Way Back To You

Way Back To You
Aku Tidak Menyesal (II)



Hanna masih berdiri diam di tempatnya walaupun mobil yang dikendarai Bobby dan Lona sudah menghilang dari pandangan matanya. Dia berbalik, mengamati bangunan besar yang ada di hadapannya. Tidak pernah terlintas di otak Hanna jika dia akan tinggal di rumah sebesar ini bersama seorang laki-laki yang akan menjadi pendampingnya di masa depan.


“Ayo masuk.” Liam mengulurkan tangannya, tersenyum hangat pada Hanna. “Bayi kita bisa masuk angin nanti kalau kamu di luar terus.”


Hanna meraih uluran tangan Liam, mengizinkan Liam menggenggamnya sembari berjalan masuk ke dalam rumah. Rencananya Hanna ingin langsung istirahat, namun ketika mereka melewati sebuah tangga yang mengarah ke bawah, Hanna berhenti. “Waktu itu aku nggak terlalu memperhatikan tangga itu. Apa rumah ini memiliki ruang bawah tanah?”


Liam mengangguk. “Aku nggak terlalu suka tipe rumah bertingkat, tapi aku suka jika rumah ku memiliki ruang bawah tanah. Kesannya misterius dan mewah. Kamu mau melihatnya?”


Hanna melihat jam dinding yang sudah menunjukkan angka sebelas. Kalau hanya melihat-lihat sebentar, sepertinya tidak masalah. “Baiklah.”


Hanna berada di belakang Liam menuruni tangga menuju ruangan bawah tanah. Dia lebih terkejut lagi melihat kemewahan ruangan yang dijadikan Liam sebagai ruang penyimpanan anggur. Terdapat dua buah lemari besar yang dilengkapi dengan rak-rak khusus berisi berbagai macam botol anggur, sebuah meja dan kursi model habitus bar stool yang semuanya memiliki warna cokelat kayu mengkilap, serasi dengan model ruangan itu. Di sana juga dilengkapi televisi layar datar berukuran raksasa, dua buah speaker, dua buah sofa, satu buah ruangan olah raga dan juga ...sebuah kamar.


Bulu kuduk Hanna langsung merinding ketika dia melihat ada sebuah kamar di ruang bawah tanah. Tiba-tiba saja dia membayangkan jika dirinya dan Liam menghabiskan malam di sana setelah menemani Liam menghabiskan segelas anggur. Dan mereka akan....


Hanna, stop. Otakmu benar-benar harus diperbaiki, sungut Hanna.


“Kamu membuat ruang olah raga juga di sini?” Hanna bicara untuk mengusir pikiran sensualnya.


“Mmm.” Liam mengangguk. “Tadinya aku pikir kamu mungkin enggan satu ruangan denganku ketika olah raga, itu sebabnya aku membuatnya di bawah. Jadi kamu bisa bebas berolah raga tanpa merasa terganggu.”


“Aku nggak pernah bilang kamu mengganggu.” Sahut Hanna pelan, namun masih bisa terdengar oleh Liam.


“Maksudmu kamu mau aku dan kamu berolahraga bersama?” Liam meraih pinggang Hanna, membuat Hanna harus menahan dirinya agar tidak menyentuh tubuh Liam.


“Tentu saja nggak..” Hanna melepaskan dirinya lalu berusaha untuk tidak gugup. “..kan aku hanya bilang kamu nggak mengganggu. Itu saja.” Menarik nafas dalam-dalam adalah satu-satunya cara agar Hanna bisa tenang kembali.


“Kamu bermain billiard?” Hanna mengelilingi meja billiard yang terletak di tengah-tengah ruangan itu.


“Aku dan Bobby cukup sering memainkannya. Aku harap kamu nggak keberatan dengan hobby ku itu.”


Tentu saja tidak. Selama itu tidak memancing ketenangan sisi sensual Hanna, Hanna tidak akan keberatan. Dia memilih menjauh dari Liam dengan masuk ke ruang olah raga. Di dalam ruangan olah raga masih terdapat satu ruangan lagi dan ketika Hanna masuk ternyata itu adalah sebuah sauna mini.


“Aku pikir setelah orah raga kita bisa merilekskan tubuh dengan berendam air panas di sini.” ujar Liam.


“Tapi aku nggak bisa menggunakannya selama kehamilanku.” Gumam Hanna. “Kenapa?” Liam mengernyit.


“Suhu panasnya bisa berakibat fatal pada bayi kita. Saat seseorang berendam di sauna, temperatur suhu tubuhnya akan meningkat dan hal itu bisa membahayakan janin dalam kandungan seperti menimbulkan komplikasi bayi cacat lahir, cacat jantung, dan banyak lagi. Apalagi kandunganku masih di trimester satu, masih muda dan rentan.”


“Benarkah? Kamu nggak boleh menggunakannya kalau begitu. Astaga, aku membuat rumah yang berbahaya untukmu.” Gumam Liam dengan wajahnya yang dipenuhi rasa bersalah.


Kamu yang lebih berbahaya, batin Hanna. Bukan berbahaya untuk bayi kita, tapi untuk diriku dan ketenangan pikiranku.


“Kamu mau melihat kamar itu?” ujar Liam tiba-tiba.


Astaga, tolong jangan bawa aku ke sana, pinta Hanna dalam hati. “Boleh.” Menolak berarti dia kalah pada keinginannya sendiri. Liam akan curiga padanya kenapa dia melewatkan satu ruangan itu setelah melakukan inspeksi ke seluruh ruangan.


Sebuah ranjang besar berukuran king size dilengkapi dengan sprai dan selimut yang senada berwarna abu-abu lembut langsung menyambut Hanna ketika pintu terbuka. Kamar itu juga memiliki kamar mandi yang dilengkapi dengan shower dan tub. “Untuk apa kamu membuat kamar di ruang bawah tanah?” Hanna penasaran.


“Aku berpikir mungkin ada kalanya aku minum sampai mabuk. Menaiki tangga mungkin akan beresiko jatuh, aku nggak mau itu terjadi. Jadi aku memutuskan membuat satu buah kamar di sini.”


“Tapi kalau kamu mau tidur di sini bersamaku...itu juga nggak masalah.” Liam mendekati Hanna, mengendus lehernya hingga membuat sekujur bulu kuduk Hanna merinding.


“Liam...” Hanna mendorong Liam menjauh darinya. Wajahnya sudah memerah, jantungnya berdebar cepat, dan keinginannya juga sudah membuncah tapi Hanna tetap ingin mengontrolnya. “...aku sudah bilang kalau...kalau dokter melarang kita untuk..”


“Aku hanya menggodamu.” Potong Liam cepat.


“Jangan menggodaku.” Hanna mengalihkan pandangannya dan meletakkan kedua telapak tangannya di wajahnya. Panas, wajahnya terasa membara hanya dengan sentuhan Liam sekecil itu.


“Liam...” tiba-tiba Hanna merasakan tubuhnya melayang ketika Liam menggendongnya. Dia memekik kecil saat tubuhnya diletakkan ke atas kasur dan Liam berbaring di atas tubuhnya –dengan menghindari perut Hanna agar tidak menindih bayi mereka. Liam menyatukan kedua tangan mereka dengan jemari yang saling bertaut.


“Apa kamu menyesal melakukannya bersamaku?” tanya Liam dengan suara rendahnya.


Hanna mengerjap, masih berusaha mengatur ritme nafasnya. Dia menggeleng pelan. “Karena itu kamu, aku nggak akan menyesal.”


“Baguslah.” Liam tersenyum lalu mencium bibir Hanna lembut.


“Aku juga sama.” Bisiknya.


Bisikan Liam di telinga Hanna, serta tarikan nafasnya membuat darah Hanna mendidih, dia menginginkan Liam demi apa pun.


“Waktu itu sangat menyenangkan, dan itu pengalaman yang nggak akan bisa ku lupakan.”


Hanna setuju. Itu adalah pengalaman pertamanya, baginya hal yang wajar jika dia menjadikannya pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Tapi kalimat barusan didengarnya dari mulut Liam, laki-laki yang hampir tiap malam tidur bersama wanita yang berbeda-beda sebelum bertemu dengannya. Bukankah itu hal yang luar biasa?


“Apa kamu tahu kalau aku selalu menginginkanmu, Han?”


Liam mencium jari-jari Hanna lalu menyesapnya hingga membuat Hanna merasa terguncang dan oleh cara Liam yang terasa menggelitik. Otaknya memerintahkan Hanna untuk menyingkirkan tubuh Liam lalu pergi naik ke kamarnya. Namun jangankan mendorong tubuhnya, mengalihkan pandangan saja Hanna tidak mampu. “Liam...jangan..Kita nggak bisa melakukan ini.”


“Terimakasih untuk hadir dalam kehidupanku Han. Aku berjanji untuk menjagamu selama aku bernafas. Aku nggak akan meninggalkanmu dan bayi kita apa pun yang terjadi.”


Suara Liam terdengar lirih dan Hanna tahu kenapa. Apa lagi kalau bukan pemaksaan pertunangan Liam dengan puteri CEOnya itu dan juga konsekuensi pelanggaran kontraknya. Dengan lembut –untuk menenangkan Liam, Hanna menyapukan ibu jarinya di bibir Liam yang terasa dingin. “Kamu akan baik-baik saja.” –bersamaku.


Liam mengangguk. Dia mennunduk, mencium bibir Hanna lembut lalu perlahan mulai mencecapnya dengan dalam. Semakin dalam hingga tangan Liam perlahan turun membelai lengannya dan merengkuh lehernya. Hanna tidak kuasa menolak. Dia memejamkan mata, menikmati setiap keintiman yang diberikan Liam padanya.


Namun saat tangan Liam kembali menuruni lehernya, Hanna tersentak dan segera menahannya. Dia menggeleng pada Liam walau wajah laki-laki itu terlihat sangat menginginkannya.


Dengan wajah frustasi, Liam membenamkan wajahnya di dada Hanna, berusaha mengontrol keinginan batinnya demi Hanna. Walau bisa dibilang gila, namun Hanna satu-satunya wanita yang bisa menahan Liam dan Liam hanya akan menuruti Hanna begitu saja. Nafas keduanya terdengar memburu, namun lama kelamaan semuanya kembali normal.


“Liam..”


“Berikan aku waktu lima menit.”


Liam memeluk tubuh Hanna, berusaha menyerap kehangatan tubuhnya. Liam suka berbaring di pelukan Hanna, dan seandainya saja Hanna tidak sedang mengandung, dia akan terus menerus berbaring di sana. Setelah hampir sepuluh menit berbaring, Liam bangkit. Dia menatap Hanna yang penuh dengan ekspresi bersalah, lalu mengecup keningnya lembut. Dia menarik Hanna lalu membantunya duduk.


“Ayo, kamu harus istirahat.”