
“Omong kosong apa yang kamu bicarakan?” Hanna meradang setelah mendengar semua kebohongan yang dikatakan oleh Jhon.
“Han, kenapa kamu mengatakanku bohong? Kita memang melakukannya kan..”
“Tutup mulutmu..” Hanna berteriak, wajahnya memerah, emosinya membuncah.
“Han, tenang dulu. Kita akan bicara di ruanganku, jangan di sini.” Bobby menenangkan Hanna.
“Bicara? Apa yang harus dibicarakan? Dia bohong Bob. Dia..” Hanna menatap Liam yang sedari tadi masih terdiam, tidak mengatakan apa pun, tidak membelanya seperti biasa.
“Liam..”
“Kita bicara di ruangan Bobby saja.” Potong Liam cepat dan sedikit terdengar ketus.
Hanna mematung. Cara Liam menyela pembicaraannya membuat hatinya dipenuhi perasaan yang tercampur aduk. Apalagi ketika dia melangkah lebih dulu bersama Bobby, meninggalkannya sendiri. Hanna menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri dan memberi sugesti kalau Liam sedikit ketus seperti itu karena kelelahan.
Jhon tersenyum mengejek. Dia berlalu dari hadapan Hanna sembari mengerlingkan mata. Tidak ingin terlihat menyedihkan, Hanna pun menyusul ketiganya.
“Katakan, apa maksudmu?”
Bobby menutup pintu dan juga tirai saat mereka sudah berada di ruangannya. Jhon dengan santai -dan tidak tahu diri duduk di kursi sembari menaikkan kakinya ke atas meja.
“Dia anakku. Maksudku apa, kalian pasti tahu.”
Anak apa yang sebenarnya dibicarakan laki-laki ini? Kenapa dia malah mabuk walau tidak sedang minum? “Jhon, berhenti bicara omong kosong..” Hanna mendekat. “Aku nggak pernah tidur denganmu, jadi berhenti mengacau.” Sorot mata Hanna tajam, sendu, dipenuhi kesedihan dan kekecewaan juga kebingungan.
“Han..sayang..” Jhon berdiri, meraih tangan Hanna dan dengan cepat Hanna melepasnya dengan perasaan jijik. “..kenapa kamu memaksakan jika anak itu adalah anak Bobby? Jelas-jelas itu anak kita. Apa karena Bobby memiliki harta yang lebih banyak dariku?”
Harta? Apa yang sebenarnya diinginkan laki-laki sialan ini dariku? Apa dia sedang berusaha membalas dendam padaku karena aku menolaknya? Dia memanfaatkan moment ini untuk membalasku? “Apa yang kamu inginkan sebenarnya?”
Jhon berdiri, mendekati Hanna. “Aku menginginkanmu dan bayi kita itu. Sejak awal kamu adalah milikku, dan akan kembali padaku apa pun yang terjadi. Aku datang baik-baik dengan niat untuk bertanggung jawab.”
“Kamu gila..” seru Hanna datar. Pundaknya naik turun karena amarah sudah tidak bisa lagi dia kendalikan. Kali ini dia benar-benar membuat kesabaran Hanna habis. “Pergilah ke neraka, sialan.”
“Hanna, baby, jangan mengumpat ketika hamil. Anak kita akan mengikutimu nanti.” Jhon mencoba mengelus perut Hanna, namun Hanna langsung menjauh.
“Jaga tanganmu.” Hanna menunjuk Jhon dengan jari telunjuknya. Merasa dipermainkan Jhon, Hanna menoleh pada dua orang laki-laki di ruangan itu yang hanya diam di tempat -melihat dan menyaksikan tanpa berbuat apa pun. Air mata Hanna mengalir, hatinya benar-benar kacau dan sakit.
“Kenapa kalian mengizinkannya memperlakukanku seperti itu?”
Senyap. Hanna tidak mendengar apa pun dari mulut Liam. Hanna menertawakan dirinya sendiri yang diperlakukan seperti komedi putar di tengah-tengah mereka.
“Sudah ku bilang hanya aku yang peduli padamu dan bayi kita itu..”
“Tutup mulutmu..” Hanna kembali berteriak, kali ini sembari memegang perutnya yang sedikit mulas.
Hanna membungkuk, mencoba menenangkan dirinya –menunggu Liam meraih tubuhnya. Kenapa? Kenapa kamu mengabaikanku Liam? Hanna berdiri dengan tegak, menatap Jhon tajam. “Kamu punya bukti apa jika kita pernah tidur bersama?” Hanna sangat yakin dia tidak memiliki bukti apa pun. Dia percaya diri karena semesta juga tahu dia tidak pernah tidur dengan Jhon, tidak sekalipun.
“Kamu menyepelekanku? Sayang, itu sebabnya aku datang terakhir kali padamu waktu itu, tapi bos mu malah mengusirku.”
Jhon mengeluarkan handhonenya, memutar sebuah video syur dua orang insan dan wanita nya adalah..
Hanna mematung, merampas handphone Jhon dan melihatnya lekat-lekat. Dia bahkan tidak bisa menolak saat Liam meraih handphone Jhon dari tangannya karena dia masih shock. Kenapa dia ada di sana? Kenapa dia bisa melakukan hubungan intim dengan Jhon? Kenapa ada dia?
Tidak. Ini salah. Ini semua hanya video editan. Tidak mungkin ada dia di sana.
“Hanna..” Bobby mencoba menenangkan Hanna.
“Liam..” air mata Hanna berderai, mencoba meraih tangan Liam. “Percaya padaku, itu bukan aku. Kamu mengenalku bukan? Itu bukan aku, percayalah..”
Sepi. Hanna hanya bisa mendengar suara isakan yang keluar dari mulutnya sendiri. Sakit, sangat sakit. Hanna harus berjuang sendiri membela harga dirinya di depan orang yang pernah mengatakan jika dia sangat mencintai Hanna. Hanna mendekat, berdiri di hadapan Liam dengan wajah memerah dan air mata yang mengalir tak henti-hentinya. “Jangan bilang kamu percaya dengan apa yang dikatakannya..” Hanna menatap Liam dengan putus asa.
Liam hanya diam. Fakta bahwa Jhon adalah mantan Hanna membuatnya sedikit....ragu. Memang Hanna baru pertama kali melakukan hubungan intim dengannya, tapi bagaimana dengan setelah itu? Bisa jadi Hanna juga sedang mabuk, lalu mendatangi Jhon dan mereka..
“Aku kecewa padamu..”
Hanna memilih pergi meninggalkan Liam, sosok yang sudah sepenuhnya dipercaya oleh Hanna. “Baby kamu mau ke mana?” Jhon menangkap tangan Hanna, namun Hanna kembali menepis.
Namun sayang, kaki Hanna terpeleset hingga dia limbung dan jatuh. Liam tersentak, dengan cepat berlari menolong Hanna namun Hanna malah mendorongnya. Hati Hanna terlanjur sakit ketika dia mengetahui Liam tidak mempercayainya, tidak sedikitpun.
“Hanna..”
“Jangan sentuh aku..”
Hanna menatap Liam dingin. Dia mengelus perutnya, dan mencoba berdiri dengan caranya sendiri.
“Aku pikir aku benar-benar tidak punya alasan lagi untuk meninggalkanmu, ternyata aku salah. Hari ini kamu kembali membuktikan dirimu jika kamu memang seperti ini adanya. Setelah ku pikir-pikir, kamu sama seperti rumput yang bergoyang mengikuti arah angin. Kamu tidak bisa bertahan dengan apa yang sudah kamu tentukan. Jika ada gesekan sedikit saja, kamu akan goyah. Laki-laki sepertimu..tidak pantas menjadi pendampingku.”
Setelah itu dia berlalu, meninggalkan ruangan itu dengan penuh air mata.
*
“Han, sudah dong, jangan menangis terus..”
Lona mencoba membujuk Hanna yang langsung menangis tersedu-sedu setelah dia tiba di apartemen Lona. Hanna bahkan belum mengatakan apa pun namun air matanya terus saja mengucur. Lona tidak paham apa yang terjadi, seharusnya pelakunya kali ini bukan Liam karena hubungan mereka sedang manis-manisnya saat ini. Atau ini karena hal yang kurang menyenangkan akhir-akhir ini?
“Kalau kamu terus menangis, aku nggak tahu harus bagaimana. Kenapa? Cerita dulu baru nanti menangis lagi.” Bujuk Lona.
Hanna menatap Lona dengan tatapan sendu, mencoba bicara, namun air matanya kembali tumpah. Lona mendesah. Dia tahu tabiat Hanna, jika dia sedih dia memang harus menangis sampai isi hatinya terpuaskan. Namun saat ini dia sedang mengandung. Bagaimana jika kandungannya kenapa-kenapa?
“Okay..” Lona berdiri. “Kalau kamu sudah siap untuk bicara, temui aku di ruang baca. Aku akan meninggalkanmu di sini. Ingat, puaskan sekarang menangis, tapi nanti jangan menangis lagi.”
Hanna masih bungkam, belum mampu untuk bicara. Lona meninggalkan Hanna sendirian di ruang tamu. Sebelum masuk ke ruang baca, Lona kembali menoleh. Sahabatnya itu duduk di lantai, dengan kedua kaki ditekuk dan dia memeluk dirinya sendiri.
Tak lama, kepala Hanna menyembul di antara pintu yang terbuka sedikit. Lona meletakkan buku yang dibacanya, tersenyum menyambut Hanna dan memeluknya erat. “Sudah lebih baik?” dia merapikan rambut Hanna.
Hanna mengangguk. Dia melepas pelukannya dari Lona, menarik nafasnya dalam dan mencoba tersenyum. “Kamu mau cerita apa yang terjadi?”
“Jhon datang ke kantorku untuk mengacau. Dia bilang...” Hanna menutup matanya. “..anak dalam kandunganku ini anaknya.”
“What? Anaknya? Dia gila apa?” Lona terkejut bukan main.
Akan lebih menyenangkan jika Jhon gila. Setidaknya dia tidak harus ambil pusing dengan apa yang dikatakannya. “Aku juga berharap dia gila.” Gumam Hanna.
“Lalu kenapa kamu menangis hanya karena laki-laki tak tahu diri itu?”
“Aku menangis bukan karena dia..” Hanna menatap Lona dalam. “..namun karena Liam percaya padanya.”