Way Back To You

Way Back To You
Melepas Masa Lalu Demi Masa Depan



Saat bertemu kembali dengan Leanor dalam ruangan privat di restoran Silver Bowl, suasana diantara Liam dan Leanor menjadi sedikit canggung. Liam memutuskan untuk menemui Leanor tanpa mau terprovokasi oleh perasaannya kembali. Dia memang sakit hati dengan pengakuan sembarang Leanor tentang identitas Ibu kandungnya. Namun mungkin Leanor punya alasannya dan itulah yang hendak diketahui oleh Liam.


“Silahkan diminum.”


Liam menawarkan minuman yang sudah dipesannya terlebih dahulu sebelum Leanor tiba. Wanita itu terlihat gugup. Wajahnya pucat dan sayu, dan dia terlihat lebih pendiam dibanding terakhir kali mereka bertemu.


“Kamu menyelidiki ku.” Ujar Leanor. Kuku-kuku jarinya memutih karena mencengkeram gelas terlalu kuat -mungkin karena dia terlalu gugup.


Liam menyesap wine, lalu mengangguk. “Benar.”


“Jadi kamu sudah tahu siapa aku?”


Liam kembali mengangguk. “Aku tahu.”


Leanor tersenyum kecut, karena tidak menyangka jika Liam akan bereaksi seperti itu. Leanor kira dia akan baik-baik saja –dan Liam tak akan menyelidikinya, dia akan bebas keluar masuk kehidupan Liam seperti yang dia rencanakan. Namun seharusnya dia sadar kalau Liam bukanlah sosok yang gampang percaya begitu saja.


“Kenapa kamu melakukannya?”


“Aku butuh uang.” Leanor mengangkat wajah. “Penyakit ini kembali menggerogoti tubuhku dan aku tak punya apa-apa lagi sekarang. Laki-laki biadab itu meninggalkanku begitu mengetahui aku sakit parah.”


“Laki-laki biadab?” kening Liam mengerut.


“Suamiku.” Balas Leanor, diikuti anggukan kepala oleh Liam pertanda dia paham.


“Kenapa harus aku?” Liam menyandarkan tubuhnya. “Apa karena kamu mantan orang suruhan Ibuku? Kamu mengetahui ceritaku, mengenaliku lalu memilihku sebagai target?”


“Target terdengar sedikit kasar.” Gumam Leanor. “Aku tak sejahat itu.”


Lalu Leanor menunduk dan tidak bicara untuk waktu yang lama. Liam pun sama. Dia tidak banyak bicara karena yang dia inginkan, Leanor mengatakan semuanya sendiri.


“Aku akui, aku melihat beritamu waktu itu..”


Tepat sekali. Dugaan Liam pun sama. Leanor pasti mengetahui Liam dari berita waktu itu, saat Gita menyekap Hanna dan berakhir dengan konferensi pers yang dia lakukan. Pengakuan Liam waktu itu pasti langsung membuat Leanor teringat pada masa lalu dan memanfaatkannya.


“..saat kamu mengatakan jika kamu bukan anak kandung keluarga Andrews dan kamu diadopsi dari panti asuhan, aku langsung mengenali wajahmu. Dan..dan saat itu, entah kenapa ide untuk memanfaatkan situasimu muncul di kepalaku..” Leanor menarik nafas dalam-dalam.


“Tapi itu tidak direncanakan. Memang ide itu datang tiba-tiba, dan aku didesak oleh keadaan keuanganku sendiri. Aku..aku tidak punya pilihan lain. Maafkan aku.”


“Kamu tahu, seandainya kamu mengatakan hal yang sebenarnya tanpa mengaku-ngaku jika kamu adalah Ibuku, aku akan membantumu dengan senang hati.” Ujar Liam. “Tapi kamu menyakiti perasaanku terlebih dahulu, membuat luka masa kanak-kanakku kembali terbuka. Itu yang membuatku sakit hati.”


“Aku tidak tahu jika kamu sangat terluka di masa lalu.” Air mata Leanor meluncur. “Maafkan aku.”


Liam tahu kali ini Leanor tidak berbohong. Air mata itu benar-benar air mata penyesalan dan Liam tidak mau menahan diri lagi. Dia dan Hanna sudah berjanji untuk tidak lagi terikat dan terpengaruh pada masa lalunya. Liam tak akan mengizinkan masa lalunya merusak masa depannya kelak.


“Kamu bisa menghubungi manager ku..” Liam meletakkan sebuah kartu nama di hadapan Leanor. “Aku akan berusaha sebisaku untuk membantumu. Jangan khawatir.”


Leanor mengangkat wajah, terlihat tidak percaya dengan apa yang diucapkan Liam. “Benarkah?” dia terlihat ragu-ragu.


Liam mengangguk. “Terimakasih banyak sudah membantu Ibuku melewati masa-masa sulitnya.”


Leanor menangis sesenggukan. Dia mencium kartu nama yang diberikan Liam beberapa kali sambil terus mengucapkan terima kasih.


“Liam...” dia menghapus air matanya. “..semoga kamu selalu bahagia. Terimakasih banyak sudah membantuku.”


Liam tersenyum, lalu beranjak meninggakan Leanor yang masih terus mengucapkan kata terimakasih dari mulutnya.


Hanna mengatakan jika dirinya harus memaafkan semua orang yang terlibat di masa lalunya. Wanitanya itu berkata jika sebenarnya memaafkan itu dilakukan bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri agar dia bisa menjadi lebih baik dan lebih ikhlas menjalani kehidupan.


Dan ternyata Hanna benar. Saat meninggalkan Silver Bowl, ada perasaan lega dalam diri Liam. Entah bagaimana cara mengatakannya, tapi Liam seperti lahir kembali, tanpa beban dan luka apa pun. Tiba-tiba saja dia merasa kalau kehidupannya sangat berarti dan menyenangkan.


Saat Liam akhirnya tiba di rumah, dia mendapati Hanna sedang tertidur di sofa. Televisi layar lebar di depannya menyala, serial dokumenter kesukaan Hanna sedang tayang meski tak ada yang menonton. Mendengar ritme nafas Hanna, Liam menduga Hanna sudah lama tidur. Dia juga mengatakan jika akhir-akhir ini Hanna cenderung cepat lelah dan mengantuk, mungkin karena pengaruh usia kehamilannya yang semakin bertambah.


“Hei.” Liam jongkok di samping Hanna dan mencium rambut Hanna.


Dia menyibak piyama Hanna untuk mencium perutnya. “Ayah pulang.” Bisiknya tepat di perut Hanna.


Hanna yang masih mengantuk, memaksa membuka kelopak matanya yang berat. Dia fokus menatap Liam, dan saat Liam tersenyum padanya, Hanna pun menyunggingkan senyumnya. “Akhirnya kamu pulang juga.”


Liam mengangguk, kemudian mencium perut Hanna sekali lagi dan mengusapnya lembut. “Maaf kalau aku pulang agak larut.”


“Bagaimana pembicaraan kalian? Apa Leanor mengatakan sesuatu?”


Liam menggeleng. Dia merapikan kembali piyama Hanna sebelum duduk di sofa. Liam mengangkat kepala Hanna, lalu meletakkannya di atas pahanya. “Dia hanya mengatakan jika dia memang membutuhkan uang untuk biaya pengobatannya. Selebihnya, tidak ada.”


“Lalu?”


“Lalu... aku memberinya kartu nama Noah. Aku sudah bicara dengan Noah sebelum berangkat ke sana karena aku tahu dia menemuiku demi uang dan dia akan membantu biaya pengobatan Leanor.”


“Semudah itu?” Hanna mengerjap.


Liam tersenyum, mengusap rambut wangi apricot Hanna sembari mengernyit. “Apanya yang mudah?”


“Aku pikir kalian akan berdebat hebat dan kamu tidak akan memberi dia sepeser pun. Maksudku, bagaimana pun juga dia sudah menipumu, bukan?”


“Tadinya aku berpikiran seperti itu. Tapi setelah ku pikir-pikir, dia adalah orang suruhan Ibuku. Itu artinya dalam kesusahan ibuku, dia pasti ada membantunya. Jadi aku lebih memilih menanggalkan rasa sakit hatiku. Alih-alih membencinya, aku rasa lebih tepat untuk membantunya saat ini.”


Hanna menatap Liam dengan penuh haru. Ada rasa bangga dalam diri Hanna karena melihat kedewasaan Liam yang bertumbuh sangat banyak. Dari Liam yang gengsian dan merasa tak ada yang bisa menghalanginya, dari Liam yang kekanak-kanakan, berubah menjadi Liam yang penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Dan Hanna bersyukur menjadi wanita yang menyaksikan hal itu semua.


"Terimakasih banyak Han, sudah menunjukkan jalan yang membebaskanku dari semua kesulitan yang ku hadapi." gumam Liam pelan. "Dulu, aku pikir aku tidak akan bisa lepas dari masa laluku, menjadikan semua wanita pelampiasanku seolah-olah aku ini pihak yang paling tersakiti. Tapi berkat kamu, aku bisa berubah. Benar yang kamu bilang, ternyata memaafkan itu untuk diriku sendiri. Jadi.." Liam menunduk, mencium lembut bibir Hanna. "Terimakasih banyak sudah hadir dalam hidupku Han."


"Sama-sama." Hanna membalas ciuman Liam. "Aku juga bersyukur bisa memilikimu dalam hidupku."


Liam mencium Hanna lebih dalam, mengalirkan tetesan kehangatan dan cinta yang dia punya untuk Hanna.


“Oh iya satu lagi.” Liam menatap Hanna penuh cinta. “Noah sudah mengurus semua keperluan untuk pernikahan kita. Karena kamu tidak terlalu menyukai keramaian, aku rasa kita akan menggelar pernikahan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat. Itu sebabnya aku ingin memintamu mencatat siapa saja orang terdekat yang akan kamu undang.”


Hanna mendesah, lalu duduk di samping Liam. Dia menatap Liam dengan tatapan penuh selidik, seolah-olah dia hendak mengintimidasi Liam namun sesekali senyum juga mengambang di wajahnya.


“Apa?” sahut Liam bingung.


“Aku pikir kamu melewatkan sesuatu.” Ujar Hanna sembari mengerling.


“Sesuatu? Apa?”


Hanna menarik nafas. “Kedua orang tuaku.”