Way Back To You

Way Back To You
Percobaan Pembunuhan



“Han, tolong tinggal di sini sebentar, ada yang mau ku bahas.”


Hanna urung kembali ke ruangannya setelah Bobby menahannya di ruang rapat. Dia tersenyum kecil pada Gita dan Aditia yang pamit padanya untuk meninggalkan. Dia kembali duduk dengan tenang menunggu hingga di ruangan itu tersisa mereka ber empat, termasuk Liam dan Noah. Hanna menarik nafasnya, mencoba tetap rileks dan tidak terpengaruh oleh kehadiran Liam –dan daya tariknya.


“Han, kamu sudah makan siang? Kita makan siang bareng yuk.” Ajak Bobby.


Hanna pikir Bobby akan menanyakan hal seputar keuangan perusahaan padanya karena dia baru saja memberikan laporannya dua hari yang lalu. Dia tidak menyangka, hal yang disangkanya akan dibahas Bobby sangat penting malah tidak ada artinya sama sekali. “Maaf Pak Bobby, saya sibuk.” Hanna berdiri. “Kalau tidak ada yang perlu dibahas, saya akan kembali ke ruangan saya.”


“Hanna..” Bobby mendekatinya namun Hanna refleks melangkah mundur.


Dia tidak ingin berada di dekat Liam dan orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk Bobby. Luka yang dia buat masih berdarah-darah di dada Hanna, jadi tidak mudah bagi Hanna untuk kembali dekat seperti semula pada mereka. Membayangkan betapa konyol dan rendahnya dia di hadapan keduanya seringkali membuat darah Hanna mendidih.


“Ini kantor, jadi saya harap bapak bisa bersikap normal layaknya atasan kepada bawahan. Kalau tidak ada yang penting, saya kembali dulu Pak.”


Hanna berlalu, tidak peduli jika Bobby masih bicara atau tidak. Dia sudah dikhianati Jhon setelah pacaran selama tiga tahun, lalu dia bertemu Liam, namun dia juga sama buruknya –bahkan lebih buruk dengan Jhon. Dia mengalami krisis kepercayaan, bukan hanya pada Liam dan Bobby, namun juga orang-orang di sekitarnya. Dia tidak percaya pada yang namanya cinta, tanggung jawab, atau pengorbanan dalam suatu hubungan sekarang. Tidak ada hal nyata seperti itu.


“Aku sudah mencoba..” Bobby mengangkat pundaknya. “Tapi wanitamu memang tangguh.” Tukasnya lagi.


Liam setuju Hanna adalah wanita tangguh, namun ketangguhan ini yang membuatnya ketar ketir. Dia takut Hanna akan meninggalkannya sebelum semua ini selesai. Dia khawatir, perasaan Hanna padanya akan padam sebelum dia menemukan otak di balik semua mimpi buruk Hanna.


Menjadi Brand Ambassador hanya kedok bagi Liam. Tujuan utamanya adalah menjaga Hanna dari dekat tanpa diketahui oleh orang lain.


Liam menatap ruangan Hanna sekilas saat dia, Bobby dan Noah memutuskan makan di luar bertiga. Hanna sibuk, dia tidak melihat ke arahnya. Rasanya Liam ingin berbelok ke ruangan Hanna, memeluknya di sana dan tidak akan melepaskannya lagi. Tidak cukup kata-kata untuk menggambarkan kerinduan Liam pada Hanna saat ini. Jantungnya berdetak tak karuan saat Hanna berada di sekitarnya, namun dia tidak bisa menjangkaunya.


Rasanya aneh, baru saja beberapa minggu lalu mereka saling bercerita tentang masa depan, namun sekarang mereka dipaksa berpisah sementara oleh keadaan. Liam sudah terbiasa dengan Hanna, dia sudah terbiasa setiap bangun tidur melihat wajah Hanna. Setiap sudut rumah mereka meninggalkan memori tentang Hanna yang begitu melekat kuat. Tapi sekarang, mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.


Jarum di jam tangan yang dikenakan Hanna menunjukkan angka delapan malam. Hanna meregangkan tubuhnya dan lehernya. Tidak terasa dia sudah mengerjakan pekerjaannya hingga malam hari. Ruangannya sudah lengang dan sepi, tidak ada yang lembur bersamanya. Hanna menengok ke luar, sedikit lega ketika lampu di beberapa departemen lain masih menyala. Itu artinya dia tidak sendirian.


Dengan langkah gontai, Hanna menaiki tangga menuju rooftop dengan menenteng roti dan air mineral yang dibelinya dari minimarket di dekat kantor. Di sana, dia duduk sembari menatap ribuan bintang yang bertabur di langit. Dia menatap perutnya yang mulai menonjol dan mengelusnya lembut. “Apa kamu kedinginan? Anginnya cukup kencang, iya kan?”


Hanna menghela nafas panjang. Angin malam yang bertiup sedikit kencang menerbangkan rambutnya. Bohong jika dia mengatakan dia tidak merindukan Liam. Saat melihat Liam, sebenarnya lututnya gemetar ingin memeluk Liam, namun dia sadar jika Liam sudah membuangnya demi egonya sendiri.


Plin plan? Memang benar. Hanna juga setuju dirinya tidak punya pendirian jika sudah menyangkut Liam. Walau berkali-kali disakiti oleh Liam, Hanna juga menyadari jika masih ada satu tempat dalam hatinya yang dihuni oleh Liam, masih ada celah di sana bagi laki-laki itu untuk bisa masuk kembali ke dalam hatinya.


Entah apa daya tarik Liam, entah apa pesonanya sehingga Hanna bisa setengah gila seperti ini.


“Kamu di mana? Aku sudah di depan kantormu.”


Hanna masih diam cukup lama saat Lona bicara dengannya lewat panggilan telepon.


“Han, kamu dengar kan? Aku sudah di bawah.”


Hanna meletakkan kembali roti yang tadinya akan dia makan. Tidak enak membiarkan Lona menunggunya lama. Selama beberapa hari terakhir Lona menjaganya, dia selalu menginap di rumahnya agar dia tidak kesepian dan tidak selalu menangis. Hanna berhutang banyak padanya.


Saat dia memutar tubuh, Hanna mematung. Semua persendiannya lunglai menatap seseorang menggunakan jubah hitam berdiri di depannya, mengawasinya di balik cadar dan kaca mata hitamnya. Hanna beringsut, jantungnya berderap cepat. Sekujur tubuhnya mulai dipenuhi sensasi panas oleh ketakutannya sendiri.


“Ka...Kamu siapa?”


Orang di balik jubah hitam itu tidak menyahut. Dia meregangkan lehernya, lalu mendekat pada Hanna.


“Jangan mendekat..” air mata Hanna menghambur. “Jangan sakiti aku..” Dia memohon.


Hanna terus beringsut mundur perlahan, hingga tubuhnya menempel pada tembok pembatas setinggi satu meter. Hanna mengedarkan pandangannya, mencoba melihat siapa tahu dia bisa mendapat bantuan entah dari siapa pun. Namun siapa yang ada di rooftop gedung bertingkat malam begini? hanya ada dia dan seseorang di hadapannya.


Tangan yang dilengkapi sarung tangan itu mencengkeram leher Hanna kuat. Hanna meringis kesakitan, tubuhnya melengkung mengikuti tinggi pembatas gedung. Dia memukul tangan itu dengan kekuatannya yang semakin berkurang dan berusaha melepas cengkeramannya dari leher Hanna, namun dia tidak bisa melepasnya. Sekarang setengah tubuhnya sudah condong keluar dari tembok pembatas.


Hanna menangis ketakutan. “Ja..jangan...” Dia memohon. Hanna masih terus berusaha hingga handphone dan kantong plastik yang dipegangnya jatuh ke bawah. Dia memang sengaja melakukannya, hanya itu yang bisa dilakukan Hanna, berharap petugas keamanan di bawah atau siapa pun itu melihatnya sedang menghadapi bahaya di atas sini.


“To..long...Jangan..”


Hanna memohon dengan air mata yang terus jatuh menyusuri wajahnya. Dia tidak memohon untuk dirinya sendiri saja, namun juga untuk bayi dalam kandungannya.


Mata Hanna terpejam, tangannya liar mencoba menggapai sesuatu namun tidak bisa. Nafas Hanna mulai tersengal terlebih saat pasokan oksigen semakin melambat menuju otaknya. Suhu tubuh Hanna semakin naik, detak jantungnya berderap tak karuan. Wajah Hanna memutih seputih kapas, perlahan cengkeraman jemarinya dari tangan yang mencekik memenuhi lehernya mulai terlepas –dan lunglai.


Lona yang mondar mandir di depan gedung perkantoran tempat Hanna bekerja terkejut saat ada handphone dan kantong plastik terjatuh nyaris mengenai dia. Seorang petugas keamanan yang berjaga di pos depan juga ikut mendatanginya karena penasaran. Lona menengadah sambil mengumpat, namun dia langsung berteriak histeris melihat seseorang nyaris terjatuh dari atas gedung berlantai dua puluh lima itu.


“Ada orang yang..” dia menunjuk ke atas gedung.


Tunggu, itu seperti Hanna. Lona melihat benda yang terjatuh dan segera mengenali casing handphone Hanna yang sudah hancur. Dia tahu itu milik Hanna, karena dia dan Hanna mengenakan casing couple.


“Nggak mungkin..” Lona menengadah. “Hanna...” pekik Lona panik.


Dia berlari dengan cepat bersama beberapa orang petugas keamanan lainnya. Lona melipat kedua tangannya, harap-harap cemas pada Hanna saat dia sudah berada dalam lift. Lift ini bahkan terasa bergerak sangat lambat hanya untuk mencapai lantai dua puluh empat. Mereka menyerbu keluar saat lift berhenti, namun mereka masih harus menaiki tangga menuju rooftop.


“Hanna...” Lona berteriak histeris, menemukan tubuh Hanna sudah tergolek di lantai.


“Panggil ambulans..”


Teriakan Lona memenuhi setiap sudut tempat itu. Lona menangis tersedu-sedu –ketakutan, menatap Hanna yang memutih bagaikan kapas. Hanna, bertahan. Bertahanlah Han, aku akan menyelamatkanmu. Aku akan menyelamatkanmu. “Hanna bangun....”