
“Apa lagi sekarang?”
Liam mengerang dengan suara rendahnya yang khas, setelah Bobby meneleponnya perihal bocornya kehamilan Hanna di kantor.
“Aku juga nggak tahu kenapa foto USG Hanna bisa tersebar dan itu asli, bukan editan. Aku sudah memeriksanya."
Lupakan soal memeriksa keaslian foto itu. “Siapa pelakunya? Tentu hal ini terekam kamera keamanan kan?”
“Pelakunya terekam, tapi...”
“Tapi apa? Beritahu aku.”
“Kamu sibuk? Bagaimana kalau kita bertemu saja?”
Liam memegang lehernya yang sudah terasa kaku. “Baiklah. Nanti malam, Restoran Silver Bowl.”
Liam memutar handphonenya, mulai berpikir keras. Sepertinya kali ini pelakunya bukan Veronica. Walau bagaimana pun Liam masih pemegang kunci kesuksesan agensinya, aset yang sangat berharga. Mustahil Veronica membocorkan kehamilan Hanna yang secara tidak langsung malah akan membuat dia dicurigai. Veronica tidak akan mau Ayah kandung bayi dalam kandungannya terkuak. Tapi siapa kali ini? Sebenarnya ada berapa pihak yang harus dilawannya sekarang?
“Kamu baik-baik saja?” Noah meletakkan handphonenya dan memilih berhenti memainkan game setelah dia melihat raut wajah gusar Liam.
“Seseorang membocorkan kehamilan Hanna..”
“Apa?” Noah berteriak, hingga membuat beberapa orang yang sedang bersiap-siap mengemas perlengkapan Liam menoleh padanya. “Are you kidding me?” bisiknya kemudian.
“Apa aku terlihat bercanda?” sungut Liam kesal.
“Lalu bagaimana? Apa...”Noah memeriksa sekelilingnya, lalu menggeser kursinya hingga berada tepat di samping Liam. “Apa mereka tahu kamu Ayah bayi itu?”
“Entahlah, aku belum sempat menanyakannya karena Bobby langsung meminta bertemu. Tapi dari nada bicaranya, sepertinya kali ini dia dan Hanna berhasil menghandle nya.”
“Veronica benar-benar keterlaluan..” gumam Noah. “..dia pikir kamu itu apa? Benda yang bisa dikontrol begitu saja? Masa hanya karena ingin menjadikan mu menantunya, dia melakukan hal serendah ini?”
“Aku malah berpikir ini bukan ulah Veronica..” ujar Liam.
“Bukan dia? Jadi menurutmu siapa?”
Entahlah, Liam juga tidak tahu. Namun siapa pun dia, dia sangat menakutkan. Bagaimana bisa dia mengetahui kehamilan Hanna dan bahkan bisa menyebar foto USGnya? Kehamilan Hanna hanya diketahui oleh setidaknya enam orang saja, sudah termasuk Veronica. Mereka sangat menutupi kehamilan ini dengan sangat baik demi kenyamanan hidup Hanna dan karier Liam. Bagaimana mungkin bisa bocor?
Gerimis menyambut saat Liam turun dari mobilnya menuju restoran yang terletak di pusat kota. Setelah mengatakan namanya, seorang staff langsung membawa Liam menuju ruangan privat tempat Bobby menunggunya.
“Kamu sudah lama menunggu?” Liam membuka jasnya.
Bobby menggeleng. Dia menenggak anggur yang tinggal sedikit di gelasnya ketika Liam sampai. “Aku juga baru saja tiba."
“Kamu sudah makan? Aku sudah memesan..”
“Cepat ceritakan padaku.” Potong Liam.
Mana ada seleranya untuk makan sekarang. Memikirkan semua yang terjadi akhir-akhir ini saja membuatnya pusing dan khawatir setengah mati. Mengetahui kegelisahan Liam, Bobby mengeluarkan laptop dari ranselnya. Dia menunjukkan rekaman CCTV pelaku yang menempel foto di dinding kaca departemen Hanna.
“Pelakunya ada dua orang, namun kamu lihat saja pakaian mereka..” Kedua pelaku mengenakan pakaian yang tertutup. Memakai topi, masker, kaca mata, nyaris tidak bisa dikenali. “Dan anehnya lagi, mereka bisa masuk ke kantor menggunakan kartu identitas kantor.”
Bobby memutar rekaman detik-detik keduanya menempel kartu dan berhasil masuk.
“Tapi setelah di cek, tidak ada data kartu yang terekam di mesin di jam tersebut. Mereka masuk sekitar pukul lima pagi, namun tidak ada daftar hadir yang terekam di database kantor pada jam lima pagi.”
“Kemana petugas keamananmu semuanya?” Liam terlihat menahan amarahnya.
Dia kesal mendapati keduanya bisa melenggang masuk begitu saja ke perusahaan Bobby lalu menempel semua foto itu, tanpa ketahuan sedikit pun. “Apa jangan-jangan mereka ini komplotan dengan petugasmu?” selidik Liam.
Bobby tampak menghela nafas dalam. “Aku rasa nggak Liam. Aku sudah menanyai petugas keamanan yang bertugas tadi pagi. Mereka berdua mengakui harus bolak balik ke toilet setelah menyantap burger yang mereka pesan secara online dan ada bukti rekamannya kok. ”
“Burger?” kening Liam terangkat.
“Ya.”
“Berarti seseorang tahu mereka memesan makanan dan menaruh sesuatu di makanan nya?”
Liam meradang. Musuh nya ini benar-benar bernyali besar dan sulit ditebak apa yang akan dilakukannya lagi. Walau Liam mengakui dia cukup limbung menghadapi semua ini, namun dia tidak akan menyerah. Demi Hanna –dan bayinya, dia akan melakukan apa pun.
“Tapi..aku mau minta maaf tentang satu hal padamu.”
Liam mengangkat wajahnya. “Apa?”
“Demi menyelamatkan wajah Hanna dan juga reputasinya, dengan terpaksa..aku mengakui bayi itu adalah bayiku dan..”
“Apa?” Liam berseru kaget.
“..dan aku juga mengatakan pada semua orang jika Hanna adalah istriku.”
“What? Bobby..”
“Aku tahu kamu akan kaget dan marah, tapi aku juga nggak tahu harus mengatakan alasan apa lagi supaya mereka berhenti menggosipkan Hanna. Hanya itu satu-satunya cara yang terlintas di pikiranku.”
Liam hendak protes, namun Bobby ada benarnya. Jika dia tidak mengatakan alasan konyol itu, mungkin Hanna masih menjadi buah bibir di antara rekan kerjanya. Hanna malah akan semakin stress, tertekan dan mungkin tidak akan nyaman. Sudah terlalu banyak hal yang dilalui Hanna akhir-akhir ini. Mungkin alasan ini satu-satunya cara menyelamatkan kondisi Hanna. Toh Bobby dan dia sudah bicara baik-baik tentang perasaan masing-masing, Bobby sudah merelakan Hanna dan Liam percaya sepenuhnya.
“Baiklah..” Liam mendesah. “Malah bagus, setidaknya mereka akan segan pada Hanna dan secara tidak langsung akan lebih menghormatinya, kalau bisa mereka menjauhi Hanna karena rasa segan. Aku nggak bisa mempercayai lingkungan Hanna lagi sekarang.” Gumam Liam.
“Lingkungan Hanna yang kamu maksud perusahaanku?” Bobby menyilangkan tangannya di dada. “Memang benar.” Sahut Liam tak mau kalah. “Perusahaanmu akhir-akhir ini nggak aman lagi.”
*
“Kamu dari mana? Kenapa pulangnya lama?”
Hanna terlihat khawatir setelah mendapati Liam tidak ada di rumah setelah dia pulang dari kantor. Dia khawatir pada keselamatan Liam dan juga ada hal yang harus segera diberitahukannya pada Liam. Dia ingin memberitahu Liam secara langsung tentang statusnya di kantor yang secara tiba-tiba berubah menjadi istri Bobby. Dia tidak ingin menutupi hal ini dari Liam.
“Kamu menungguiku?” Liam membelai wajah Hanna yang hangat. “Maaf aku nggak sempat mengabarimu kalau aku bertemu Bobby.”
“Bobby?”
Liam mengangguk. “Aku sudah tahu semuanya. Bobby sudah cerita padaku.”
“Lalu?”
Hanna ingin mendengar pendapat Liam mengenai keputusan sepihak Bobby yang mengakui dia adalah istrinya. Jika Liam keberatan, dia akan bicara pada Bobby besok.
“Lalu apa lagi Han? Ya sudah begitu saja.” Liam menggandeng Hanna masuk.
Hanna tertegun. Hanya itu? Apa bobby tidak memberitahu bagian yang tak kalah penting lainnya? Atau dia memang tidak memberitahu Liam karena dia takut? Kenapa Liam terlihat sangat santai?
“Aku nggak tahu apakah Bobby memberitahumu atau tidak, tapi pagi ini dia memberi pengakuan pada rekan-rekanku jika aku adalah istrinya dan anak yang ku kandung adalah anaknya.”
Liam hanya mengangguk sembari tersenyum. “Aku tahu itu.”
Kalau dia tahu kenapa reaksinya hanya sebatas itu saja? Dia marah, kesal, atau apa sih?
“Kamu marah?” Hanna menahan tangan Liam.
“Marah soal apa?”
“Karena Bobby mengatakan aku istrinya. Kamu marah?”
Liam tersenyum, menunduk lalu mencium bibir Hanna sekilas. “Aku nggak marah Han. Sebaliknya, justru aku merasa lega Bobby melakukan hal itu. Setidaknya nggak akan ada yang berani macam-macam denganmu di kantor.”
“Benarkah?” Hanna ragu-ragu.
Liam mengangguk sembari tersenyum.
Tentu saja aku marah Han, dan juga cemburu. Bobby bisa mengatakan dengan lantang pada semua orang kalau kamu adalah istrinya, sementara aku harus menahan semuanya untuk menghindari semua konsekuensi yang mungkin kita hadapi. Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu di kantor, itu sebabnya aku pasrah Bobby membuat keputusan seperti itu.
Kapan aku bisa mengakui pada semua orang jika kamu adalah milikku?