Way Back To You

Way Back To You
Bertemu Calon Mertua



Saat Hanna bangun keesokan harinya, dia tidak mendapati Liam di ranjang. Hanna merapikan rambutnya, mengikat cepol lalu mencuci muka dan menyikat gigi. Dia keluar kamar menuju dapur karena biasanya jika Liam bangun cepat, dia pasti ada di dapur membuat sarapan. Namun ternyata dia tidak ada di dapur. Terdengar suara langkah lari seseorang dari arah basement dan Hanna langsung tahu jika Liam berada di sana. Hanna melihat Liam sangat berkonsentrasi, lalu dia teringat dengan pembicaraan terakhir mereka tentang bertemu orang tua Hanna tadi malam. Hanna pun sadar, Liam berolah raga supaya dia tetap sibuk.


“Apa kamu baik-baik saja?” Hanna mendekat.


Liam melirik Hanna begitu menyadari kedatangan Hanna. “Aku baik-baik saja.” Dia terengah-engah. Liam memperlambat laju larinya, kemudian memutuskan menyudahi olah raganya demi Hanna.


“Kamu gugup? Itu sebabnya kamu bangun pagi-pagi sekali lalu langsung ke basement?” tanya Hanna lagi.


“Apa maksudmu?” Liam menyengir. “Memang aku sudah terbiasa untuk bangun pagi dan berolah raga. Aku tidak gugup Han.”


“Benarkah? Tapi kenapa aku merasa kalau kamu sedang gugup?”


Liam mendesah. Dia menghampiri Hanna dan dengan tangan terlipat di dada, Hanna mundur selangkah. Tapi walau Hanna sudah berusaha menepis dan menghindari Liam, laki-laki itu tetap saja berhasil memeluknya.


“Liam.... Apa-apaan kamu ini?” Hanna bergidik. “Kamu berkeringat tahu.” Sungutnya.


“Memang aku berkeringat. Rencananya aku ingin membuatmu ikut berkeringat juga. Dengan begitu kamu perlu mandi pagi bersamaku.” Liam tersenyum menyeringai.


“Aku tidak mau.” Sungut Hanna lagi.


“Kamu tidak punya alasan untuk tidak mau.”


Liam mengangkat tubuh Hanna, menggendongnya menaiki tangga menuju kamar mandi yang berada di kamar mereka. Hanna hanya bisa menahan senyum saat Liam mengisi penuh bathup dengan air hangat dan melepas pakaiannya satu per satu, sementara dia hanya berdiri di dekat Liam sambil memperhatikannya.


“Masuklah.” Hanna menghindar ketika Liam mencoba memeluknya. “Aku akan memijatmu sebentar saat kamu berendam.”


“Kamu tidak ingin melakukannya ber...”


“Hari masih panjang Liam.” Hanna tersenyum memotong kalimat Liam. “Kita bisa melakukannya kapan pun kita mau. Sekarang masuklah ke bathup agar aku bisa memijitmu.”


Liam tak punya pilihan lain selain menuruti Hanna. Dia masuk dan berbaring di dalam bathup sampai-sampai air tumpah ke luar. Hanna duduk di belakang Liam, membuka piyama lengan panjangnya agar tak basah dan Liam bersiul saat Hanna melakukannya.


“Ku pikir kamu tidak akan membuka pakaianmu.” Ledek Liam.


“Aku hanya membuka baju, tidak semua pakaianku.” Balas Hanna.


Dia menuang shampoo ke telapak tangannya dan mulai mencuci rambut Liam. “Santai saja.”


Liam tertawa kecil. Saat jemari Hanna mulai memijat kulit kepalanya, dia mulai merasa rileks dan otot-ototnya yang kaku mulai lentur.


Ternyata berendam di air hangat sangat menyenangkan sekaligus menenangkan. Namun Liam juga tahu, itu semua karena keberadaan Hanna. Jika tidak, rasanya pasti sama seperti berendam sebelum-sebelumnya.


“Kamu gugup bertemu orang tuaku, kan?” tanya Hanna tiba-tiba.


Liam setengah menengok ke belakang seraya menyahut, “Aku tidak gugup Han.”


“Kamu berbohong. Aku tahu kamu gelisah, sepanjang malam kamu tidak tidur degan nyenyak.” Gumam Hanna kemudian mulai membilas rambut Liam.


Liam duduk tegak lalu berbalik menghadap Hanna hingga air dalam bathup tumpah ke luar. Dia meraih tangan Hanna, membimbingnya untuk ikut masuk ke dalam bathup dan Hanna menurutinya. Air semakin tumpah ke luar bathup saat Hanna duduk berhadap-hadapan dengan Liam.


“Aku akui, aku sedikit gelisah.” Ujar Liam pada akhirnya. “Tapi aku gugup karena mengingat pertemuan terakhir ku dengan mereka. Saat itu aku mengantar vitamin untukmu dan tanpa sengaja mengatakan tentang kehamilanmu di depan mereka. Aku... hanya sedikit ragu.. “ Liam menunduk.


“...mungkinkah mereka masih mengingat kejadian itu lalu mempersulitku?”


Hanna tertawa kecil. “Sudah ku duga kamu memikirkan hal itu. Tenang saja. Sejauh yang ku tahu, orang tuaku cukup bijaksana dan berpikiran luas. Aku rasa mereka tidak akan melakukannya padamu.”


“Tapi kesan pertama itu penting Han, dan aku tidak bisa membayangkan reaksi mereka saat tahu jika laki-laki yang mendatangi puterinya dan bicara ketus adalah calon menantu mereka.”


“Aku sudah bicara pada mereka.” Hanna menyiram air ke tubuh Liam dan menggosok tubuh Liam lembut. “Sudah ku beritahu tentang semua perjalanan hubungan kita dan reaksi mereka cukup postif.”


“Itu karena kamu adalah puterinya. Aku adalah orang luar, apa menurutmu reaksi mereka akan sama?”


“Seharusnya sih iya karena kamu adalah calon menantu mereka.”


Liam menarik nafasnya dalam. Dia mencoba tetap berkonsentrasi pada masalah calon mertuanya sementara pikirannya mulai menjelajahi hal lain khususnya saat Hanna menyentuhnya, membasuh tubuhnya dari busa-busa yang masih menempel.


“Hanna..” Liam berencena mencium Hanna, namun Hanna mengelak sembari menutup mulutnya.


“Kenapa?” Liam masih berusaha mencium Hanna, kali ini dia menunduk ke lehernya.


“Apa tadi malam itu masih kurang, hah?”


“Kalau itu tentang kamu, iya, tentu saja aku tidak akan pernah merasa cukup.”


Hanna mendorong Liam pelan untuk menciptakan jarak di antara mereka. Lalu sedetik kemudian dia mendengar suara decakan dari Liam dengan mimik kecewanya. “Ku rasa kamu mulai bosan padaku.” Liam menggerutu.


“Kapan aku mengatakannya? Aku hanya berpikir mungkin kita tidak punya waktu untuk melakukannya sekarang.” Ujar Hanna tersenyum.


“Kenapa?” Liam mengernyit.


“Kedua orang tuaku sudah berangkat tadi malam. Seharusnya, setengah jam lagi mereka tiba.”


Mata Liam melotot, dia langsung buru-buru menarik penyumbat bathup untuk mengosongkan air. “Kenapa tidak bilang dari tadi?” Liam berdiri dan membasuh tubuhnya di bawah shower.


“Aku belum sempat mengatakannya.”


Hanna membasuh tubuhnya yang sudah basah, selesai tepat pada saat yang bersamaan dengan habisnya air. Dia berdiri dan bergabung dengan Liam di bawah shower untuk membersihkan diri.


“Seharusnya bukan mandi seperti ini yang ku maksudkan tadi.” Seru Liam sembari menghanduki Hanna saat keduanya selesai mandi.


Hanna hanya menanggapinya dengan tawa. Liam langsung membungkus tubuh Hanna dengan handuk bersih, mencium keningnya lalu memakai handuk untuk dirinya sendiri. Hanna tampak merenung saat dia mengeringkan tubuh, tatapannya terus melesat pada Liam.


“Jangan menatapku seperti itu atau aku tidak akan sanggup mengontrol diriku.” Liam memberi peringatan.


Hanna terlalu cantik untuk ditolak. Dan mendapati Hanna seperti ini nyaris membuat Liam sesak nafas. Dengan kulit putih bersih dan berkilau karena berendam, dan juga mencium wangi dari tubuh Hanna selalu membuat Liam lupa dengan apa yang ingin dia lakukan.


“Cepatlah..” Liam mengambil alih mengeringkan rambut Hanna yang masih menempel di punggungnya. “Aku masih harus menyiapkan sarapan untuk kita lalu memasak makanan untuk menjamu orang tuamu.”


“Tidak perlu..” Hanna memejamkan mata saat tangan kekar Liam menggosok kepalanya dengan handuk. “Ayah suka memasak. Biar dia yang membantumu nanti, hitung-hitung sebagai cara untuk mendekatinya.”


“Huss, kamu ini. Mana bisa aku mengizinkan calon mertuaku memasak untukku?”


Liam meletakkan handuk setelah rambut Hanna setengah kering. Dia kembali memeluk Hanna dan mencium pipinya. “Bersiaplah. Berdandan yang cantik dan rapi. Aku akan menyiapkan makanan untukmu dan bayi kita.”


Hanna mengulum senyum saat Liam meninggalkannya di kamar mandi. Dari jendela kamar mandi, Hanna bisa melihat sabtu pagi datang membawa angin sepoi dan langit berawan, sangat cantik dan sempurna untuk menyambut kedatangan orang tuanya. Dia bahagia. Dengan semua perlakuan Liam padanya, dia sangat bahagia. Dan tentu saja, orang tuanya tidak akan punya alasan untuk menolak Liam.


Saat Hanna baru saja duduk di meja makan, dari arah pintu masuk terdengar suara bel dibunyikan. Liam dan Hanna saling berpandangan, dan Hanna segera meletakkan roti isinya kembali ke atas piring. Liam terlihat gugup. Dia bahkan meminta Hanna untuk mengecek penampilannya sebelum membuka pintu.


“Tenang saja. Kamu sudah sangat sempurna.” Bisik Hanna.


Liam mengangguk, mencoba tersenyum untuk mengusir rasa gugupnya. Bersama-sama dengan Hanna, dia membuka pintu dan di hadapannya berdiri orang tua Hanna. Liam pikir mereka akan memarahi Liam dan Hanna, namun dia mendapat reaksi yang terbalik.


"Sudah ku bilang calon menantu kita tampan." seru Eliana langsung melompat ke pelukan Liam.


Liam yang belum siap hampir saja terjengkang ke belakang. Matanya mengerjap, dia menatap Hanna yang hanya tersenyum di sampingnya.


"Aku mengidolakan mu. Sejak dulu." seru Eliana lagi.


"Heh, sudahlah. Kamu bikin malu." Narendra menarik tangam istrinya dari pelukan Liam. "Lagipula kamu baru mengidolakannya, bukan sejak dulu."


Eliana berdecak, memukul tangan Narendra pelan seraya bergumam: "Jangan cemburu."


Hanna hanya bisa menahan senyum saat Eliana langsung bergelayut di lengan Liam dan membawa nya masuk terlebih dahulu. Hanna dan Narendra saling berpandangan, sebelum Ayahnya itu melebarkan kedua tangannya untuk memeluk Hanna.


"Ayah." gumam Hanna di pelukan Narendra.


Hanna menenggelamkan kepalanya di dada Narendra, menyelami kehangatan orang tua yang sudah sangat lama dirindukannya. Pertemuan terakhir mereka sedikit kacau karena orang tuanya tiba-tiba tahu kabar kehamilan Hanna dan mereka bertengkar. Hanna tidak sempat memeluk Narendra dan Eliana karena emosi masing-masing.


"Kamu baik-baik saja? Semuanya aman?"


Hanna mengangguk. "Bersama Liam, apa yang perlu ku khawatirkan? Aku baik-baik saja."