
“Hanna nggak ada di kantor..” Bobby dan Lona terengah-engah menemui Liam di lokasi pemotretannya. Liam melempar majalah yang sedang dibacanya, menyeret Bobby menjauh dari lokasi syuting.
“Apa maksudmu?”
“Aku nggak bisa menghubungi dia dan dia nggak ada di kantor lagi. Dia pergi meninggalkan kantor bersama Gita tapi aku juga nggak bisa menghubungi Gita.”
Sial. Liam berlari mengambil jaketnya, tanpa berpikir panjang dia meninggalkan pemotretannya begitu saja.
“Hei, mau ke mana? Bagaimana dengan sisa pemotretannya?” Noah mengejar Liam.
“Hanna menghilang..” Liam memakai jaketnya. “Aku akan mencarinya dan menyerahkan urusan pemotretan padamu. Sampaikan permintaan maafku pada mereka semua.”
Liam, Bobby dan Lona melesat meninggalkan lokasi syuting Liam. Hari sudah gelap, jalanan mulai padat merayap. Tempat pertama yang harus mereka tuju adalah rumah Hanna, satu-satunya tempat yang Liam harapkan Hanna berada. Dalam hati Liam harap-harap cemas dengan keselamatan Hanna dan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang hanya pasrah.
“Han.. Kamu di rumah?”
Liam mengetuk pintu rumah Hanna. Sepi, lampu rumah juga belum menyala satu pun. Itu artinya Hanna tidak berada di rumah. Lalu ke mana mereka pergi?
“Kamu tahu alamat Gita?”
“Alamatnya nggak sesuai dengan yang tertera di biodatanya.” Bobby menatap Liam. “Kami sudah mendatangi alamat yang sesuai dengan datanya di kantor namun tidak ada orang yang bernama Gita tinggal di sana. Aku juga sudah menanyakan teman-teman kerjanya yang lain, mereka semua mengatakan nggak tahu di mana Gita tinggal.”
“Aku juga sudah menanyakan beberapa tempat yang sering didatangai oleh Hanna, namun semuanya mengatakan jika dia tidak singgah di sana.” Lona ikut menimpali.
“Sial..” pekik Liam kesal.
Ke mana dia harus mencari Hanna? Semua jalan seakan tertutup, tidak ada jejak keberadaan Hanna. Tunggu. Mungkin orang-orangnya tahu keberadaan Hanna. Hanya itu harapannya saat ini, tidak ada yang lain. Liam mencoba tenang, mengetik di handphonenya saat sebuah sedan berhenti di depan rumah Hanna.
“Ikut aku..”
Ketiganya menoleh saat Jhon berteriak dari dalam mobil, dan mereka masih belum mengerti maksud Jhon apa.
“Aku tahu di mana Hanna. Ikuti aku.”
Dengan cepat mereka bergerak masuk kembali ke dalam mobil. Liam menekan pedalnya dengan kecepatan maksimum, mencoba mengikuti mobil Jhon.
“Kamu yakin dia membawa kita menuju Hanna?”
“Yakin.”
Liam sangat yakin jika Jhon akan membawanya kepada Hanna. Apapun motifnya sekarang, entah dia sedang menyiapkan jebakan atau dia memang tulus menolong, Liam tidak peduli. Dia hanya ingin menemukan Hanna saat ini, hanya itu tujuannya. Jika mereka dijebak, setidaknya Liam bisa berada di sisi Hanna dan akan melindunginya dengan semua kekuatan yang dia punya.
Mereka berhenti di perumahan Red Stone. Liam dan Bobby saling berpandangan. Bukankah rumah yang mereka curigai juga berada di dalam perumahan ini dan hanya berjarak beberapa ratus meter saja? Apa mungkin pelakunya membawa Hanna dan Gita ke sana?
“Aku akan menghubungi polisi kenalanku..” ujar Bobby. “Aku perlu menjamin keselamatan diri kita semua.” Dia melirik Lona yang duduk di kursi penumpang. Wanitanya itu tersenyum, mengangguk namun wajahnya terlihat putih pucat. Dugaan Bobby Lona shock atas hilangnya Hanna dan dia pasti sangat cemas dengan keadaannya.
Bobby menggenggam tangan Lona sebelum mereka turun. “Hanna pasti baik-baik saja.”
“Sangat serius..” gumam Jhon. “..aku memang masih menginginkan Hanna dan menyesal karena sudah putus darinya, namun setelah aku mengetahui dia mengandung, aku mengatakan pada diriku sendiri untuk berhenti.”
“Lalu kenapa kamu menunjukkan video palsu dan mengatakan jika anak itu adalah anakmu?”
Jhon melirik Liam. “Ternyata kamu tahu jika video itu palsu. Apa lagi, aku di bawah ancaman.” Namun sekarang Jhon tidak peduli. Hanna tidak menepati janjinya, dia tidak bisa menghubungi Hanna dan setelah bertanya kepada petugas keamanan kantor Hanna, mereka mengatakan Hanna sudah pergi bersama Gita, perasaannya langsung tahu jika Hanna dalam bahaya.
“Kamu tahu pelakunya siapa?”
Jhon tampak berpikir keras. “Aku nggak yakin..” dia menatap mereka semua bergantian. “..tapi by the way, ini bukan waktunya mengobrol. Kita harus segera menemukan Hanna.”
Jhon mencoba mengintip ke dalam rumah Gita yang sepi dan gelap. Sepertinya tidak ada orang di sana, namun Jhon yakin ke Hanna ada di sana karena dia pernah mengikuti Gita sekali. Dia masuk ke dalam rumah ini.
“Ini rumah siapa?” Tanya Liam penasaran.
“Kamu akan tahu nanti.” Balas Jhon.
Dia mencoba menarik handle pintu, namun rumahnya terkunci. Satu-satunya pilihan adalah mereka harus mendobraknya. Liam meminta mereka mundur lalu mencoba mendobrak. Percobaan pertama masih gagal. Liam mencoba lagi, dan percobaan kedua masih gagal. Dia tidak menyerah, kembali mencoba mendobrak dan di percobaan ketiga dia berhasil masuk.
Mereka menyalakan senter handphone masing-masing. Bobby memegang tangan Lona dengan erat dan menempatkannya di sisinya. Tiba-tiba lampu menyala dengan terang dan Jhon tersenyum. “Aku menemukan saklarnya.”
Ruangan di rumah sederhana itu sepi. Jelas sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Hanna ataupun Gita di sana. Dan setelah mereka semua menggeledah seluruh sisi rumah tersebut, mereka memang tidak menemukan siapa-siapa.
“Kamu yakin mereka ke sini? Kamu nggak sedang menipu kami?” Liam menatap Jhon tajam.
Jhon menggeleng. Tidak, seharusnya mereka ke sini. Dia tidak mungkin salah karena waktu itu dia melihat dengan jelas jika Gita masuk ke dalam rumah ini. “Aku nggak mungkin salah..” gumamnya. “Dia masuk ke sini.”
“Dia siapa?” seru Bobby. Dia merasa Jhon menarik ulur situasi mereka sedari tadi.
“Gita..” ujar Liam lemah. Dia mengangkat pigura foto yang dia temukan tergeletak di lantai dan tentu saja dalam sekali pandang dia tahu siapa orang yang ada di dalam foto itu.
“Apa?” Lona menggeleng tidak percaya. “Itu artinya puteri pasangan Bradley dan Veronica adalah..”
“Gita.” Ujar Liam sekali lagi.
Mulut Lona menganga lebar, tidak percaya dengan kebetulan yang sangat luar biasa ini. Itu artinya selama ini Hanna berada sangat dekat dengan seseorang yang mengintai nyawanya dan memikirkan itu membuat bulu kuduk Lona merinding.
Begitu juga dengan Liam. Dia nyaris berteriak ketika melihat pigura foto itu. Sesuai dengan feelingnya, orang yang menyakiti Hanna adalah orang terdekat dan dia benci ketika feeling nya itu berubah menjadi kenyataan. Bagaimana keadaan Hanna sekarang? Apa dia baik-baik saja? Hanna, di mana kamu sebenarnya?
“Tunggu..” Jhon mengangkat tangannya. Dia menginjak-injak lantai di dekat dapur, lalu berjalan ke sisi lain lantai itu. “Dengar..” dia menjejakkan kakinya yang menimbulkan bunyi yang ringan seolah-olah ada ruang kosong di bawahnya.
“Bunyinya berbeda dengan lantai yang ini.” Dia berjalan ke sisi lain dan kembali menjejakkan kakinya. Suaranya terdengar lebih padat dan penuh.
Liam mendekat. Dia menyibak sebuah karpet bludru yang menutupi lantai dan menemukan sebuah pola ubin yang berbeda, sedikit timbul. Dia menggeser kotak ubin yang pertama dan dia tertegun saat di bawahnya dia menemukan sebuah papan kayu. Bobby dan Jhon membantunya menyingkirkan kotak-kotak ubin yang tersisa, dan mereka semua tidak percaya dengan temuan mengejutkan itu.
“Jalur bawah tanah!”