
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Hanna tidak bicara sepatah kata pun. Dia diam memeluk dirinya sendiri dengan air mata yang sesekali masih menetes. Bayangkan saja, tiba-tiba kehidupannya yang tenang seketika terusik. Ada seseorang yang hendak membunuh bayinya –dan dia juga. Ada banyak hal yang berkecamuk di otaknya membuat dia kacau balau dan meninggalkan sensasi shock yang mengguncang kejiwaannya.
“Kamu baik-baik saja?” Liam menggenggam tangannya.
Siapa yang baik-baik saja dalam keadaan seperti ini? Setiap hari setelah hari ini akan dilewati Hanna dengan penuh rasa was-was dan curiga. Dia akan mencurigai semua orang yang mendekatinya, dia akan menghabiskan seluruh waktunya untuk menimbang-nimbang apakah orang-orang yang ditemuinya berniat jahat padanya atau tidak. Dan hanya memikirkannya saja membuat tulang-tulang Hanna ngilu setengah mati.
“Maafkan aku Han. Karena duniaku dan diriku sendiri, kamu harus menderita seperti ini.”
Ini keempat kalinya Liam mengucapkan kata maaf pada Hanna sepanjang satu hari ini. Liam tidak salah, apalagi dunianya. Yang salah hanya orang-orang yang memanfaatkan ketenaran Liam –dan juga parasnya yang rupawan. Hanna tahu, mereka hanya takut Liam keluar dari industri hiburan demi memilih bertanggung jawab padanya, lalu agensi akan kehilangan bintang utama mereka. Itu sebabnya mereka mengikat Liam dengan cara pertunangan seperti itu demi mencegah Liam meninggalkan mereka. Intinya, Liam adalah sumber uang mereka, dan tentu saja mereka akan melakukan apa pun demi mempertahankan sumber uang tersebut.
Setidaknya begitulah yang disimpulkan oleh Hanna dan Liam tidak seharusnya terus menerus meminta maaf padanya.
“Kalian berdua harus bicara..” Lona menutup pintu kamar Hanna setelah mereka tiba.
Liam dan Bobby berdiri, menunggu dan memastikan keadaan Hanna karena sepanjang jalan dia tidak mengeluarkan suara apa pun. “Aku dan Bobby akan ke supermarket sebentar untuk berbelanja kebutuhan Hanna.”
Liam mengetuk pintu kamar Hanna usai Lona dan Bobby pergi. Hanna belum juga menyahut, itu sebabnya Liam membuka langsung pintu kamar Hanna. Dia menemukan Hanna tengah berdiri menatap ke luar lewat jendela kamarnya. Dengan hati-hati Liam mendekat lalu memeluk pinggang Hanna yang mungil. “Maafkan aku.” bisiknya –kelima kalinya.
Hanna membalik tubuhnya sampai mereka berhadapan. Liam kira mereka akan berpelukan, namun Hanna berjinjit menumpukan kakinya di ujung jari, lalu mengecup bibir Liam dengan penuh kelembutan –dan ketakutan. Liam terkesiap, tidak menyangka dan tidak siap dengan apa yang dilakukan Hanna padanya. Dia membuka matanya beberapa lama, mengerjap dengan tidak percaya. Hanna menciumnya untuk pertama kalinya? Apa ini berarti Hanna sudah menerimanya dan bersedia melalui ini semua bersamanya?
Tangan Liam bergerak menangkup leher Hanna dan ibu jarinya mengangkat dagu Hanna, lalu Liam membalas menyentuh bibir Hanna. Gelombang gairah sensual bertubrukan dengan kumpulan memori yang sudah tercipta di antara mereka, dan semuanya menang. Semua ketakutan, sakit hati, was-was, dan paranoidnya lenyap, menguap begitu saja dikalahkan oleh kehangatan yang diberikan Liam padanya.
Hanna membentangkan tangannya di dada Liam yang bidang, semakin mendekat hingga menempel di tubuhnya untuk merasakan kehangatan tubuh Liam. Tanpa disadarinya, Hanna mengerang pelan saat Liam semakin mencecapnya lebih dalam. Hanna mencengkeram tubuh atletis Liam saat Liam menyelinap ke dalam bibirnya. Dia merasa sangat membutuhkan Liam, sangat mendamba dan menginginkan Liam. Dia terus mendekat pada Liam sedekat yang dia bisa.
Tangan Liam bergerak menyentuh punggungnya dan menariknya ke dalam pelukannya. Dia mengakhiri ciuman panjang dan dalam mereka dengan gigitan lembut di bibir Hanna hingga membuat Hanna nyaris mengerang. Untuk pertama kalinya, keduanya bisa meluruhkan semua pergulatan batin mereka dan menyerah pada pesona masing-masing.
Hanna mengatur nafasnya, masih mendongak pada Liam yang menyentuh wajahnya. Sementara Liam juga menatap Hanna lekat-lekat, seolah-olah dia sedang memastikan jika lawan ciumannya kali ini adalah Hanna, bukan wanita lain. “Jangan menatapku seperti itu.” gumam Hanna dengan suara yang serak dan berat.
Liam tersenyum, dengan jempol tangannya dia menyapu bibir Hanna yang terlihat bengkak dan memerah karena ulahnya.
“Liam, maafkan aku. Aku sempat meragukanmu dan nggak percaya padamu.” ujar Hanna, tulus.
Kedua lengan Liam memeluk Hanna erat-erat. “Apa aku bisa menyimpukan lewat perkataanmu barusan kalau kamu sudah menerimaku dan percaya padaku?”
Hanna mengangguk. Cerita Bobby lah yang sedikit banyak mengubah sudut pandangnya pada Liam. Walau belum menanyakan kebenaran cerita itu secara langsung pada Liam, Hanna yakin Bobby tidak akan mengarangnya. Untuk saat ini, Hanna akan menahan dirinya untuk bertanya karena situasinya sangat tidak memungkinkan.
“Han, apa aku sudah pernah mengatakan jika aku menyukaimu?”
“Apa?” mata Hanna mengerjap.
“Aku menyukaimu. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, tapi aku sangat yakin sekali. Aku mencintaimu, mencintai dirimu seutuhnya.”
“Bukan karena aku sedang mengandung anak mu?”
Liam menggeleng. “Aku menyukaimu karena dirimu sendiri.” Liam kembali mencium Hanna sekali lagi dengan cepat. “Bayi kita itu adalah bonus.”
Hanna tertawa kecil. Dia memeluk Liam, membiarkan kehangatan tubuh laki-laki itu membiaskan semua kesahnya dan kekhawatirannya. Hanna tidak akan menanyakan apa pun perihal ancaman yang diterimanya karena dia sudah memikirkan semuanya selama perjalanan pulang dari rumah sakit. Bersama Liam, dia akan melewati semuanya, melawan semua rintangan yang menghadang langkah mereka. Kali ini keputusan Hanna tidak akan berganti lagi apa pun yang terjadi, Liam adalah masa depannya.
“Dokter bilang kamu harus banyak istirahat..” Liam mengusap wajah Hanna. “..kamu istirahat dulu, aku akan memasak makan malam untukmu.”
Setelah selesai makan malam, Hanna duduk di sofa sementara Liam sedang membersihkan peralatan makan mereka. Hanna sudah menawarkan diri membantu, tapi Liam mengusirnya dan meminta Hanna duduk. Lona dan Bobby tidak kembali lagi ke rumah setelah pamit akan ke supermarket –itu hanya alasan agar Hanna dan Liam bisa bicara.
Tatapan Hanna kosong ke arah televisi, dia tidak benar-benar menonton serial dokumenter National Geographic yang sedang ditayangkan. Kenyataan jika seseorang berusaha mengejar nyawa bayinya tidak bisa luput dari otak Hanna. Dia terus memikirkannya, hingga sekujur tubuhnya lemah.
“Kamu memikirkannya lagi?” Liam tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Hanna mengangguk, dengan manja meletakkan kepalanya di pundak Liam. “Aku hanya sedikit khawatir.” Ujar Hanna.
“Kamu harus percaya padaku, aku nggak akan membiarkan apa pun terjadi padamu dan bayi kita.”
Tentu saja kamu harus melakukannya. Aku sudah mempercayakan semua padamu, bukan hanya tubuh dan bayi ini, tapi juga masa depanku. Liam, aku benar-benar mempercayaimu seratus persen sekarang.
“Baiklah. Kamu harus istirahat.”
“Tapi ini baru jam tujuh.” Protes Hanna saat Liam hendak menggendongnya. “Aku tahu, tapi aku nggak mengizinkanmu lama-lama duduk di depan televisi karena kamu juga baru pulang dari rumah sakit. Kamu harus menurut padaku.”
Hanna nyaris tertawa sembari melingkarkan tangannya ke leher Liam, dan dalam sekali angkat Hanna sudah berada dalam pelukan Liam. Liam menggendong Hanna menuju kamar dan meletakkannya dengan hati-hati. “Kamu bisa membaca buku sampai kamu lelah dan mengantuk.”
Tidak ada pilihan lain bagi Hanna selain menuruti permintaan Liam. Liam memilih beberapa buku dari rak buku Hanna dan meletakkannya di atas nakas sementara Hanna menikmati punggung Liam diam-diam. Hanna menatap Liam lekat-lekat dan menahan tangannya ketika dia hendak keluar.
“Kenapa?” Liam mengelus rambut Hanna yang dibiarkan tergerai.
“Mmm..”
Hanna tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat, tentang bagaimana dia ingin Liam tetap ada di sini menemaninya. Hanna sudah mencium Liam lebih dulu tadi, jika dia kembali meminta Liam tetap ada di kamar, apa pendapat Liam tentang dia nantinya?
“Kenapa kamu nggak minta saja?” Liam duduk, menggenggam tangan Hanna erat.
“Meminta apa?”
“Kamu mau aku tidur denganmu, iya kan?”
Apa? Tidur bersama? Maksudnya dia dan aku akan..
“Dokter bilang...tidak boleh berhubungan selama trimester satu belum lewat. Jadi...”
Liam seketika tergelak mendengar jawaban Hanna yang diluar dugaannya. “Apa maksudmu? Tidur yang ku maksudkan ya tidur berdua, nggak lebih. Kenapa kamu malah memikirkan tidur yang itu?” Dia kembali tertawa.
Wajah Hanna memerah menahan malu. Astaga, kenapa otaknya memikirkan itu? Dengan merengut karena merasa Liam menjebaknya, Hanna menarik selimut hingga membungkus dirinya seluruhnya. Dia masih mengutuk dirinya berkali-kali dalam balutan selimutnya, menyadari betapa bodohnya dia di depan Liam.
“Geser sedikit.” Bisik Liam.
Hanna menarik selimutnya sedikit hingga ke hidungnya dan hanya menampakkan matanya, menatap Liam lamat-lamat. Laki-laki itu tersenyum dan Hanna mengangkat tubuhnya, bergeser pelan ke samping. Liam naik ke tempat tidur dan memeluk Hanna dari belakang. Satu tangan menyelinap ke bawah bantal untuk merengkuh leher Hanna sementara tangannya yang lain merangkul pinggangnya. Dia membuka selimut Hanna dan menariknya hingga menutupi tubuhnya juga.
“Selamat tidur, Han.” Bisik Liam lembut.
Hanna tidak menyahut. Tak berapa lama Liam mendengar nafas Hanna yang dalam dan panjang saat wanita itu mulai terlelap, melupakan rencananya untuk membaca buku. Liam semakin memeluk erat Hanna dan dia pun ikut terlelap tak berapa lama setelah itu. Liam tahu Hanna rileks di dekatnya, itu sebabnya dia bisa ikut memejamkan matanya dan berusaha untuk istirahat setelah melewati hari yang panjang dan berat.