Way Back To You

Way Back To You
Alter Ego



Saat Hanna membuka matanya, dia menyadari dirinya tengah di seret melewati sebuah lorong kecil dengan udara yang lembab dan dingin. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali, namun dia bisa melihat cahaya temaram dari lampu-lampu pijar yang menyala di dinding lorong. Tangannya terikat, begitu pula kakinya. Hanna kesakitan, dan perlahan matanya kembali terpejam.


“Tolong jangan sakiti dia..”


“Tutup mulutmu. Sejak awal aku memang ingin menyingkirkannya, kenapa aku nggak bisa menyakitinya sekarang?”


Hanna mendengar suara ribut-ribut...


“Tapi Kak Hanna orang baik..”


“Diam. Aku nggak ingin mendengarmu lagi..”


Lalu sepi. Hanna siaga saat dia bisa membuka matanya perlahan. Dia menatap sekelilingnya penuh rasa takut dan menyadari jika dia diikat di sebuah tiang. Dinding rumah itu ditutupi oleh poster Hazer dalam berbagai mode, belum lagi ratusan -atau ribuan photo cardnya, beberapa action figure dan ratusan majalah.


Jantungnya berdetak cepat, nafasnya memburu dan dia ketakutan setengah mati. Hanna berusaha melepas ikatannya namun tali itu terlalu kuat untuk dilepas. Dia mengitari sekelilingnya dan tidak menemukan sesuatu untuk memotong talinya.


Saat Hanna melihat Gita masuk ke dalam ruangan tempatnya disekap, raut wajah Hanna mendadak berubah. “Kamu pelakunya?” Suara Hanna terdengar bergetar karena kecewa, ketakutan dan merasa dikhianati. Hanna sudah begitu baik pada Gita, kenapa dia malah bertindak ekstrim seperti ini?


“Maaf Kak. Aku terpaksa..”


Gita terlihat sama gugupnya dengan Hanna. Wajah gadis itu pucat, dia ketakutan seolah-olah dia sedang berada di bawah tekanan seseorang.


“Terpaksa? Siapa yang menyuruhmu?”


“Aku..”


Tiba-tiba ekspresi wajah Gita berubah. Tubuhnya bergeliat, nafasnya memburu dan dia meringis dengan suara yang sedikit rendah. Dia berdiri di depan Hanna dengan wajah yang tadinya gugup berubah menjadi sangar dan menakutkan. Tatapan matanya mengkilat dan menunjukkan kekejaman. Perlahan Gita melangkah, namun langkah kakinya tampak anggun dan berkelas seperti langkah para puteri, dan dia tiba-tiba menatap Hanna tajam.


Transformasi yang sangat mengesankan!


“Gi..Gita..” Hanna mencoba memanggil namanya.


“Sssttt..” Gita tersenyum -mengerikan. “Mari dengarkan satu buah lagu dulu.”


Wanita itu tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba terdiam. Dia mendekati nakas, menyalakan piringan hitam, lalu alunan musik mulai melantun memenuhi ruangan itu sementara Gita bergerak mengikuti ketukan musik.


I see trees of green


Red roses too


I see them bloom


For me and you


And i think to my self


What a wonderful world


“Kamu nggak mau ikut bernyanyi?” seru Gita dan dia masih berputar-putar di sana seolah sedang berdansa.


Hanna menggeleng dengan perasaan ngeri. Dia mendorong tubuhnya menggunakan kakinya, namun tubuh Hanna sudah menempel di tiang dan dia tidak bisa ke mana-mana. Nafasnya Hanna putus-putus, dia nyaris pingsan karena ketakutan melihat Gita yang bertransformasi menjadi sosok yang lain.


“Selesai.”


Gita berjalan kembali ke nakas setelah musik berhenti -masih dengan gaya melangkah yang aneh. Setelah itu, dia mendekati Hanna lagi dengan senyum menyeringai dan tatapan tajam, seolah-olah dia adalah seekor predator dan Hanna adalah seonggok daging santapannya.


“Gita..”


“Diam. Jangan panggil dia..” Gita merapikan rambutnya. “Dia sedang tidur.”


Hanna terperangah. Kenapa Gita berpura-pura menjadi orang lain? Cara bicaranya, caranya melangkah, semuanya adalah bukan dirinya. Kenapa Gita melakukannya?


“Tapi Gita..”


“Sudah ku bilang jangan panggil dia.” Bentak Gita.


“Ta..tapi kamu adalah Gita..”


“Aku bukan Gita..” dia tersenyum sinis. “Namaku Giselle. Giselle Nicholas.”


Hanna mengerjapkan matanya, tidak percaya. Kenapa Gita berbohong dan bersandiwara? Apa yang sekarang sedang dia lakukan sebenarnya? Mau membodohi dia?


“Gita..”


“Giselle..” seru Hanna pada akhirnya karena ekspresi wajah Gita sangat mengerikan ketika dia ngotot mempertahankan namanya.


“Yes, wanita murahan..”


“Ke..kenapa kamu menyekapku di sini? Kamu..”


“Stop! Biarkan aku bicara lebih dulu..” Gita menyeret sebuah kursi yang menimbulkan bunyi ngilu saat kaki besinya bergesekan dengan lantai. Dia duduk di depan Hanna, mengangkat kaki dan menatapnya tajam.


“Kamu merebut Hazer dariku, dasar wanita rendah. Kamu harus sadar kamu tidak berhak atas dia, tidak seujung kuku pun. Kamu tidak pantas..” Gita merengkuh dagu Hanna. “..dan tidak akan pernah pantas untuk bersanding dengannya. Itu sebabnya aku melakukan semua ini padamu.”


“Ja..jadi kamu pelakunya?”


"Benar. Aku yang mengacaukan sinyal handphone mu hari ini di kantor." Gita meniup kuku-kukunya, melihatnya dengan seksama dan memamerkannya pada Hanna. "Kuku ku sangat cantik, bukan?"


Hanna menelan ludah dengan susah payah. "Itu artinya kamu tidak hamil? Itu hanya bohongan?"


Gita terkekeh bahkan sampai memegang perutnya. "Dia mengatakan alasan itu untuk memperdayamu? Lucu sekali.." Dia kembali tertawa kencang.


"Dia??" Hanna menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Jadi Gita tidak tahu sama sekali perbuatanmu?"


“Benar, dan aku beruntung gadis itu cukup bodoh dan gampang ditipu.”


Astaga, Hanna terkesiap. Dia alter. Hanna beberapa kali menonton dokumenter tentang kepribadian ganda di channel National Geographic beberapa kali. Tentang Judy Castelli yang memiliki empat puluh empat alter, lalu Shirley Maison, dan juga Billy Milligan yang memiliki dua puluh empat kepribadian. Mereka semua memiliki catatan kriminal yang dilakukan oleh alter egonya masing-masing.


Dia juga ingat pernah membaca sebuah buku yang membahas tentang Multiple Personality Disorder atau ganguan kepribadian ganda –biasa disingkat MPD, dimana ada terdapat beberapa karakter atau kepribadian dalam satu tubuh. Biasanya gangguan seperti ini muncul ketika korban memiliki depresi dan trauma masa kecil seperti pelecehan seksual atau pun fisik, kekerasan dari orang tua atau orang-orang di sekitarnya, atau bisa juga bullying dari teman-temannya.


Karena tidak tahan terhadap penderitaan yang dialaminya, hal itu memicu korban memblokir traumanya dengan menciptakan tokoh dan karakter yang baru dalam dirinya. Ini adalah salah satu jalan pelarian diri dari kenyataan pahit dan korban berusaha menemukan kenyamanan dan kehidupan ideal lewat karakter baru yang mereka ciptakan.


Hanna hanya tidak menyangka, jika dia akan melihatnya secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.


“Giselle, bisakah kamu memanggil Gita? Ada yang ingin ku katakan..”


Hanna pernah mengingat dalam tayangan yang ditontonnya, jika ada kemungkinan alter-alter yang diciptakan di dalam tubuh korban saling mengenal walau kemungkinan tidak mengenal juga ada. Dia ingin tahu, apakah Gita –tuan rumahnya, menyadari keberadaan Giselle atau tidak.


“Untuk apa? Ini semua adalah pekerjaanku, seni ku. Jangan bawa-bawa dia. Dia tidak seru sama sekali..”


Ekspresi Gita tiba-tiba berubah kembali. Tubuhnya melengkung, lalu meringkuk di atas kursinya. Perlahan wajahnya berubah sendu dan lembut dengan sorot mata yang mengiba. Dia kembali bertransformasi menjadi sosok yang baru.


“Gi..Gita..Apa ini kamu?”


Sungguh, Hanna benar-benar ketakutan setengah mati. Pengalaman ini cukup menakjubkan ketika dia bisa bertemu seseorang sekaligus dengan alter ego nya, seandainya saja dia bukan jadi korban di sana. Namun Hanna belum yakin dengan keselamatannya, tidak sampai dia bisa bicara dengan Gita –Gita yang asli.


“Kak Hanna... Kakak kenapa? Siapa yabg mengikat Kakak?”


Gita berseru dan bersimpuh di depannya. Hanna mencoba menyelidik, apakah Gita benar-benar sudah kembali.


“Gita..”


“Ya Kak..”


Syukurlah, Hanna bernafas lega. Dia harus cepat membujuk Gita melepaskan ikatannya sebelum alter egonya kembali mengambil alih tubunya. Dia bisa muncul kapan saja tanpa sepengetahuan Gita dan nyawanya masih tetap terancam jika dia masih berada di sekitar Gita.


“Tolong, cepat buka ikatan talinya..” perintah Hanna.


Gita mengangguk. dia mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sesuatu –benda tajam untuk memutus tali yang diikat dengan sangat kuat. Dia berlari saat melihat sebuah gunting dan segera menggunting tali-tali yang membalut tubuh Hanna.


Namun tiba-tiba Gita tertawa, dengan tawa yang mengerikan seperti yang dia lakukan tadi. Sial, pekik Hanna. Alternya telah kembali, dan dia memegang sebuah gunting.


“Jangan mencoba memperdaya dia..” Gita mencekik leher Hanna dengan mata memerah seperti api yang berkobar. “..itu sebabnya dia bisa dibohongi, karena dia bodoh dan lemah..” teriaknya.


Seluruh tubuh Hanna bergetar hebat, terlebih saat asupan oksigen terputus menuju otaknya. Dia megap-megap, suaranya terdengar memilukan saat dia mencoba mengambil nafas, namun tidak bisa. Air mata Hanna mengucur menyadari betapa mengerikannya hidupnya saat ini.


“Hentikan...” seru Gita, mendorong dirinya sendiri menjauh dari Hanna.


Hanna terbebas. Dia menarik nafas dari udara sedalam mungkin, memenuhi kembali pasukan oksigen yang hampir membuat nyawanya melayang. Jika Gita tidak kembali sekian detik lagi, maka Hanna mungkin akan tinggal nama.


“Tolong jangan sakiti Kak Hanna, aku mohon!”