Way Back To You

Way Back To You
Rencana Baru



Hanna sudah tertidur setelah kembali menangis di ruang baca. Lona menyelimuti Hanna, dengan lembut menggeser rambut yang menutupi wajahnya. Wajah Hanna terlihat agak pucat dan lelah, matanya bengkak karena sedari tadi memang dia terus menangis tanpa henti. Dia hanya makan sedikit saja, lalu memilih langsung istirahat ke kamar.


Lona mengerti kenapa Hanna sedih seperti itu. Bayangkan dia sudah menyerah pada pilihannya, meyakinkan hati berkali-kali, menyatakan jika Liam adalah yang terbaik. Namun karena suatu hal –dan bukan hanya sekali saja, laki-laki itu berubah pikiran. Apalagi dengan kondisi Hanna yang berbeda saat ini, itu pasti membuat dia kesulitan sepanjang hari.


“Laki-laki sialan.” Sungut Lona kesal.


Dia berdiri, meninggalkan Hanna di dalam kamar dan dia berjalan menuju kulkas. Lona menarik nafas, mengeluarkan tiga kaleng minuman beralkohol dan membawanya ke atas meja. Lona membukanya, menyesapnya perlahan-lahan. Jika sudah seperti ini, bias rasa bersalah akan kembali muncul di dadanya. Seandainya saja dia tidak mengajak Hanna malam itu, Hanna tidak perlu melewati semua penderitaan ini.


“Aku benar-benar sahabat yang konyol..” gumam Lona. “..aku membawa sahabatku dan mengantarkannya secara langsung ke mulut singa, aku membuatnya tergigit, setelah itu aku juga membantu menyembuhkan luka gigitan yang ternyata nggak akan sembuh. Aku benar-benar mengerikan.”


Tiba-tiba air mata Lona menggenang. Dia merasa sangat gagal sebagai sahabat Hanna, seseorang yang sangat dipercayanya. Orang tua Hanna juga menitipkan Hanna padanya, mempercayakan dirinya sepenuhnya pada Lona. Tapi apa sekarang? Lona membuat hidup Hanna nyaris hancur.


Jika orang tua Hanna tahu kehamilan Hanna, apa yang akan dia lakukan? Hanna yang pendiam, tidak banyak bersosialisasi, perjalanannya hanya dari kantor ke rumah, tiba-tiba bisa hamil. Apalagi kalau bukan karena dia penyebabnya.


Lona mendesah, menyandarkan tubuhnya dan menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lona mengetuk layar handphonenya dua kali, tidak ada notifikasi apa pun. Wah, Liam benar-benar menguji kesabaranku. Bisa-bisanya dia tidak mencari Hanna hingga selarut ini. Awas saja kalau aku bertemu kamu besok, akan ku beri kamu pelajaran yang tidak bisa kamu lupakan.


*


“Kamu yakin menjalankan rencana ini?”


Bobby duduk dengan kedua tangan bersila di dada. Keduanya berada di dalam club malam yang dipenuhi oleh banyak orang yang sedang minum atau sekedar nongkrong dan mencari mangsa. Liam tidak menyahut. Tatapannya kosong, rahangnya mengetat.


“Aku kasihan pada Hanna..” Bobby menuang vodka ke dalam gelas kecil di hadapannya. “..air matanya tadi benar-benar membuatku merasa sangat berdosa.”


“Tapi hanya ini yang bisa kita lakukan.”


Liam tidak punya pilihan lain. Demi membuat Hanna menjauh darinya dan juga semua masalah yang ditimbulkannya, terpaksa dia mengambil kesempatan ketika Jhon datang mengklaim anak dalam kandungan Hanna adalah anaknya.


Tentu saja dia percaya sepenuhnya pada Hanna. Hanna baru pertama kali berhubungan intim dengannya, bagaimana ceritanya Hanna bisa hamil anak Jhon? Laki-laki itu sakit dan psycho, tapi Liam bukanlah tandingannya. Liam sudah berkecimpung di dunia hiburan yang penuh drama, jadi dia tahu mana video asli mana video editan hanya dengan menatapnya sekilas.


“Siapa pun dia, dia hanya mengintai Hanna jika Hanna terus ada di sisiku. Setelah Hanna menjauh untuk sementara waktu, dia akan baik-baik saja.” Seharusnya memang begitu. Jangan sampai Hanna bisa disentuh oleh mereka saat Liam tidak bisa mengawasinya. “Dan selama Hanna tidak di sisiku, kita harus menyelidiki dan mengungkap semua ini secepatnya.”


Liam tidak kuat berlama-lama jauh dari Hanna. Saat ini saja hatinya sudah sangat merindukan Hanna. Dia ingin memeluknya, menciumnya, menghirup aroma tubuh Hanna. Semua ini sudah seperti candu untuknya melebihi alkohol dan Liam tidak bisa lepas begitu saja dari Hanna.


“Okay kalau kamu yakin..” Bobby mendesah. “..aku akan mengikuti arahanmu. Apa yang harus ku lakukan, kamu beritahu saja.”


Liam menenggak vodkanya sampai habis dalam sekali tenggak. Dia memicingkan mata menahan betapa pahitnya minuman itu sebenarnya, namun sensasi pahit itu bisa menjalar dan membawa ketenangan dalam dirinya.


Hatinya sakit, saat Jhon memperlakukan Hanna seperti wanita murahan. Seandainya dia tidak menahan emosinya untuk melancarkan rencananya, dia hampir saja memukulinya di sana. Cara bicaranya, niatnya menyentuh Hanna, dia membuat Hanna seperti lelucon. Apalagi saat Hanna jatuh tadi, jantungnya nyaris berhenti berdetak.


Dia khawatir dengan Hanna dan juga bayi dalam kandungannya. Apalagi ketika Hanna memegangi perutnya, mungkin saja Hanna sedang kesakitan. Dia terus berteriak selama ada Jhon, dia menangis, dia marah, ketakutan, kebingungan. Bagaimana jika bayinya kenapa-kenapa?


Bobby merogoh kantong jasnya, mengeluarkan handphone saat benda itu bergetar. Bobby sudah tidak terkejut lagi melihat siapa yang meneleponnya tengah malam begini. “Lona.” Bobby menunjukkannya pada Liam.


“Jangan beri tahu dia kita di mana. Dan, rencana ini juga nggak boleh diketahui olehnya. Dia dan Hanna sangat dekat, aku takut dia nggak bisa menahan diri dan malah memberitahu Hanna semuanya.”


“Kalau begitu nggak usah di angkat.” Bobby meletakkannya di atas meja, membiarkannya begitu saja hingga panggilan itu selesai.


“Angkat saja, it’s okay. Aku hanya meminta kamu merahasiakannya dari dia.”


“Hanna pasti sudah memberitahu Lona tentang apa yang terjadi hari ini, dan aku tahu Lona menghubungiku untuk meneriakiku plus mencacimu.”


Liam tertawa kecil, dia setuju karena memang Lona sangat blak-blakan. Mana bisa Hanna terluka didepannya? Dia masih ingat bagaimana Lona datang menemuinya dulu di lokasi pemotretan. Dia tampak gagah untuk ukuran seorang wanita, dan Liam sangat terkesan. “Wanita itu sangat cocok untukmu Bob.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Seru Bobby.


“Aku nggak mengalihkan pembicaraan. Aku serius. Lona sangat baik dan kamu tahu itu. Apa kamu nggak ingin mengenalnya lebih dekat?”


Bobby menimbang-nimbang hendak menjawab apa karena dia juga sudah lama memikirkan ini. Namun Bobby belum menemukan jawaban apa pun tentang perasaannya dan dia tidak berani mendekati Lona jika dia belum yakin pada dirinya sendiri. Dia tidak ingin menjadikan Lona sebagai pelarian dan menyakitinya suatu saat nanti.


“Bobby, sebenarnya aku masih merasa nggak enak padamu tentang Hanna.” Liam mengangkat wajahnya menatap Bobby lekat. “Kenapa kita harus menyukai wanita yang sama padahal di dunia ini ada jutaan wanita?”


“Memangnya kita bisa mengatur pada siapa kita jatuh cinta?” Bobby tersenyum. “Sudahlah. Ini yang dinamakan takdir.”


Liam mengangguk setuju. Hanna adalah takdirnya dan bertemu dia adalah hal yang paling mengesankan dalam hidupnya. Namun saat ini dia harus menahan diri dulu. Keselamatan Hanna lebih penting dari segalanya sekalipun itu membuat Liam menderita.