Way Back To You

Way Back To You
Ungkapan Rasa Cinta



Tubuh Hanna masih menempel pada Liam saat dia terbangun keesokan harinya. Matahari sudah meninggi, terlihat dari cahayanya yang masuk menyusup lewat celah jendela kamar. Hanna menatap Liam yang masih tidur dengan nyenyak. Wajahnya terlihat sangat lelah namun tetap terlihat mempesona di saat yang sama.


Jemari telunjuk Hanna bergerak menyusuri wajah Liam, mulai dari kedua alisnya hingga ke ujung hidung Liam yang tinggi. Hanna tersenyum, dia menggigit jarinya sendiri. Entah siapa yang paling beruntung di antara mereka berdua untuk hubungan ini, dia sendiri atau Liam, atau bahkan mereka berdua. Namun Hanna selalu menegaskan dalam dirinya jika dia sangat beruntung memiliki Liam, hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya dalam benak Hanna.


Hanna pikir dia tidak akan jatuh cinta lagi –tidak secepat ini, saat hubungannya kandas karena pengkhianatan. Namun Liam memasuki hidupnya tanpa sengaja lewat pertemuan di club malam dan ketidaksengajaan itu menumbuhkan kedekatan dan cinta dalam dirinya. Memang benar, awalnya semua itu hanya karena bayi dalam perutnya. Namun setelah tinggal bersama, Hanna pun akhirnya mengakui jika perasaannya tumbuh lebih cepat dari yang dia duga pada Liam.


Sederhana sekali. Liam tidak melakukan apa pun, namun Hanna sudah sangat jatuh cinta.


Telunjuk Hanna kembali bergerak menyusuri bibir Liam yang lembut, sesuatu yang membuat Hanna selalu merasa terbang saat Liam menempelkannya ke bibir Hanna. Hanna mengangkat tubuhnya, mengecup bibir Liam dengan hangat hingga membuat Liam menggeliat. Tangan Liam kembali menarik tubuh Hanna dan dia mengunci Hanna menggunakan kakinya.


“Ini sudah siang.” Bisik Hanna lembut.


“Sepuluh menit lagi.” gumam Liam, masih dengan mata terpejam.


Hanna setuju. Bahkan sepuluh menit masih terlalu kurang baginya. Hanna ingin terus memeluk Liam seperti ini selamanya. Hanya Liam seorang.


“Kenapa kamu terpikir untuk kembali ke panti asuhan?” ujar Hanna sembari mengurut alis Liam dengan lembut. “Aku pikir kamu pergi menenangkan diri ke pantai atau ke mana pun selain panti asuhan.”


“Entahlah. Saat aku keluar rumah, tanpa sadar otakku memandu tanganku untuk menyetir ke panti asuhan. Dan setelah sampai, aku baru menyadarinya jika aku sudah tiba di sana.”


Liam mencium leher Hanna sebelum menyurukkan kepalanya di dada Hanna.


“Kamu bertemu siapa di sana?”


“Kepala pengurus panti asuhan dulu. Dia yang memberitahuku semua hal tentang Ibu kandungku.”


“Seharusnya kamu mengajakku saat itu.” Hanna mengelus punggung Liam yang masih tidak mengenakan apa-apa.


Liam tersenyum, mengangguk setuju lalu kembali mencium dada Hanna. “Ya, kamu benar. Seharusnya aku mengajakmu. Setidaknya jika ada kamu, mungkin aku nggak sekacau ini.”


Hanna mendesah. Dia memeluk Liam erat lalu mengelus rambutnya perlahan. “Sudahlah. Sebenarnya aku nggak ingin membahasnya dan membuatmu semakin menderita. Jadi bisakah kita nggak mengungkit masa lalu mu? Dan bisakah kamu nggak terpengaruh lagi dengan semua itu?”


“Kamu yang memulai duluan.” Ujar Liam.


Hanna tersenyum. “Aku tahu.” Ujarnya. “Jadi, pembicaraan ini akan selesai di sini, okay? Tidak ada lagi pembahasan mengenai hal ini dan semua itu nggak boleh diungkit lagi.”


“Tergantung bagaimana caramu untuk membuatku melupakannya.”


Hanna berdecak, mendorong Liam karena dia tahu Liam sedang mengerjainya. Sebuah senyum mengembang di wajah Liam begitu Hanna mendorongnya. Dia membuka matanya untuk menatap Hanna, wanita yang mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Jika dia tidak bertemu Hanna, entah bagaimana kehidupan Liam saat ini.


“Kamu istirahat saja dulu.” Hanna duduk menggeser selimut yang membalut tubuhnya, hingga menunjukkan tubuhnya yang masih belum mengenakan apa pun sejak semalam. “Aku akan naik duluan untuk membuat sarapan.”


Liam tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Hanna saat dia tengah memilih pakaian dari lemari –karena pakaian mereka berserak di sofa. Baby bump Hanna sangat lucu dan menggemaskan. Tubuh Hanna tidak terlalu tinggi namun semua hal yang ada dalam tubuhnya terasa sangat pas. Kulit Hanna putih bersih dan hanya melihatnya saja Liam tahu betapa lembutnya kulit itu.


Liam ingin terus menerus menyentuh Hanna karena dia selalu merasa kurang. Dia masih menginginkan Hanna.


“Aku akan membuatnya nanti.”


Liam memeluk tubuh Hanna dari belakang, mulai kembali mengerayangi kulit Hanna yang halus.


“Tapi ini sudah siang.” Gumam Hanna, sedikit menahan nafas saat Liam menyentuh dadanya.


Sengatan demi sengatan sensual kembali memenuhi tubuh Hanna saat Liam mulai mencumbuinya, mencium lehernya dengan lembut. Liam mendorong tubuh Hanna hingga menempel ke lemari. Dengan lembut dia mencium bibir Hanna sementara tangannya menangkup sisi wajah Hanna.


“Liam..” desis Hanna.


“Tapi ini sudah siang..” suara Hanna terhenti saat Liam mencium bibirnya. Dia tidak bisa menolak saat lidah Liam melesat memenuhi dirinya.


“Sebentar saja.” Liam mencium Hanna dengan posesif. “Aku sudah meninggalkanmu selama dua hari dan ini adalah bentuk penebusan diriku padamu.”


Hanna terkekeh. “Ini bukan penebusan. Kamu menikmatinya, jadi ini tidak termasuk penebusan diri, okay.” Ujar Hanna.


“Aku tahu. Tapi kamu juga menikmatinya. Kita menikmatinya.”


Liam menggendong Hanna dan membaringkannya kembali ke atas tempat tidur berukuran king size di kamar basement. Liam melepaskan bibir Hanna, lalu memutuskan untuk menatap wajah teduh Hanna sementara dia berbaring di atas tubuhnya.


“Apa?” Hanna tersipu malu.


Walau dia dan Liam sudah melakukan ini berkali-kali, namun saat dia mendapati Liam menatapnya dalam seperti saat ini, dia selalu merasa jantungnya berdebar lebih cepat diikuti wajahnya yang bersemu merah.


“Jangan menatapku seperti itu..” Hanna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.


Liam menahan tangan Hanna lalu menautkan jemari mereka. Demi apa pun, Liam sangat mencintai Hanna. Perasaan yang awalnya hanya bentuk pertanggungjawaban pada janin dalam kandungannya berubah menjadi rasa ingin memiliki dan melindungi Hanna selamanya. Dari ratusan –bahkan ribuan wanita yang dikenal Liam, Hanna terlalu mencolok untuk dilupakan.


Ada sesuatu dari diri Hanna yang membuat Liam tidak sanggup berpaling. Sebuah ketulusan yang mengubah perasaannya dan juga membalut luka dalam dirinya, dan hanya Hanna yang memilikinya.


Hanya Hanna yang sanggup mengubah dunia Liam, membuatnya menginginkan lebih dari sekedar hubungan badan.


Sebuah komitmen. Liam tak pernah memikirkan akan berkomitmen penuh pada wanita, bahkan dia masih ingat sumpahnya pada dirinya sendiri jika dia tidak akan terlibat hubungan serius dengan wanita mana pun, tidak sebelum dia bertemu Hanna.


Lalu Hanna memasuki hidupnya dan membuatnya ingin menguji dirinya sendiri, sejauh apa dia sanggup menjaga sebuah komitmen. Dan disinilah Liam sekarang, bersama dengan wanita yang membuatnya ingin menjadi lebih baik dan ingin berusaha lebih lagi untuk menjadi sosok yang pantas.


Semua keegoisan dan nafsu Liam tertahan oleh Hanna.


“I love you, Han.” Ujar Liam pendek.


Hanna terkejut, matanya mengerjap menatap Liam. Liam tidak pernah mengungkapkan hal-hal seperti ini secara gamblang. Hanna hanya mengetahuinya dari gestur Liam dan cara Liam memperlakukannya selama ini. Tapi ini, sebuah ucapan meluncur dari mulut Liam? Dia mengatakan jika dirinya mencintai Hanna?


“Apa?” desis Hanna pelan.


“Aku mencintaimu.” Ujar Liam lagi. “Sangat mencintaimu.”


"Katakan sekali lagi." pinta Hanna.


"Hanna, aku mencintaimu. Sangat..."


Hanna mengangkat kepalanya untuk mencium bibir Liam. Kedua kelopak matanya berkaca-kaca, dan sebuah lengkungan kecil terukir di bibirnya. Hanna tersenyum seraya membalas Liam: "Aku juga mencintaimu."


"Kalau begitu.." Liam menunduk, mencium leher Hanna berulang-ulang. "..kapan kita akan menikah?"


"Kapan pun kamu menentukan waktunya, aku setuju." bisik Hanna.


Liam mengangguk, tersenyum lalu membalas ciuman Hanna dengan intens. "Akan ku minta Noah untuk mengurus semuanya. Ku pikir pernikahannya bisa dilakukan dalam bulan ini."


"Baiklah."


"Tapi, setelah aku mengurus Leanor. Mungkin dia punya alasan untuk mengaku-ngaku sebagai Ibuku. Akan ku bereskan secepat mungkin dan kita akan kembali ke kehidupan kita yang nyaman."


Matahari merangkak naik perlahan lalu menyembunyikan wajahnya di balik awan-awan yang mulai bersusun serta berarak mengikuti arah angin. Mungkin dia juga ikut tersipu melihat dua insan yang tengah meneguhkan ikrar cinta masing-masing. Dan hingga menjelang siang, keduanya masih berbaring di ranjang dengan tubuh saling berpelukan.