
“Kenapa ada banyak wartawan?”
Liam menatap ke luar dari rumah Gita –rumah pertama yang mereka datangi. Bobby menggeleng, dia memang tidak tahu menahu soal kedatangan wartawan karena dia hanya menelepon teman polisinya untuk datang, bukan turut mengundang wartawan. Mereka mengintip dari celah jendela dan melihat bagaimana mereka mengerumuni tubuh Jhon yang dimasukkan ke dalam ambulans. Belum lagi saat Gita diboyong, dari dalam rumah mereka bisa mendengar ratusan bunyi klik dari kamera-kamera mereka.
“Sial..” desis Liam.
Baru saja mereka terlepas dari satu masalah, namun sekarang malah dihadapkan pada masalah yang tak kalah berat. Liam tidak sedang memikirkan dirinya atau kariernya karena demi Hanna dia sudah masa bodoh dengan semua itu. Dia hanya khawatir pada Hanna, khawatir jika kamera-kamera jahat itu menangkap wajah Hanna dan menyebarkannya, lalu kehidupan Hanna akan kembali diobrak abrik. Liam sama sekali belum menyadari tentang adanya siaran live dalam ruangan itu.
“Astaga..” pekik Lona.
Dia menunjukkan handphone nya pada Liam. Siaran langsung dari handphone Jhon masih terus berlangsung, dan sekarang menunjukkan beberapa orang kepolisan yang tengah menyisir ruangan itu, hingga seorang polisi mendekati handphone dan mematikannya. Liam mematung, nafasnya nyaris berhenti. Itu berarti sedari tadi mereka dilihat oleh dunia dan artinya mereka sudah tahu siapa Hanna.
“Ini nggak benar..” Liam menggeleng. Hanna masih meringkuk di pelukan Liam dengan tubuh kaku dan nafas putus-putus karena shock. Dan Liam tidak ingin menimbulkan masalah lain pada Hanna karena demi apa pun, Hanna sudah terlalu banyak mengalami hal menyeramkan akhir-akhir ini.
“Apa kamu sadar terowongan ini mengarah pada rumah yang kita curigai waktu itu?” Bobby mendekati Liam.
Liam tidak menyahut, dia masih bingung harus melakukan apa dan dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal selain menyelamatkan Hanna dari kepungan para pemburu berita itu.
“Liam, apa kamu mendengarku?”
“Ya.” seru Liam.
“Orang-orang mu masih di sana dan rumah itu terletak di paling ujung tempat ini. Orang-orang nggak akan menyadarinya. Menurutku, lebih baik kita keluar dari sana dan suruh orangmu menyiapkan kendaraan.”
Astaga, kenapa tidak terpikir olehnya cara ini? Bobby benar. Orang-orang hanya mengerumuni rumah pertama yang mereka masuki tanpa tahu jika lokasi kejadiannya berada seratus meter dari mereka. Di sana pasti tidak ada orang.
“Ide bagus Bob, thanks.”
Liam membimbing Hanna kembali melewat terowongan dan tubuh Hanna bergetar, dia kembali ketakutan. Liam memeluknya beberapa saat dan setelah Hanna berhasil tenang, dia melepas pelukannya dan menatap Hanna. “Hanya ini jalan keluar yang aman satu-satunya Han. Bertahanlah, kamu pasti bisa melewatinya kembali.”
Saat mereka kembali tiba di rumah lokasi kejadian, Liam menutup mata Hanna saat melewati ruang tamu, ruangan di mana dia disekap. Pintu depan sudah dibuka paksa oleh orang-orang Liam dan dengan mudah mereka masuk ke dalam mobil yang sudah tersedia. Tidak ada siapa-siapa di sana namun mereka bisa melihat kerumunan orang-orang yang memadati rumah Gita.
Sepanjang perjalanan pulang, Liam terus menggenggam tangan Hanna, saat wanitanya itu masih sangat shock. Tangannya dingin, tubuhnya gemetar dan kaku, nafasnya berat dan bahkan Liam bisa mendengar Hanna seperti berusaha mengambil udara lewat mulutnya.
Hanna menggeleng. Dia sesak nafas, dia mual, dia shock berat. Noda darah masih menempel di pakaiannya dan dia masih bisa mencium bau anyir dari noda di wajahnya walau sudah dibersihkan oleh Lona. Air mata Hanna meleleh, dia berusaha merobek pakaiannya yang terkena darah. Semakin dia kesulitan merobeknya, semakin mual perutnya. Dia histeris, menangis tersedu-sedu.
“Hei, Hanna..Hanna..Kenapa?” Liam memegangi tangan Hanna yang histeris tiba-tiba.
Bobby dan Lona yang duduk di kursi depan juga tampak kaget dan Bobby memilih menepikan mobilnya saat Hanna mulai histeris tak terkontrol.
“Aku nggak mau.. Darah ini...” Hanna masih berusaha menyobeknya.
“Oke..oke. kamu bisa menggantinya..” Liam membuka jaketnya, lalu kemejanya. Dia menatap Bobby, memberi kode padanya untuk keluar mobil dan Bobby mengangguk.
“Dengar, baby..” Liam meletakkan kemejanya di pangkuan Hanna. “Ganti pakaianmu, Lona akan membantumu memakaikan kemeja ini. Jangan khawatir, kita akan membuangnya." Semuanya sudah selesai Han, semuanya sudah selesai.
Liam mengelus wajah Hanna, menciumnya sebelum dia dan Bobby turun. Lona masuk dan duduk di samping Hanna –masih dengan air mata yang mengucur, dia membuka kemeja yang dipakai oleh Hanna. Sesekali dia menatap Hanna dalam air mata yang sama banyaknya dengan air mata Hanna. Kedua wanita itu sama-sama sesenggukan, dan setelah selesai memakaikan pakaian Hanna, Lona memeluk Hanna dan mencium pipinya.
Lona menyerahkan pakaian Hanna yang berlumuran darah pada Liam. “Mau diapakan pakaian ini?”
“Polisi mungkin akan membutuhkannya. Tapi karena Hanna sedang hamil dan penciumannya semakin tajam, kita nggak bisa menyimpannya di dalam. Taroh di bagasi saja.” Liam memasukkan pakaian bekas Hanna ke dalam bagasi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Hanna tidak mau melepaskan dirinya dari pelukan Liam. Matanya terpejam dan dia tertidur di dada Liam yang hangat dan aman. Dia bermimpi tentang padang rumput ilalang hijau yang luas, sebuah sungai bening dengan arus yang tenang mengalir di tengahnya. Awan berarak rapi, sesekali menampakkan langit biru yang bersih. Hanna berjalan seorang diri di sana, membelai ilalang setinggi pinggangnya itu dengan telapak tangannya sembari terus melangkah. Rasanya sangat damai, tenang dan seperti di surga.
*
Liam menggendong Hanna dengan hati-hati dan meletakkannya di atas kasur berukuran king size sementara Lona membantu menyelimuti tubuh Hanna dengan selimut. Setelah itu dia dan Bobby meninggalkan Liam dan Hanna di sana berdua. Hanna tertidur karena lelah, kaget dan shock. Liam duduk di sisi Hanna, meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Sesekali Liam mengelus wajah Hanna lalu menunduk untuk mencium keningnya. “Semuanya sudah berakhir, baby. Semuanya sudah selesai. Kamu akan baik-baik saja sekarang.”
Liam tidak bisa memungkiri jika ada sedikit penyesalan dalam dadanya karena dia lah akar dari semua permasalahan ini. Jika dia tidak bertemu dengan Hanna, jika dia tidak melakukan hubungan badan dengan Hanna dan jika Hanna tidak mengandung, maka saat ini Hanna akan baik-baik saja di dunianya sendiri, sedang melakukan apa yang dia sukai.
Namun dia juga mengakui jika Hanna sudah mengubah dunianya, mengubah cara pandangnya terhadap apa yang namanya sebuah ikatan keluarga. Dia yang nyaris membenci wanita karena ulah ibu kandungnya yang membuangnya, berkat Hanna perasaannya pulih dan lukanya perlahan sembuh.
Tidak ada hal yang bisa mengubah masa lalu. Yang bisa dia lakukan hanyalah menjaga Hanna dan mencintainya lebih besar lagi. Hanna sudah menderita karenanya, bahkan beberapa kali hampir kehilangan nyawa. Tidak boleh ada kata menyesal lagi dalam dirinya karena Hanna sudah berkorban banyak hal sejauh ini.
Hanna adalah cahayanya saat ini dan dia tidak akan mengizinkan apa pun untuk membuat cahayanya redup.