Way Back To You

Way Back To You
Seseorang Ingin Mencelakaiku



“Kamu sudah mencari tahu di mana Hanna?” Liam berjalan sangat cepat menyusuri koridor hotel menuju lobby. Noah yang tegopoh-gopoh di belakangnya bahkan hampir jatuh ketika berusaha mengikuti langkah kaki Liam yang panjang. Andai saja kaki ku bisa jenjang seperti kaki nya, sungut Noah.


“Aku sudah memerintahkan seseorang ke rumah Hanna, tapi dia bilang rumahnya kosong. Hanna juga nggak masuk kerja hari ini.” ujar Noah.


Sial. Ke mana sebenarnya Hanna pergi? Veronica mengatakan jika dia bisa memerintah dokter untuk menyakiti Hanna. Apa Hanna di rumah sakit? Tapi kenapa dia di rumah sakit? jelas-jelas tadi malam dia masih baik-baik saja.


Darah Liam mendidih memikirkan Hanna. Sebuah mobil minivan hitam berhenti di depan hotel sementara Liam masih berusaha menerobos kerumunan wartawan yang menyodorkan mic padanya. Semuanya menanyakan perihal pertunangannya dan Liam memilih untuk tidak menjawabnya dan seperti biasa meninggalkan masalah ini pada Noah. Sesampainya di dalam mobil, sembari menunggu Noah dia mencari nomor Bobby dan menghubunginya.


*


Selama menyantap sarapan khas rumah sakit yang terasa hambar, baik Hanna, Bobby atau Lona tidak satupun berbicara. Ketiganya seperti larut dalam pemikiran masing-masing khususnya Hanna yang merasa bersalah pada Liam. Dia mengerti tujuan Bobby mengungkap masa lalu Liam padanya. Itu semua bukan hanya supaya Hanna menerima Liam, namun juga agar dia bisa memahami Liam dan membalut luka hatinya perlahan-lahan lewat kebersamaannya dengan Liam.


Hanna dan Lona menoleh serempak saat Bobby menunjuk layar handphonenya yang berdering oleh panggilan Liam. “Boleh ku angkat?”


Tentu saja boleh. Baik Hanna dan Lona tidak memiliki hak untuk melarang Bobby mengangkat telepon dari siapa pun, termasuk Liam. Setelah mengangguk, Bobby menggeser tombol angkat dan menyalakan speaker.


“Halo..”


“Bob, apa Hanna bersama mu? Aku nggak bisa menghubungi Lona..”


Mendengar itu Lona memeriksa handphonenya dan, benar saja, handphonenya mati.


“..jadi aku ingin tahu apa kamu bersama salah satu dari mereka?”


Nada bicara Liam terdengar memburu, seperti terengah-engah dikejar sesuatu. “Kamu baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?”


“Jawab saja pertanyaanku. Apa Hanna bersamamu?” teriakan Liam seperti putus asa. Dia menaikkan volume suaranya seperti malam itu juga, namun yang ini tidak terkesan arogan.


“Ada. Hanna pingsan tadi malam jadi aku dan Lona membawanya ke rumah sakit. Ada apa?”


Tepat saat itu, seorang perawat masuk untuk memeriksa keadaan Hanna. Dia juga tampak menyiapkan dua tiga alat suntik beserta ampul. Namun ketiganya tidak terlalu memperhatikan perawat tersebut karena fokus mendengar apa yang sedang diucapkan Liam.


“Apa katamu?” Perawat yang sedang menyiapkan obat suntik Hanna ikut terkejut mendengar suara teriakan Liam –bahkan sampai menjatuhkan satu ampul, dan dengan segera Hanna meminta maaf.


“Bobby, dengarkan aku baik-baik. Jangan izinkan siapa pun menyentuh Hanna atau memberikan obat padanya...”


Mata Bobby langsung bergerak jeli menoleh pada perawat yang bersiap menyuntik obat ke dalam infus Hanna. Dengan sigap Bobby berdiri, menepis tangan perawat hingga alat suntik yang sudah terisi cairan obat terjatuh. “Siapa kamu?” bentak Bobby hingga membuat Hanna dan Lona terkesiap. Walau otaknya masih memproses semuanya, Lona juga langsung sigap memasang badan menutupi Hanna sementara perawat tadi langsung kabur meninggalkan alat-alat suntik yang masih berisi cairan.


“...kenapa? Suara apa itu?” teriak Liam. “Bobby, apa terjadi sesuatu pada Hanna?” kembali terdengar teriakan Liam.


“Tenang saja, Hanna baik-baik saja. Ada apa sebenarnya, hah?”


“Aku akan ceritakan semuanya nanti. Sekarang tutup pintu kamar rawat Hanna dan kunci. Aku akan tiba sepuluh menit lagi.”


Sambungan terputus. Bobby menunduk, memungut alat suntik yang dijatuhkan oleh perawat. Dia mengamati cairan dalam alat suntik dan menarik nafasnya dalam. “Lona, kunci pintunya. Aku ingin tahu isi cairan ini.”


Lona yang tak kalah gemetarnya hanya mengangguk. Setelah Bobby pergi dan dia mengunci pintu, dia langsung memeluk Hanna dan menenangkannya. Dia mengelus punggung Hanna. “Tenang Han, semua pasti baik-baik saja.”


Sepuluh menit berlalu, Liam dan Noah tiba di rumah sakit. Liam langsung menghambur ke dalam ruang rawat Hanna, memeluknya dengan erat hingga Hanna nyaris tidak bisa bernafas. Liam menatap Hanna, menangkup sisi wajah Hanna dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. “Hanna..” peluknya sekali lagi. Nafas Liam terdengar menderu seolah dia habis melakukan pekerjaan yang berat.


“Liam, ada apa sebenarnya?”


Bobby mencul tidak lama setelah Liam tiba. Liam melepas pelukannya, mengelus wajah Hanna dengan lembut. “Mereka tahu Hanna mengandung anakku.”


“Mereka? Mereka siapa?” Lona juga tidak mengerti.


“Atasan Liam, CEO agensinya.” Noah ikut menimpali. “Suami istri itu memang sedikit psycho tapi kami nggak menyangka jika mereka akan mengetahui soal kehamilan Hanna dan mengancam Liam supaya dia menerima perjodohan Liam dengan puteri mereka.”


Wajah Hanna berubah memerah mendengar kata perjodohan yang diungkap Noah. Dia menggigit bibirnya, menatap Liam dengan mata dipenuhi rasa penasaran, kaget, dan juga sakit hati. Liam tentu saja mengerti apa arti tatapan Hanna, dan dengan lembut –tanpa diduga-duga dia merendahkan kepalanya sedikit menunduk dan mengecup bibir Hanna di hadapan semua orang. “Aku nggak akan terpisah darimu. Walau ada banyak masalah yang membuat kita kerap terpisah, aku akan selalu menemukan jalan untuk kembali padamu. Percaya padaku, Han.” Sekali ini saja, percayalah padaku.


“Untuk sementara waktu, demi keamanan Hanna terpaksa aku akan mengikuti permainan mereka dulu. Aku akan setuju pada pertunanganku dengan puterinya...” air mata Hanna jatuh menyusuri wajahnya. Tiba-tiba saja dia menyadari jika dia tidak rela berbagi Liam dengan wanita mana pun, sekalipun Liam hanya sekedar mengikuti permainan mereka. Tapi, dia tidak rela.


“..jangan menangis..” Liam mencium air mata Hanna, lalu mengusapnya perlahan. “Aku juga akan tinggal bersama Hanna selama beberapa waktu ini untuk memastikan keamanannya. Entah Hanna yang pindah bersamaku atau aku yang tinggal bersamanya di rumahnya, di manapun oke, asal aku bersama dengan dia.”


Hati Hanna benar-benar gusar. Menyadari jika dia menghadapi bahaya besar yang mungkin akan mencelakai dia dan juga bayinya membuat Hanna merinding. Dia takut, sekalipun Liam mengatakan dia akan memastikan keamanannya, dia tetap takut.


“Liam, boleh aku bicara denganmu sebentar?”


Raut wajah Bobby serius. Hanna tahu dia menyembunyikan sesuatu, jadi dia langsung menahan Liam. “Tolong katakan semuanya di depanku, jangan menyembunyikan apa pun.” Hanna tidak bodoh. Walau dia tidak tahu penyebab nyawanya sekarang tiba-tiba terancam, dia tidak ingin mereka menutupi satu hal pun darinya walau itu hanya hal kecil.


Bobby tampak menghela nafas, diam-diam menatap Liam dan setelah Liam mengangguk tanda setuju, Bobby mengeluarkan selembar kertas dari kantong jaketnya.


“Cairan yang hendak disuntikkan oleh perawat tadi mengandung Cytotec Misoprostol Pfizer. Obat ini sering digunakan untuk...”


Bobby membasahi bibirnya untuk mengurangi tekanan yang membuat jantungnya juga kacau. Setelah menerima hasil lab dengan membayar dengan harga yang tinggi, Bobby bisa mendapat hasilnya dengan cepat. Namun saat petugas menerangkan hasil yang tertera, Bobby nyaris jatuh karena terkejut.


“Untuk apa?” Hanna penasaran, namun entah kenapa dia sudah mengetahuinya dalam hati.


“Untuk menggugurkan kandungan.”