
Sepuluh menit tidur Liam berubah menjadi setengah hari lebih. Saat dia bangun, dia tidak mendengar suara apa-apa karena Hanna tidak di rumah –mungkin dia bekerja. Saat Liam melirik jam tangannya, jarum pendek di jam tangan merk Patek Philippe yang dikenakannya sudah berada di angka tiga, menunjukkan hari sudah akan sore. Liam meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat ringan setelah tidur siangnya yang panjang. Aneh, tapi dia sendiri juga heran kenapa dia bisa tidur hingga sesiang ini.
Liam adalah tipe seseorang yang wajib bangun pagi. Dia tidak akan bisa terlelap lagi jika angka jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Walau dia ingin berleha-leha dan kembali membujuk matanya untuk kembali tidur, dia tidak akan berhasil. Beberapa detik kemudian, Liam menyadari jika dia juga pernah tidur se nyenyak ini, yaitu ketika dia dan Hanna melakukan itu di hotel. Saat itu, dia juga tidur sangat lama, dan sekarang juga sama. Itu artinya, Hanna adalah alasan kenapa dia bisa tidur sangat nyenyak.
Tanpa disadarinya, sebuah lengkungan kecil melengkung di wajah Liam. Dia tersenyum sambil memeluk bantal Hanna, mencium wangi wanita itu yang masih menempel di bantalnya. Liam sangat menyukainya. Bahkan wangi Hanna bisa membuatnya seperti bersemangat layaknya dia baru saja mengkonsumsi zat adiktif.
Liam bangkit. Dia mengitari rumah Hanna, sangat sederhana dan nyaman. Sebentar lagi jam kantor usai, Hanna pasti akan lapar jika dia pulang. Karena itu Liam segera memeriksa kulkas Hanna, dan tidak terlalu terkejut saat mendapati isi kulkas yang terisi penuh dengan bahan-bahan masakan yang segar. Liam membuka jaketnya, setelah itu dia mulai memasak menu yang menurutnya mungkin akan disukai Hanna.
“Apa yang kamu lakukan?”
Hanna meletakkan tas kerjanya, menyimpan sepatu pantofelnya ke rak dan langsung mendatangi Liam ketika di tiba di rumah. Liam mengernyit, bukan karena pertanyaan Hanna, namun karena dia melihat hak sepatu yang digunakan Hanna.
“Apa kamu mau membahayakan bayi kita? Kenapa kamu masih memakai sepatu seperti itu?” protes Liam menunjuk ke arah rak sepatu dengan spatula yang masih di tangannya.
Hanna menoleh, merasa jika hak sepatunya tidak terlalu tinggi –hanya empat senti dan tidak membahayakan. Apa yang dia bicarakan?
“Han, aku nggak mau tau, kamu nggak boleh memakai sepatu itu lagi.” sungut Liam.
Hanna jelas ingin protes karena Liam sudah mengatur privasinya –karena dia pikir sepatu adalah urusan pribadinya. Namun dia gagal melakukannya karena mencium wangi masakan Liam. Ajaib, dan juga aneh. Hanna selalu merasa bingung kenapa bayinya tidak bertingkah ketika dia berada di dekat Liam, mencium wangi parfumnya dan aroma makanan yang dimasak Liam. Biasanya hidung Hanna sangat sensitif, sehingga aroma sekecil apa pun bisa tercium oleh hidungnya. Namun itu tidak berlaku dengan semua yang berkaitan dengan Liam.
“Aku menyiapkan makan malam untuk kita.” Liam menjelaskan sebelum Hanna bertanya, seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Hanna.
“Makan malam untuk kita? Kenapa kamu sangat yakin kalau aku nggak akan mengusirmu dari rumahku sekarang?” Hanna merengut, berpura-pura.
“Heiii, apa mungkin kamu mengusir koki pribadimu? Itu mustahil. Hanya makanan yang ku masak yang bisa kamu makan tanpa menimbulkan mual, iya kan?” Liam mengerling nakal.
“Siapa bilang? Makanan kantin kantor juga nggak pernah membuatku mual.” Siapa bilang? Setiap kali Hanna turun ke kantin, dia sudah bisa mencium aroma yang membuatnya mual walau dia belum tiba di kantin. Tentu saja semua itu hanya omong kosong.
“Oke, kamu menang. Sekarang kamu cuci tangan dulu, aku masih harus memasak satu menu lagi.”
Hanna menurut pada Liam. Itu sisi lain yang masih terus dipertanyakan Hanna pada dirinya sendiri, kenapa dia bisa menjadi sangat penurut hanya pada Liam saja.
“Han, aku sudah memikirkan ini semuanya dengan baik-baik.”
Hanna seketika merasa sulit menelan makanannya setelah Liam tiba-tiba bicara ketika mereka berdua sedang makan malam. Apa dia berubah pikiran lagi? Dia...tidak ingin bertanggung jawab? Walau jantung Hanna mulai berdebar, dia tetap berusaha tetap tenang seolah-olah dia sudah siap mendengar apa yang akan dikatakan Liam sekalipun itu hal buruk.
“Bagaimana kalau kita tinggal satu rumah saja?”
“Apa maksudmu?” Hanna nyaris berteriak. Tinggal serumah –dan berdua dengan Liam tidak pernah terlintas di pikirannya, sama sekali tidak.
Liam menyudahi makan nya. Dia meletakkan alat makannya lalu menyeka mulutnya dengan tissue, kemudian menatap Hanna serius. Mau tidak mau, Hanna juga menyudahi makannya walau dia sebenarnya masih lapar.
“Kamu bisa memilih mau tinggal di mana, di apartemenku atau di sini. Aku oke dengan kedua opsi ini.”
“Tunggu....” Hanna tidak tahu harus mengatakan apa pun karena rencana ini terlalu mendadak.
“Jangan bilang kamu nggak mau tinggal berdua. Han, kalau kita tinggal terpisah seperti ini, bagaimana aku bisa mengawasimu?”
“Mengawasiku?” alis Hanna naik.
“Jangan salah paham, maksudku bukan mengawasi privasimu, tapi aku hanya takut kejadian seperti malam itu terulang. Bagaimana kalau kamu muntah parah sampai-sampai kamu nggak kuat berdiri lagi? Siapa yang akan memperhatikannya kalau bukan aku?”
Jika ada ungkapan di atas ‘terbang ke langit ke tujuh’, maka Hanna akan menggunakannya sebagai cara mengungkapkan perasaannya saat ini. Cara bicara Liam, ekspresi seriusnya, gestur tubuhnya, Hanna sangat menyukainya. Hanna merasa jika Liam benar-benar serius menjalankan perannya sebagai seorang Ayah.
“Mualku nggak separah kemarin kok. Dokter sudah meresepkan obat mualnya, jadi aku nggak pernah mual parah seperti itu lagi.”
Hanna menunduk, pura-pura meminum sup ayam yang dimasak Liam sembari menyembunyikan senyumnya. Kalau Liam tidak ada, mungkin dia sudah berteriak sambil melompat, atau berlari ke kamar dan menutup wajahnya di dalam bantal sehingga teriakannya tidak akan terdengar siapa pun. Hanya seperti itu perlakuan Liam padanya, namun sangat membuat Hanna merasa dihargai.
“Jangan begitu...” Liam masih berusaha membujuk.
“...kita juga perlu merencanakan banyak hal. Jika bayinya perempuan, kita harus menyiapkan kamar dengan pernak pernik berwarna cerah khas perempuan. Kalau bayi kita laki-laki, maka kita pilih warna netral saja. Lalu...oh, kita juga harus belanja keperluannya seperti pakaian bayi baru lahir dan ....”
“Itu masih sangat jauh...” potong Hanna –masih tetap menyembunyikan senyum bahagianya.
“...usia kandunganku baru menginjak tiga bulan. Kita masih punya waktu yang panjang untuk mempersiapkan itu semua.” Kata ‘kita’ yang baru saja digunakan Hanna membuat Hanna merinding. Untuk pertama kalinya Hanna akhirnya bisa mengatakan ‘kita’ setelah beberapa lama hanya menggunakan kata ‘aku’.
“Tapi aku tetap ingin tinggal bersamamu. Aku yang menawarkan diri, mau nggak mau, setuju nggak setuju, kamu harus menerimaku.”
Tentu saja Hanna menerima Liam, dengan tangan terbuka, dengan penuh harapan dan ketulusan hati. Dia memang menginginkan Liam, itu bukan rahasia lagi. Dan jika mereka benar-benar bisa tinggal bersama, itu artinya Hanna tidak perlu menunggu-nunggu hari jika ingin bertemu Liam. Itu artinya, dia bisa melihat Liam setiap hari. Astaga, kenapa aku bahagia sekali?