Way Back To You

Way Back To You
Mengembalikan Kepercayaan Itu Sulit



"Psychology says: no matter how angry you get, you always end up forgiving the people you love."


Hanna berjinjit pelan menuju pintu kamar lalu menempelkan daun telinganya. Dia tidak bisa mendengar apa-apa seolah-olah di ruangan itu tidak ada orang. Tadi malam Hanna meminta Liam untuk kembali ke rumahnya tapi dia tidak bisa pergi karena mobilnya ternyata dibawa oleh Bobby entah ke mana. Satu-satunya pilihan Hanna adalah mengizinkan Liam menggunakan sofanya untuk tidur.


Hanna tidak ingin terlihat gampang untuk memaafkan Liam dengan begitu mudahnya dan berjanji memberi Liam pelajaran yang tidak akan bisa dilupakan oleh laki-laki itu. Saat Hanna membuka pintunya perlahan, lalu menyembulkan sedikit kepalanya –mengamati, ruangan itu kosong tanpa siapa-siapa. Hanna membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Benar sekali. Liam tidak ada di sana. Apa laki-laki itu meninggalkannya sendirian setelah tadi malam memohon untuk terus mempercayainya? Dasar laki-laki brengsek, gerutu Hanna. Dia memegang perutnya setelah itu karena lapar. “Aku pikir saat aku bangun makanan sudah tersedia.”


Liam tidak menyangka jika jarak rumah Hanna ke pasar terdekat cukup jauh. Tadinya dia berangkat jalan kaki dengan niat belanja sembari olah raga, terlebih juga karena Bobby membawa mobilnya pergi. Belanjaan Liam tidak terlalu banyak, namun menenteng kantong belanjaan sejauh empat kilometer ternyata lebih melelahkan dari yang Liam kira.


Dengan nafas sedikit tersengal, Liam membuka pintu, mendapati Hanna tengah berada di dapur. “Apa yang kamu lakukan?”


Hanna terkejut mendapati Liam kembali ke rumahnya. Dia mengamati barang belanjaan yang diletakkan Liam di atas meja. Ternyata dia pergi berbelanja, bukan pulang. “Kamu belanja?”


“Benar.” Liam mengangguk. “Isi kulkasmu sudah waktunya ditukar, bahan makanan di dalam sudah nggak segar lagi. Aku bahkan nggak tahu harus memasak apa untukmu.”


Hanna memilih duduk di meja makan, menunggu Liam memasak sesuatu untuk memenuhi rasa laparnya. Dia menangkupkan tangan seperti posisi berdoa dan meletakkannya di bawah pipi, diam-diam mengamati Liam yang tampil layaknya chef handal.


“Hanna..”


“Mmm?”


“Apa kamu sudah memutuskan untuk memaafkanku atau nggak?”


“Entahlah..” Hanna menegakkan tubuhnya. “Aku belum yakin.”


Liam mengangguk-anggukkan kepalanya, kembali melanjutkan mengaduk sesuatu di dalam wadah. “Apa yang harus ku lakukan supaya kamu memaafkanku?”


“Nanti saja bicaranya, masakanmu bisa gosong.”


Hanna tidak suka dibohongi. Dia cukup kesulitan menumbuhkan kembali kepercayaan dalam dirinya dan Liam memperburuk situasinya. Dia tidak ingin hubungan tarik ulur dan terasa di awang-awang. Dia tidak ingin patah hati lagi. Hanya itu, hanya itu saja yang harus dilakukan Liam dan itu termasuk syarat agar Liam bisa bersamanya.


“Kita sudah bisa bicara?”


Liam mengangkat piring kosong terakhir dari atas meja setelah keduanya sarapan bersama. “Aku harus tahu apakah aku masih memiliki hak untuk bersamamu selain karena bayi kita.”


“Apa maksudmu?” Hanna mengernyit.


“Hanna, kamu juga tahu perasaanku sudah terlibat selama ini. Aku menyukaimu, aku mencintaimu dan itu bukanlah karena tanggung jawab ku padamu dan bayi kita. Aku mencintaimu karena itu kamu seorang Hanna."


“Kamu..” Mencintaiku? Apa kamu sedang melakukan sesuatu? Ini akting atau sungguhan?


“Hanna..”


“Aku nggak yakin dengan ungkapan perasaanmu yang agak tiba-tiba ini..” Hanna menatap Liam lekat-lekat. “Maksudku..kamu mungkin menyukaiku secara personality. Tapi kalau rasa mencintai, aku nggak yakin kamu benar-benar memilikinya dalam hatimu.”


“Kamu nggak percaya Han?”


“Kalau aku bilang aku nggak percaya, apa kamu akan marah?”


Liam menelan ludahnya dengan dililit rasa kecewa. Dia tersenyum pahit, mengangguk-angguk tanda dia mengerti ke mana arah pembicaraan Hanna. Sederhana, Hanna tidak percaya padanya lagi. Mungkin dia saat ini mau duduk bersama dengannya hanya karena dia Ayah bayi dalam kandungannya. Sial. Sebesar inilah akibat yang harus dia terima.


“Tapi bagaimana dengan semua hal yang sudah kita lakukan selama ini?” Liam menolak untuk menyerah. Suaranya terdengar parau dan tenggorokannya tersekat menahan air mata yang nyaris menyeruak. “Kita tidur bersama, kita bahkan melakukan hal itu sekali lagi..” suara Liam tertahan. Dia menghela nafasnya dalam-dalam, pasrah. “Baiklah.. Aku hargai keputusanmu.”


Hanna sempat melihat tetesan air mata Liam sebelum dia membalik tubuhnya dan menyibukkan diri di depan wastafel. Dia mendengar beberapa kali Liam terbatuk dan berdehem seperti membersihkan tenggorokannya, namun Hanna tahu dia melakukannya supaya air matanya tidak jatuh. Apa aku terlalu menyakiti hatinya? Tapi tidak Hanna.. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Liam memang harus diberi pelajaran.


*


Ketika Lona terbangun, dia masih bergulung di dalam selimut tebal dan dia berada di dalam ruangan yang terasa asing namun juga seperti pernah dia lihat sebelumnya. Lona duduk, memegangi kepala yang terasa berat dan sakit. Namun dia tiba-tiba berseru mendapati tubuhnya tidak ditutupi oleh sehelai benang pun. Lona menarik selimut hingga menutup pundaknya dan dengan gugup mencari pakaiannya yang tidak bisa dia temukan. Lona menggaruk rambutnya yang berdiri seperti bulu singa, sedikit kebingungan karena dia tidak ingat apa yang sudah terjadi.


Pigura foto Bobby yang terletak di atas nakas menyadarkan Lona jika dia sedang berada di kamar Bobby. Ah, pantas saja ruangan ini terasa sedikit familiar bagiku. Lona menelan ludahnya dan mengutuk dirinya berkali-kali. Entah bagaimana dia bisa berakhir di kediaman Bobby karena tadi malam dia sedang...


Lona menjerit, lalu tiba-tiba dia menutup mulutnya sendiri. Astaga Lona, apa yang kamu lakukan dengan Bobby?


Ingatan tentang bagaimana Bobby menciumnya dan juga suara-suara yang keluar dari mulutnya...


Lona membungkus seluruh tubuhnya dalam selimut. Lona, Lona yang bodoh, bagaimana bisa kamu melakukan ini semua? Dari dalam selimutnya Lona bisa mendengar suara pintu terbuka dan jejak kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Aish, kenapa Bobby harus masuk kamar segala?


“Lona, apa yang kamu lakukan?” Lona berusaha menahan selimut yang membalutnya saat Bobby menariknya. “Kenapa kamu membungkus tubuhmu seperti trenggiling?”


Tidak ada gunanya juga dia sembunyi di sana. Lona akhirnya menurunkan selimut hingga ke bahunya dan menatap Bobby dengan wajah memerah menahan malu. Bobby tersenyum, duduk di sampingnya dan menyibak rambutnya yang berantakan.


“Aku sedang menyiapkan sarapan. Kalau kamu mau mandi, aku sudah meletakkan pakaian bersih di kamar mandi. Perlengkapan mandi bisa kamu ambil langsung dari dalam nakas yang ada di dalam.”


Lona tidak menyahut karena dia masih terlalu malu untuk bicara dan Bobby menyadarinya. Dengan lembut Bobby mengelus rambut Lona dan bayangan malam yang liar yang dilewati mereka berdua semalam membuat jantungnya berdetak cepat. “Aku akan menunggumu di ruang makan.” Bobby mengecup kening Lona. Dia harus meninggalkan Lona sebelum semua sisi liarnya kembali bangkit apalagi dengan posisi Lona yang masih tidak menggunakan apa-apa.


Ada perasaan hangat mengalir dalam tubuh Lona saat Bobby mencium keningnya. Dia seperti sangat berharga bagi Bobby, bukan diperlakukan layaknya wanita sekali pakai. Lona mengusir pikiran liarnya jauh-jauh dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi.


Baju kaos Bobby sedikit kedodoran untuk tubuh Lona. Dengan sedikit gugup dan malu Lona melangkah menuju ruang makan dan Bobby sudah menunggunya di sana. Lona membiarkan rambutnya tergerai begitu saja karena masih basah dan juga karena dia tidak bisa menemukan hair dryer di dalam nakas Bobby.


Ya Tuhan, ternyata wajah tanpa make up seperti ini malah jauh lebih menawan, gumam Bobby sembari menelan ludahnya. Bobby menyajikan sarapan di depan Lona sementara kedua bola matanya tidak mau lepas dari wajah Lona.


“Bobby..” Lona urung memakan sarapannya saat dia bahkan sudah akan menyendoknya ke dalam mulut. “Aku sudah memikirkan semuanya matang-matang.”


“Tentang apa?” Bobby terlihat santai.


“Apa yang terjadi tadi malam. Itu...anggap saja hanya permainan sesama orang dewasa.”


“Apa?” Bobby berdecak tak percaya.


“Aku dan kamu sudah dewasa, bukan? Kita boleh melakukannya walau tanpa perasaan apa-apa. Jadi aku harap kamu bisa melupakannya dan..”


“Melupakannya?”


Lona mengangguk, sedikit gugup. “Kita masih bisa berteman setelah ini tapi kita harus melupakan apa yang kita lakukan tadi malam.”


Bobby menggelengkan kepala, cukup shock dengan apa yang dikatakan oleh Lona. Bukankah dia yang mengucapkan bahwa dia menyukainya tadi malam? Gampang sekali dia mengatakan untuk melupakannya begitu saja.


“Jika aku menolak, apa kamu akan keberatan?” ucap Bobby tegas dan sarat kekecewaan.


Lona menggeleng. “Aku nggak punya hak mengaturmu jadi aku nggak akan keberatan sedikit pun.”


“Lona...” Bobby berdiri. Dia frustasi, tidak percaya jika Lona akan membuyarkan rencana yang sudah disusunnya semalam suntuk. Saat Lona terlelap dalam pelukannya, Bobby sudah berjanji akan memulai hubungan yang baru dari awal bersamanya. Namun apa yang diucapkannya pagi-pagi begini?


“Aku memang sudah dewasa, tapi kamu harus tahu tidak semua orang dewasa suka bermain dengan cara seperti apa yang kita lakukan tadi malam.” Bobby menatap Lona tajam.


“Memang banyak juga di luar sana yang melakukan hubungan seperti itu tanpa melibatkan perasaan, tapi itu nggak berlaku padaku. Kamu harus tahu, ketika aku mau meniduri seorang wanita, itu artinya perasaanku sudah terlibat sangat jauh. Dan kamu tahu ke mana arah pembicaraanku, bukan?”


Lona mengerjap. Saat mandi dia sudah memikirkan semuanya. Rasanya mustahil Bobby menyukainya karena dia sangat cinta mati pada Hanna. Bukan sekali dua kali dia menyaksikan Bobby menangis, bahkan mabuk parah hanya karena Hanna. Dia tidak ingin terjebak dalam hubungan tanpa rasa sama sekali. Dia tidak rela dijadikan pelarian Bobby sekalipun Hanna adalah sahabatnya.


“Bobby..”


“Boleh aku mengkonfirmasi sesuatu padamu?” sela Bobby cepat.


“Apa itu?”


Bobby mendekatinya. Kedua tangan Bobby menangkup pipi Lona dan dia mencium Lona dengan intens. Awalnya Lona menolak, berusaha untuk melepas rengkuhan tangan Bobby dari wajahnya namun perlahan kekuatannya melambat hingga tangannya turun ke punggung Bobby.


Bobby mencium Lona semakin dalam, menyusupkan kehangatan ke dalam setiap cecapannya di bibir Lona. “Kamu juga menyukaiku, iya kan?” bisik Bobby dengan kedua bibir mereka yang masih bersentuhan.


Lona menelan ludahnya, kedua tangannya masih merengkuh pinggang Bobby dengan erat. Dia menatap Bobby penuh kerinduan dan tanpa dibuat-buat dia mencium Bobby dengan kemauannya sendiri. “Aku hanya takut..” bisik Lona. “Bagaimana kalau aku hanya pelarianmu saja?”


“Siapa bilang?” Bobby senang bibir Lona masih bersentuhan dengan bibirnya. “Bagaimana kalau kamu adalah wanita yang sedang menungguku, wanita yang tepat untukku? Bukankah kamu yang bilang mungkin saja wanitaku sedang menungguku di suatu tempat? Bagaimana kalau itu kamu?”


Lona tersenyum kecil, merasa senang Bobby masih ingat dengan semua yang dikatakannya. Dia kembali memejamkan matanya saat Bobby menciumnya dengan dalam, seolah-olah dia memang sedang mengklaim jika apa yang ada dalam diri Lona saat ini semuanya adalah miliknya.


“Be mine.” Bobby mengelus wajah Lona dengan buku ibu jarinya. Lona kembali tersenyum dan mengangguk yakin. “I will.”