Way Back To You

Way Back To You
Pendamping Masa Depan



Hanna memandang dirinya sekali lagi dari pantulan cermin fullbody yang terletak di sudut kamarnya. Dia memutar tubuhnya, memastikan jika dia sudah terlihat cantik dan memukau. Setelah itu dia menyapukan lipstik berwarna pink lembut di bibirnya untuk menambah kesan sederhana namun manis.


Liam tiba-tiba mengajaknya makan di luar dan tentu saja Hanna tidak punya alasan untuk menolaknya. Dia memutuskan berdandan dengan maksimal dengan harapan penampilannya akan memukau Liam.


Setelah angka pendek di jam dinding menunjukkan pukul setengah dua belas -waktu yang mereka sepakati, Hanna menyemprotkan parfum dengan aroma yang ringan di tubuhnya. Hanna masih mual, jadi dia membeli parfum dengan wangi yang tidak terlalu berat dan menyengat.


“Aku nggak terlambat kan?”


Liam langsung tertawa menyengir menyapa Hanna saat dia keluar dari rumah. Hanna tidak menyahut, namun dalam hati dia memuji disiplin waktu Liam. Jika itu Lona, dia masih harus menunggu paling tidak lima belas menit dari waktu yang sudah mereka sepakati.


Kedua bola mata Liam seketika terpana, tidak berkedip sedikit pun menatap keanggunan Hanna. Hanna menggunakan dress off-shoulder berwarna hitam selutut, dengan ukuran yang sedikit longgar -Liam pikir itu untuk menutup perutnya yang mulai berbeda. Rambut cokelatnya dibiarkan tergerai dengan hanya dijepit oleh jepitan kecil berbentuk sulur bunga mawar.


Dan bibir Hanna, astaga. Dia benar-benar sangat memukau dan mengundang hasrat Liam. Seketika Liam langsung membayangkan jika dia sedang mencium bibir Hanna dengan begitu posesif dan lapar. Bibir Hanna tampak penuh dan sensual, dan saat Hanna membuka mulut seolah-olah mengundang Liam untuk mencecap balik.


Liam menelan ludahnya. Sial. Hanna benar-benar sangat atraktif. Entah apa yang menjadi daya tariknya, tapi Liam benar-benar mabuk saat melihat Hanna seperti ini. Dia seksi tapi pada tempatnya, bukan seksi yang berlebihan dan kurang enak dipandang mata. Jika bukan karena Liam masih menjajaki hubungannya dengan Hanna, ingin rasanya dia menggendong Hanna ke atas sofa dan menciumnya di sana, menawarkan semua keahlian yanh diyakininya sangat disukai oleh Hanna.


“Kamu...mobil baru?” Hanna melirik mobil Liam yang sudah berganti.


Waktu Liam datang ke rumahnya, dia mengendarai SUV, mobil yang identik dengan bodynya yang bongsor. Tapi kali ini Liam mengendarai sedan jenis Aston Martin yang diperkirakan Hanna mencapai miliaran rupiah untuk satu unitnya.


Enyahlah kalian, dasar pikiran kotor. Jika bukan karena Liam mendengar Hanna bicara, mungkin saat ini dia masih asyik membayangkan tubuh Hanna.


“Mm..” Liam mengangguk, susah payah memusatkan pikirannya.


“Aku pikir SUV terlalu tinggi, mungkin kamu sedikit kesulitan jika naik apalagi dengan posisi sedang hamil seperti ini. Jadi aku memutuskan untuk menggantinya dengan sedan.”


Sekali lagi Hanna merasa sangat terharu dan bahagia tak kentara. Liam benar-benar menjadikan dia sebagai prioritasnya, bahkan hal kecil seperti tinggi mobil pun dia perhatikan.


“Kamu terharu?” bisik Liam.


“Nggak juga.” Hanna langsung menggeser tubuhnya menjauh dari Liam.


Dia nyaris terintimidasi, namun dengan cepat dia bergidik acuh -tentu saja hanya pura-pura. Jika dia berada persis di samping Liam dan atau jika Liam menyentuhnya, maka Hanna takut dia akan kehilangan relitasnya. “Aku rasa kamu hanya sedikit boros.”


“Aku rela mengosongkan rekeningku demi kamu.” Dia mengerling nakal.


Hanna membalik tubuhnya dan tersenyum diam-diam. Liam pandai bicara, dan semua yang dikatakannya bagaikan madu, sangat manis dan membuat dia menginginkannya terus menerus. Tapi Hanna tidak suka jika Liam terus menerus menguras isi rekeningnya demi dia, atau mengatasnamakan anak yang dikandungnya.


“Kenapa kamu terus menyembunyikan senyum mu? Kamu kira aku nggak tahu?” Liam membuka pintu mobil, mempersilahkan Hanna masuk.


“Aku takut kamu terpesona.” Ujar Hanna datar sembari memakai sabuk pengamannya.


Liam mengangguk setuju. Jangankan tersenyum, Hanna menunjukkan wajah datar dan acuh seperti ini saja pun masih mampu membuat tubuh Liam bergetar menginginkan Hanna. Ahh, andai saja Hanna sudah sah menjadi miliknya dan diantara mereka sudah tumbuh rasa percaya, Liam tidak akan membiarkan Hanna lolos begitu saja.


“Thanks.” Ujar Hanna.


“Anytime.” Liam tersenyum.


Liam menggenggam tangan Hanna walau tanpa persetujuannya. Keduanya masuk ke sebuah restoran dengan rating Michelin Star dan langsung disambut dengan staff yang membawakan sebotol anggur. Hanna mengedarkan pandangannya, terkejut karena restoran itu kosong tanpa ada pengunjung yang lain.


Beberapa kali Hanna melewati restoran ini selalu saja penuh dengan pelanggan. Bahkan ketika dia dan Lona berniat makan di sana, pihak restoran memberi tahu mereka jika mereka harus mengambil nomor antrian. Karena keduanya keburu lapar, mereka pun membatalkan niatnya dan memilih makan di restoran lain.


Tapi kenapa hari ini tidak ada yang makan di sini? Apa jangan-jangan...


“Jangan bilang kamu mem-booking penuh restoran ini.”


Hanna menahan tangan Liam, merasa jika benar Liam melakukannya, maka itu adalah hal yang sangat merugikan.


“Benar.” Liam tidak berkelit.


“Kalau nggak seperti itu, bagaimana kita bisa menikmati makan siang tanpa gangguan?”


“Tapi pasti mahal kan?” wajah Hanna terlihat tidak suka.


“Kalau seperti ini aku nggak mau makan di luar lagi denganmu.” Dia merengut.


Mulai dari rumah, mobil, dan sekarang restoran. Berapa banyak uang yang sudah dihabiskan Liam untuk Hanna? Kali ini Hanna tidak merasa terharu atau senang. Dia merasa semua ini sia-sia karena sebenarnya makan di luar tidak penting. Mereka bisa makan di mana saja kalau memang harus makan di luar.


Liam menarik kursi Hanna, lalu memaksanya duduk. Dengan masih tersenyum Liam menatap Hanna yang terlihat marah dan wajahnya benar-benar lucu jika sedang cemberut. Liam tahu ke mana arah pembicaraan Hanna, namun Liam sudah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari karena ini salah satu planningnya untuk membuktikan diri pada Hanna.


“Aku nggak butuh ini semua...” Kemewahan yang ditawarkan ini justru membuat Hanna terbeban bersama Liam. Dia tiba-tiba merasa jika mereka punya perbedaan yang besar. Pola hidup Liam glamor, berbeda dengannya yang apa adanya dan cukup hemat. Hanna sadar jika sekat yang membentengi keduanya ternyata cukup tinggi.


“Han, aku tahu kamu keberatan, tapi hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa makan berdua denganmu. Kamu..tahu maksudku kan?”


“Aku tahu, aku juga memahami profesimu. Tapi kita bisa makan di restoran yang memiliki private room, kan? Kenapa harus memesan satu restoran penuh?”


Terus terang, Liam tidak pernah menyangka jika Hanna akan se-marah ini padanya hanya karena dia mem-booking restoran untuk Hanna sendiri. Namun di satu sisi dia cukup senang. Hanna benar-benar tidak menyukai uangnya, tidak menyukai kekayaan yang dia tawarkan. Kesederhanaan Hanna membuat Liam semakin yakin, Hanna bukan hanya Ibu dari anaknya, tapi juga pendamping masa depannya yang terbaik.


Sepertinya pertemuan mereka di club waktu itu bukanlah pertemuan biasa, namun sebuah takdir yang membawa Liam semakin memahami jika di dunia ini masih ada yang namanya ketulusan, kesederhanaan, dan rasa kasih yang tidak pernah dia dapatkan ketika masa kanak-kanak.


"Aku minta maaf. Aku nggak akan melakukannya lagi lain kali. Aku janji."


Liam memilih untuk tidak berdebat dengan Hanna dan membuat perasaannya tidak senang. Itu tidak baik untuk bayi mereka. Jadi, lebih baik Liam mengalah karena sebenarnya dia tahu maksud Hanna juga baik.