yang mulai remang-remang karena hari sudah sore. Hanna harus mengakui semua persiapan Liam sudah nyaris sempurna, sisanya adalah perasaan mereka berdua hingga semuanya akan jadi sempurna.
“Aku harap kamu menyukainya. Aku..memilih ini dengan hati-hati selama beberapa hari.”
“Bagus.” Hanna menganggukkan kepalanya.”Tapi agak besar. Mungkin akan butuh beberapa bulan untuk menyesuaikan diri, tapi aku menghargai usahamu.”
Liam tertawa senang. Setelah menyakiti Hanna, ini adalah kali pertama dia melihat kepuasan di wajah Hanna yang terlihat sumringah. Akhirnya perlahan dia bisa menebus kesalahannya pada Hanna, dan selanjutnya pun akan melakukan semua hal supaya Hanna benar-benar hanya akan mengandalkan dia sepanjang hidupnya.
“Aku tahu kamu sedang berbangga diri, tapi bisakah kamu menundanya sebentar? Aku agak lapar.” Ujar Hanna.
Liam belum sempat mengucapkan apa pun saat Hanna berjalan melewatinya untuk kembali ke pintu utama. Namun hal itu justru membuat Liam sangat menyukai sikap Hanna –yang menurutnya hanya pura-pura acuh.